Di Mana Ada “Hidden Paradise” ?


20151108

Day Tripper//embedr.flickr.com/assets/client-code.js

Beberapa kali di salah satu fanpage di Facebook yang isinya tentang wisata di sebuah kota, ada postingan tentang “hidden paradise”. Dua kali hidden paradise yang diposting itu berupa pantai di Gunungkidul, sebelumnya kalau tidak salah pernah juga berupa curug atau air terjun di Kulon Progo. Itu yang aku pernah melihat dan membaca sendiri postingannya, entah sebelumnya sudah ada berapa kali postingan tentang hidden paradise atau hidden beach, atau hidden yang lainnya.

Sebenarnya, aku jadi nggumun sendiri. Sebenarnya pengelola (baca : admin) fanpage itu tahu nggak ya makna kata “hidden” itu? Kalau diartikan sih ya artinya “tersembunyi” alias ndhelik kalau di bahasa Jawa. “Tersembunyi” bisa diartikan jarang diketahui orang atau belum diketahui orang. Nah, apa yang bisa didapat dari mendatangi tempat yang menurut mereka masih hidden itu? Tentu saja privasi, pantai atau tempat itu serasa milik sendiri. Nah, antara kata hidden dengan yang dilakukan orang-orang yang mem-posting foto (dan bukan cuma pengelola fanpage itu saja) menurutku kok kontradiktif alias berlawanan ya… Mereka merasa bahwa tempat yang mereka kunjungi itu masih perawan atau hidden, tapi postingan mereka di media sosial bakal (bisa jadi) dengan drastis mengubah tempat hidden yang mereka datangi itu. Mereka membangga-banggakan akan ke-hidden-an tempat itu, tapi mereka mengumbar gambarnya dengan bebas ke khalayak ramai. Ya, kontradiktif itu tadi.

Memang betul bahwa dengan berkembangnya sebuah tempat menjadi tujuan wisata baru, akan mendatangkan kenaikan pendapatan bagi warga sekitar. Tapi yang perlu diingat, hal yang sederhana sebenarnya, orang Indonesia itu kebanyakan masih malas untuk membuang sampah pada tempatnya. Jadi? Ya ditebak saja. Ada pantai baru, alias jadi objek wisata (komersial) baru. Orang-orang berdatangan, tapi sampah juga makin banyak. Lingkungan semula yang dulunya berupa tebing berbatu, rumput-rumput liar masih menutupi muka tanahnya, batu-batuan besar masih menghalangi jalan setapak, lama kelamaan akan tergusur dengan bangunan gazebo, warung makan, dan (parahnya) resort.

Ya ditunggu saja, kata hidden itu akan bertahan seberapa lama lagi. Sepertinya kok ya nggak sampai lima tahun, tempat itu sudah jadi public, bukan lagi hidden. Dan keasrian dan kealamian tempat itu akan sama sekali berubah.

*Foto di atas berlokasi di Pantai Siung, Gunungkidul. Pantai yang dulu di tahun 2003-2004 jalanan menuju ke sana masih jalan aspal apa adanya, tapi di pantainya masih banyak biota yang “hidup”. Rumput laut merah, ganggang hijau, siput laut, kerang, dan yang menarik, dulu masih ada siput laut telanjang yang besarnya hampir sebesar telapak tangan orang dewasa. Sekarang, di pantainya masih ada ganggang hijau, sedikit rumput laut merah, tapi sudah tidak ditemukan kerang, siput yang masih hidup. Yang ada hanya cangkang-cangkang kerang atau siput. Dan pemandangan yang ada hanyalah “coklat”, tak lagi “berwarna-warni” seperti dulu.

4 thoughts on “Di Mana Ada “Hidden Paradise” ?

  1. semua yang berjudul hidden bikin penasarn soalnya, mas. begitulah resikonya hehe

    eh saya pertamakali ke Siung kalo ga salah taun 2010 jeh..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s