Sempolan, Semalam Serasa di Rumah Nenek


Between The Road and The RiverPemandangan di Jatiroto, di antara Lumajang – Jember (Sony Ericsson J105i; 2 MP).

20171218

“Pekerjaan menulis hanya bisa dirampungkan dengan menulis.” Kalimat itu pernah terdengar dari Kak Elzha; tapi kalau tidak salah, aslinya dari Mas Mumuk.

Oke, baiklah. Demi bertambahnya artikel di blog, dan demi cerita perjalanan agar tidak menguap begitu saja…

—– —– —– —– —–

Hari kedua bersepeda, setelah sehari sebelumnya diawali di Sidoarjo. Setelah pamitan dengan sang tuan rumah malam itu, Pak Sariham, saya pun meneruskan kayuhan sepeda ke arah selatan, arah Lumajang.

Berbekal Google Maps (yang saat itu masih dari Sony Ericsson J105i) dan mengamati papan petunjuk arah di sepanjang jalan, baru saya tahu kalau ternyata tidak melewati kota Lumajang. Jalanan mulai beralih arah ke arah timur, melewati jalan raya di sepanjang sungai Bondoyudo, dengan pemandangan yang menyejukkan, meskipun sesekali ‘disombongi’ oleh bus antar kota…

Kota besar berikutnya adalah Jember. Setelah mengunggah satu foto ke grup MTB Federal, ternyata ada beberapa respon yang menarik. Bahkan, salah satunya langsung meng-inboks atau PM. Mas Huda namanya. Katanya, kalau kira-kira kurang 10 km dari Jember, coba untuk memberi kabar lagi.

Dan benar saja. Tidak jauh sebelum sampai di sebuah tahura sebelum masuk kota Jember, Mas Huda sudah menunggu di tepi jalan, dan kemudian mengajak istirahat siang di dalam tahura itu.

Mungkin saat itu menjelang tengah hari, dan jadi waktu yang tepat untuk istirahat sambil melewatkan siang. Kami berdua ngobrol lumayan lama, mungkin hampir 1,5 jam. Sambil ngobrol, beliau juga iseng ngabari teman-teman Federalist Jember yang lain. Saya pun membuka Facebook dan membalas komentar-komentar yang sudah muncul.

Setelah beberapa saat, berteduh, nyruput minuman, dan berbalas komentar, Mas Huda bilang bahwa Pak Adi (Supriono) sudah menunggu kalau saya nanti sampai di pusat kota Jember. Saya lalu pamitan dengan Mas Huda dan melanjutkan kayuhan ke timur.

Alun-alun Jember ternyata tak terlalu jauh dari tempat saya bertemu Mas Huda, sekitar 8 km. Universitas Jember letaknya juga cukup dekat dengan Alun-alun. Sampai di timur Alun-alun, saya menunggu Pak Adi datang. Dan ternyata tidak lama, Pak Adi muncul dan langsung mengajak ke ‘maart-maart’ terdekat (hahaa, nanti dikira iklan).

Sebelumnya sudah ketemu Mas Huda, lalu ketemu dengan Pak Adi. Siang menjelang sore itu memang penuh istirahat; atau kalau mau dengan istilah yang lebih semangat, gowesnya gowes santai…

Pak Adi in JemberKetemu Pak Adi di dekat Alun-alun Jember.

Ngobrol dengan Pak Adi memang tak selama seperti dengan Mas Huda sebelumnya, dan saya pun mau meneruskan kayuhan di hari itu. Saat ditanya hari itu mau menginap di mana, saya juga masih belum tahu. Tapi, setidaknya, di postingan yang saya unggah sebelumnya, sudah ada yang menawarkan untuk menginap di Sempolan. Di mana itu? Di Jember bagian mana?

Saya hanya coba untuk merunut jalanan dari Jember menuju Banyuwangi. Papan petunjuk jalan juga sudah menunjukkan ke arah mana yang harus dituju. Setelah waktu asar, saya berpisah dengan ak Adi dan mulai menuju ke arah Sempolan.

Belum ada 5 km dari ketemu Pak Adi di dekat Alun-alun Jember, jalanan sudah mulai menampakkan tantangannya : Tanjakan. Ditambah lagi dengan rintik-tintik gerimis yang mulai turun. Tapi tak apalah, setidaknya bisa (lagi-lagi) istirahat dan bisa menikmati perjalanan dengan hawa yang lumayan lebih adem.

Sejauh apa Sempolan dari pusat kota Jember? Jika dilihat di peta, jaraknya sekitar 20an km. Setelah dilalui dengan sepeda, rasanya seperti nanjak alus dari perempatan Kentungan sampai Warung Ijo Pakem. Cuma bedanya, kalau dari Kentungan ke Pakem hanya berjarak 10 – 12 km, dari Jember Kota ke Sempolan jaraknya 20 km, hampir 2 kali lipatnya.

“Kok rasanya nggak sampai-sampai ya?”

Ditambah dengan gembolan di rak belakang. Pengen goyang dangdut, tapi tentu saja tak akan bisa…..

Alon-alon waton kelakon….. Akhirnya sebelum magrib, saya sampai juga di Sempolan. Tidak jauh dari pasar desa, ada sebuah toko di sisi jalan, bertuliskan “Toko Saya”. Oom Yuli yang sedari tadi berbalas komentar di foto yang saya unggah di grup sudah menunggu di tepi jalan.

One View of Sempolan MarketAkhirnya sampai juga di Sempolan.

Ternyata, cycle enthusiast di Sempolan lumayan banyak, meskipun dengan lokasinya yang lumayan jauh dari pusat kota dan letaknya yang berada di ketinggian. Tak beberapa lama, muncul lagi teman pesepeda lainnya, Mas Riswanda dan satu lagi (Duh, saya lupa namanya). Kami asyik ngobrol hingga sekitar jam 9 malam.

Mas Riswanda (yang katanya saat itu belum lama menikah) menawarkan tempat menginap di rumah neneknya. Kalau Toko Saya kepunyaan Oom Yuli ada ‘di bawah’ pasar, rumah nenek Mas Riswanda ada ‘di atas’ pasar. Saat itu sudah lewat jam 9 malam, namun harus sedikit lagi mengayuh melalui tanjakan untuk menuju rumah nenek Mas Riswanda.

Salah satu hal yang saya suka, sekaligus sedikit terkejut, adalah rumah sang nenek termasuk salah satu rumah jadul di desa itu, dengan tembok yang tebal (seukuran 2 buah bata dijejerkan, dan formatnya sama seperti rumah Eyang di Boja, Kendal, meskipun ukuran atau luasnya lebih kecil.

Saat masuk ke ruang tamu, di sebelah kiri (jika menghadap ke dalam rumah) ada kamar untuk tamu, dengan dua buah tempat tidur yang masing-masing cukup untuk tiga orang. Dari ruang tamu menuju ke ruangan tengah, dibatasi dengan gawangan pintu yang sedikit lebih kecil dari pintu masuk, dan tertutup dengan tirai yang sedang diikat. Sejajar dengan ruang tamu, di bagian dalam atau ruang utama digunakan untuk menonton televisi sekaligus sebagai ruang makan. Di ruang utama terdapat dua pintu untuk menuju kamar tidur, yang posisinya juga sejajar dengan kamar tidur tamu.

Saya cuma bisa mbatin, “Wah, ini persis dengan rumah Eyang…..”

Vintage DisplayDari ruang tamu (Sony Ericsson J105i; 2 MP).

Malam itu, percakapan dengan teman-teman pesepeda Sempolan berakhir jam 11 malam. Oom Yuli kembali ke rumahnya di Toko Saya, Mas Riswanda juga balik ke rumahnya, yang tak seberapa jauh dengan rumah neneknya itu.

Selamat malam… Have a good rest tonight…..

Advertisements

5 thoughts on “Sempolan, Semalam Serasa di Rumah Nenek

  1. Pingback: Hari Terakhir menuju Banyuwangi, Sarapan serasa Bule | Denmas Brindhil - Situsé

  2. Pingback: Banyuwangi, Sebelum Menyeberang ke Bali | Denmas Brindhil - Situsé

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s