Sidoarjo Nomor Dua


SekreBac Goes to Kediri
Persiapan pannier sebelum berangkat JamNas di Kediri.

20161230

Is this going to be the last post in 2016? It might be, it might not…

Walah, bukaan artikel dengan menggunakan bahasa Inggris yang bukan-bukan. Tapi sepertinya iya… Hmmm.

Kenapa Sidoarjo kok bisa jadi yang ‘nomor dua’? Kenapa hayoo? Karena eh karena (bukan lagu), ini adalah kali kedua aku bersepeda ke Sidoarjo, dan Sidoarjo adalah kota kedua yang kulewati dan aku menginap beberapa malam, setelah ikut Jambore Nasional MTB Federal di Kediri.

Kenapa yang kedua? Lagi-lagi berupa pertanyaan. Ya, karena ini adalah kedua kalinya setelah tahun 2012, empat tahun yang lalu. Sebelum tahun 2012 itu, aku main ke Sidoarjo ke tempat Paman adalah saat Mbak Nina jadi manten di akhir tahun 2003.

Symmetrical
Gedung kantor Gudang Garam di Kediri.

Kediri ke Sidoarjo, menurut catatan di Google Maps, jaraknya sekitar 120 km. Melewati Kertosono, Jombang, Mojokerto lalu belok di persimpangan Krian, sekitar 20 km sebelum masuk Surabaya. Jalannya sebagian besar datar-datar saja, tidak ada tanjakan yang ‘luar biasa’ seperti saat di Kediri yang lalu. Maklum, ‘jalan bus’, alias jalan raya utama.

Dari Kediri sekitar jam 14.30, dan sebentar mampir Indom**rt di Kertosono, sembari beristirahat karena juga gerimis deras. Setengah jam kira-kira aku berhenti, lalu berlanjut lagi kayuhan pedal dan kaki.

Ternyata jalan layang di Jombang sudah jadi. Tapi satu hal yang aku tetap masih bingung adalah bahwa semua kendaraan yang datang dari arah barat harus melewati jalan searah, yang ujung-ujungnya melewati terminal bus Jombang. Karena penasaran, setelah beberapa jauh mengikuti jalan searah ke timur itu, aku mencari jalan masuk ke ‘kanan’, untuk mencoba menuju dan melewati jalan di tengah kota Jombang. Sepertinya hanya serupa jalan aspal yang masuk kampung, namun ternyata aku tidak salah. Selepas ‘jalan kampung’ itu, ternyata tembus di dekat persimpangan besar, yang jika ke selatan ke arah alun-alun Jombang atau kantor kabupatennya. Dan, tetap saja, sepeda tetap berbelok ke arah timur…

Mojokerto, yang dulu sewaktu 2012 aku hanya lewat di jalan by-passnya, kali ini aku lewattengah kota, namun tetap saja sambil memperhatikan petunjuk arah jalan, mana yang menuju ke Surabaya. Ternyata ramai juga, karena menang di alun-alunnya atau entah taman apa itu sedang ada pawai dan semacam pasar malam. Setidaknya sudah pernah tahu seperti apa tengah kota Mojokerto itu… Tapi, rumahnya Oom Boboho di mana ya? Ada yang tahu persisnya?

Sampai Krian, aku agak bingung. Dulu sepertinya tidak seramai sekarang, dan ada juga persimpangan yang aku lupa…

Satu hal yang ingin aku beli sewaktu sampai di Sidoarjo adalah tahwa, atau apalah itu sebutannya. Kalau menurutku, itu semacam wedang tahu yang rasanya ada miripnya dengan ronde, tapi ada miripnya juga dengan bubur, namun sedikit lebih encer. Sayangnya, waktu itu sudah terlalu malam. Aku sampai di Sidoarjo jam 9 malam, dan warungnya baru saja tutup.

Tapi, ah sudahlah. Sebentar aku mampir di penjual degan, yang gelas porsi super jumbonya hanya seharga 6ribu rupiah. Kukira harga 6ribu itu untuk gelas warung, gelas yang biasanya untuk menyajikan teh atau jeruk panas di warung nasi rames itu…

Ini baru cerita tentang ‘bagaimana menuju ke Sidoarjo’. Lalu apa sajakah yang dilakukan selama di Sidoarjo? Apakah akan dilanjutkan di cerita berikutnya?

Coba saja ditunggu di postingan berikutnya…..

Advertisements

2 thoughts on “Sidoarjo Nomor Dua

  1. Pingback: Jalan – jalan di Sidoarjo | Denmas Brindhil - Situsé

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s