Selo untuk kesekian kalinya


Selo Trip Nr. ?Satu foto saat bersepeda mengitari Merapi, 20 Agustus yang lalu, kira-kira hanya urang 1,5 – 2 km menjelang Selo. Difoto dengan telepon genggam Sony Xperia ZR, kamera disetel 5 MP.

20170901

Selo, apakah itu? Di manakah itu?

‘Selo’, bisa dimaknai sebagai ‘luang’ atau ‘lowong’. Entah penulisan mana yang benar, ‘selo’ atau ‘sela’. Jika dirunut ke bahasa Indonesia, maka penulisannya adalah ‘sela’, yang mungkin artinya kira-kira ‘di antara’. Contoh kalimatnya mungkin : “Maaf, kalau boleh saya menyela… bla bla bla…” ‘Menyela’ adalah kata ‘sela’ yang mendapat awalan ‘me-‘. ‘Menyela’ artinya memotong sejenak kesibukan dengan kegiatan lain yang lebih santai. Kalau coba dikaitkan lagi, sepertinya artinya memang hampir mirip antara ‘selo’ dengan ‘sela’…..

Sebenarnya apa yang kemudian ingin dilanjutkan dari pembahasan tentang bahasa di paragraf sebelum ini? Selo adalah salah satu kecamatan di Boyolali yang letaknya memang berada di antara Gunung Merbabu dan Gunung Merapi.

Pertama kali bersepeda ke Selo adalah di tahun 2010. Saat itu aku belum tahu seluk beluk yang rinci tentang sepeda. Rombongan bapak-bapak Pakeman alias Warung Ijo yang memang punya agenda bersepeda ke Selo, dan aku ikut saja. Kalau mau dibikin daftar kapan saja pernah ke Selo, mungkin akan jadi seperti ini :
• 2010, lupa di bulan apa, bareng rombongan bapak-bapak Warung Ijo, counter clockwise
2012 Mei, sendirian, counter clockwise
• 2012 November, bareng teman-teman FedJo, counter clockwise
2013 awal, bareng Mas Saktya sampai persimpangan arah gardu pandang Babadan, clockwise
• 2013 akhir, bareng Revo, Mas Rd, Mas Yoga, Mas Arie Jakeb, clockwise
2014, 16 Agustus, bareng BagSo, Mas Rd dan Mas Saktya, clockwise
• 2016 April, bareng teman-teman FedJo, kali itu jumlahnya mungkin sampai belasan – dua puluhan orang, clockwise
• 2017 awal minggu kedua Januari, bareng Kak Tiyas dan Mas Moakh, clockwise
• 2017 Mei, sebelum puasa, bareng rombongan Gowes Reboan, ada Pak Sri dan Mas Noell, counter clockwise
• 2017, 20 Agustus, bareng rombongan JFB, aku dan Oom Salman cuma ngombyongi, clockwise

Kalau menurut hitungan itu, sudah 10 kali muter Merapi, dan setiap kali ke Selo selalu mampir makan di Warung Barokah yang ada di seberang Polsek Selo dan Masjid Selo (selatan jalan). Belum kalau misalnya naik ke Merapi atau Merbabu, juga mampir ke warung itu sebelum menuju basecamp. Sampai Sang Ibu pemilik warung hafal. Aku pun kadang dengan seenaknya sendiri turun ke kamar mandi tanpa perlu minta ijin ke beliau Ibu pemilik warung.

Kegiatan kok kurang kerjaan….. Tempat yang sama, dikunjungi berkali-kali, naik sepeda pula….. Halah…….

Advertisements

2 thoughts on “Selo untuk kesekian kalinya

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s