Puasa-puasa kok bisa lebih boros daripada biasanya ya?


Nearly Empty Glass
Es susu stroberi yang sudah hampir habis.

20170529

Gambar di atas adalah pertama kalinya saya menjejakkan kaki di tempat jajan yang namanya Kalimilk. Serasa ndeso karena sudah sejak lama tempat jajan itu ada (awalnya ada di Nglempongsari, lalu juga buka cabang di Jalan Kaliurang dekat UGM; sekarang malah yang di Nglempongsari tutup), namun baru kali itu hari pertama bulan Puasa ini saya ke situ.

Kali itu saya mencari partner yang memang saya rasa sesuai untuk diajak jalan-jalan di “waktu tersebut” (tanda ‘petik’ jangan sampai hilang), karena memang pas ada garapan yang mengharuskan untuk main ke Kalimilk. Siapa? Namanya Elok.

Namun tulisan ini tak akan membahas tentang Kalimilk. Lalu tentang apa? Setidaknya, masih akan berhubungan dengan apa yang dilakukan di Kalimilk, yaitu ‘jajan’.

Setelah menghampiri di dekat kos Elok dan di perjalanan menuju Kalimilk, ada satu pertanyaan yang muncul dari Elok, seperti yang ada di judul tulisan ini : Puasa-puasa kok bisa lebih boros daripada biasanya ya? Kira-kira seperti itu. Padahal, pada saat puasa, makan besar yang biasanya dilakukan tiga kali, sarapan, makan siang dan makan malam, beruba hanya jadi dua kali, sahur dan buka. Lalu, hal apa yang menjadikan puasa bisa lebih boros?

Sambil mengendarai sepeda motor, dengan jalanan yang semakin ramai karena menjelang waktu berbuka, saya menjawab sekenanya :

Pertama, karena di bulan puasa ada yang namanya ‘makanan tambahan’. Makanan tambahan seperti apa? Mungkin akan seperti appetizer saat makan di restoran. Takjil yang berfungsi sebagai sarana pembatalan puasa layaknya snack atau makanan ringan, meskipun kadang juga dalam porsi yang lumayan banyak. Kemudian setelah magrib atau setelah tarawih baru dilanjutkan dengan makan malam, makan besar atau makanan utama, yang bagi orang Indonesia tentu saja nasi.

Kedua, karena ini bulan Puasa, dan waktu untuk makan besar lebih tertata rapi, maka orang-orang akan lebih memikirkan menu apa yang akan disajikan pada saat makan malam, dan mungkin saja menu yang lainnya akan disajikan pada saat sahur. Jadi, masak sayur pun jadi lebih banyak ‘kan?

Ketiga, nah ini yang masih nyambung dengan apa yang saya dan Elok lakukan di hari itu : jajan. Karena puasa, maka pada saat magrib harus berbuka. Dan selalu saja ada yang namanya acara ‘buka bersama’. Tentukan saja tanggalnya kapan dan tempatnya di mana, pastilah akan ada keluar uang untuk urunan.

Dan, entah bagaimana hitungannya, memang dirasa-rasa pada saat bulan puasa ini bisa lebih boros daripada biasanya…

Kalimilk, apalah itu Kalimilk. Setelah menghabiskan jatah susu segelas, kami pun beranjak pergi dan menghabiskan waktu di tempat yang lain, sembari menikmati iringan ramainya lalu lintas malam Minggu, di angkringan batas kota Jalan AM Sangaji – Jalan Monumen Jogja Kembali…..

Advertisements

6 thoughts on “Puasa-puasa kok bisa lebih boros daripada biasanya ya?

  1. ..saya juga baru pertamakali dan sekali-sekalinya pernah ke Kalimilk kui bulan kmaren, eh kalo ga April ya Maret kalo ga salah, dan kapok, wong susu ae kok regone ngunu bingit je hihi dan ya mihil lah mas kalo tiap hari buka puasanya di kalimilk, coba di seberangnya aja, Mekdi huehue

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s