Tentang / Babagan / About

20120301 [edited]

Dulu, saya sepertinya telat untuk bisa naik sepeda jika dibandingkan dengan teman-teman sepermainan waktu kecil. Saya baru bisa lancar naik sepeda kira-kira waktu kelas 4 atau 5 SD. Itu pun sering diejek dan dibilang “kok belum bisa naik sepeda Federal?” (karena saat itu sepeda yang paling populer adalah merk Federal; sekarang pun mewabah lagi).

Kata bapakku dulu, boleh naik sepeda kalau sudah SMP. Dan memang begitulah adanya. Sekitar pertengahan kelas 1 SMP, sekitar tahun 2002, aku boleh naik sepeda untuk pulang-pergi ke sekolah. Aku memakai sepeda merk A-Pro, dengan warna merah. Memang tak seterkenal Federal namanya, tapi biarlah, bapak sudah membolehkanku naik sepeda ini.

Belum kenal betul yang namanya sepeda. Saat itu bisanya cuma naik sepeda, kalau ada yang rusak ya kurang tahu bagian sepeda mana yang salah atau kurang pas. Yang tahu kalau bannya gembos, lantas dipompa saja. Dan sampai SMA kelas 1 pun masih tetap sama.

Sepeda A-Pro warna merah, dengan 2 tempat botol minum, stem Master, handlebar flat aluminium tanpa merk, rem cantilever tanpa merk, crank Shimano Deore Biopace, shifter Shimano 200GS, front derailleur SunRace, rear derailleur SunRace, pedal Well-Go, bottom bracket Shimano, hub depan dan belakang Shimano Parallax STX, velg Rigida (masih Made in France) 32 holes. Detail itu baru saya tahu belakangan ini, setelah terkena candu bersepeda.

Ya itulah, SMP dan awal SMA masih bersepeda, sebelum kemudian kenal dengan yang namanya motor, hingga memulai lagi berkenalan kembali dengan sepeda pada 2008, dan berlanjut hingga sekarang.

Merdeka!!

11 thoughts on “Tentang / Babagan / About

  1. good job mas brindhil, aduh jd pngen nih pnya blog aq dulu pernah punya blog tpi g bsa nerusin cz aq d buatin tmen…

  2. Mantaps… bangets…. sambil baca bisa sambil mbayangke dolan… membaca tetapi serasa ikut touring juga….

  3. ih, aku dan Ranz juga punya foto di Kaliurang waktu hutannya gundul, kayak di fotomu ini.
    pertama kali aku dan Ranz mencoba bersepeda dari kota ke kota, kemudian mencoba nanjak Kaliurang yang delapan bulan sebelumnya ‘diamuk’ gunung Merapi. melihat Kalurang gundul begitu rasanya pengen nangis ngguguk, mengingat dulu hijau subur.

    sekarang, Kaliurang sudah seperti apa yaaa?

    • Belum tentu sebulan sekali ngepit ke Kaliurang. Kalo sampai Kaliurang pun cuma sampai persimpangan yang ada patung urang itu. Jadi ya kurang tau di Plawangan sekarang kayak apa wujudnya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s