Sekilas – Sekelumit JamNas Federal 2016


20160813

JamNas itu adalah akronim dari “Jamboré Nasional”. Entah kenapa kok disepakati dengan istilah atau singkatan itu…

JamNas 2012 Yogya – penitia; penyelenggara; peserta yang ikut ngurusi acara
JamNas 2014 Bandung – nggak ikut; malah sepédaan bareng Oom Bay, Wijna, Oom Warm, dkk. ke Klangon
JamNas 2016 Kediri – ikut; peserta; lalu pulangnya mbolang

Di JamNas kemarin itu saya memilih berangkat berdua, naik motor, boncèngan dengan Mas Tébé. Dan, sedikit melèsèt dari waktu tempuh yang dikira-kira pada awalnya. 8 jam, berangkat dari Jogja jam 8 malam, sampai di Kediri kota sekitar jam 4 pagi.

Hari pertama – Jumat, 20 Mèi
Setelah “istirahat” yang hanya dua jam, acara JamNas pun dimulai. Hari Jumat pagi itu, acar dimulai di parkiran stadion. Stadion apa ya namanya? Duh, saya kok agak lupa. Brawijaya apa ya? Oké lah.. nanti di-search saja di Mbah Google. Acara pagi itu adalah muter-muter keliling kota Kediri. Banyak juga jalanan di kotanya yang mémang dibuat searah. Beberapa tempat yang diléwati antara lain komplèks pabrik Gudang Garam dan Simpang Lima Gumul (SLG).

With Paklik from Bandung//embedr.flickr.com/assets/client-code.js

Apa itu Simpang Lima Gumul? Sepertinya, bangunan itu dibangun sebagai ikon kota Kediri, meskipun lokasinya agak sedikit “di luar” kota. Bentuknya yang mirip Arc de Triomphe (kalau tidak salah tulisannya seperti itu) di Prancis, menjadikannya tempat yang menarik untuk dijadikan latar belakang foto.

Together at Simpang Lima Gumul//embedr.flickr.com/assets/client-code.js

SLG in The Background//embedr.flickr.com/assets/client-code.js

Siang hari di Jumat itu agak kosong, tanpa ada acara spésifik. Menjelang soré, para peserta JamNas digiring menuju pinggiran Kali Brantas, di dekat Jembatan Lama, yang menghubungkan sisi barat dan sisi timur kota Kediri. Konsèpnya masih sama dengan JamNas 2014 di Bandung, yakni camping. Ténda-ténda sudah disiapkan olèh panitia, dan tiap kloter atau kontingèn dari tiap chapter mendapatkan bagian téndanya masing-masing. Rombongan Fèderal Jogja mendapatkan barisan ténda yang letaknya paling belakang, paling dekat dengan bibir kali.

Malam itu, malam Sabtu itu, diisi dengan acara musik di panggung, diselingi dengan semacam perkenalan dari tiap chapter, dan beberapa sambutan tentang acara JamNas itu. Disediakan pula ténda khusus untuk berdagang alias berjualan. Ya, berjualan, entah itu pernak-pernik Fèderal, piranti camping, atau lainnya yang masih ada hubungannya dengan sepéda dan Fèderal.

Camping at Brantas//embedr.flickr.com/assets/client-code.js

Hari kedua – Sabtu, 21 Mèi
Hari itu adalah hari yang benar-benar sepédaan. Dari pinggiran Kali Brantas menuju objèk wisata air terjun Dholo. Katanya sih, jaraknya sekitar 30an km, namun dengan perubahan ketinggian yang luar biasa. Kota Kediri ketinggiannya kurang dari 200 mdpl atau malah 150 mdpl, sedangkan finishnya di hari itu adalah 1200-1300an mdpl. Duh Gusti

Fake Cycling//embedr.flickr.com/assets/client-code.js

Oom Monos, yang bersama Bulik Endah, membawa kendaraan pribadi. Jadi, ya, sepasang pannier masuk ke dalam mobilnya. Pun dengan beberapa teman yang lain. Oké, sampai jumpa nanti di Dholo. Semalam sebelumnya, saya sudah kangsènan sama Bang Bènz, untuk bersep♪0da pelan-pelan saja, sak tekané, sak kuwaté. Saya juga agak mikir, bahwa nggak perlu ngoyo, karena bésoknya sepulang JamNas, saya niatnya mbolang. Dan selain itu, tak ada salahnya untuk memanfaatkan fasilitas yang sudah disediakan olèh panitia, yaitu fasilitas loading. Hahahaaa…

Dan ternyata benar saja. Pos 1 léwat, lalu lanjut Pos 2. Ternyata kok ya dirasa-rasa, kok jauh. Waktu tengah hari saja masih belum sampai Pos 2. Saya dan Bang Bènz kira-kira sampai di Pos 2, yang menyediakan menu ketan ireng, sekitar jam 2 siang. Dan kami pun memutuskan untuk menunggu jemputan loadingan.

Jemputan pun datang, dan ternyata, dari dalam kendaraan, jalanan yang diléwati begitu kerèn. Mémang benar-benar kerèn!! Tak usah dibayangkan, tapi bisa digambarkan seperti ini : dari tempat saya melihat, misal di titik A, titik B yang berada di “seberang” lembah pun kelihatan, dan jalanannya berkélok-kélok naik-turun; tapi lebih banyak naiknya ding.

Begitulah, hingga akhirnya kami, manusia yang diloading, turun di titik di mana kendaraan roda 4 tak bisa meléwatinya karena jembatan yang rusak. Karena soré itu dibarengi dengan gerimis-gerimis tipis, maka beberapa teman yang sama-sama diloading pun memilih berteduh di sebuah warung dan memesan mi goreng ataupun mi rebus, meskipun mi instan.

Jemputan loadingan di seberang sungai pun datang. Lalu kami pun bergegas menaikkan badan dan sepeda ke atas truk bak. Terus dan terus, truk menapaki jalanan yang selalu naik, hingga sampai di Pos 3, Irenggolo. Di sana ternyata sudah banyak peserta lain yang mémang masih beristirahat, atau menunggu loadingan lagi menuju garis akhir. Hari semakin petang dan hawa pun semakin dingin.

Rombongan Fèderal Jogja yang masih tersisa di Pos 3 akhirnya memutuskan untuk meninggalkan sepéda di Pos 3, dan hanya orangnya saja yang finish di air terjun Dholo. Oké, sippp…..

Karena letaknya yang di pegunungan, dikepung bukit dan lembah, atau malah jurang, menjadikan komplèks wisata air terjun Dholo dingin. Ditambah lagi, sebelumnya hujan sempat turun dengan deras. Cocok sudah, malam itu membuat wédang jahé dan burjo, yang sudah disiapkan olèh Mas Jakèb. Dan Mbak Lies yang sebelumnya sudah pernah ketemu sewaktu camping di Sapuangin, ikut nimbrung dan “pesan” burjo yang belum selesai dimasak. Hadèh…

Making Mung Bean Porridge//embedr.flickr.com/assets/client-code.js

Malam itu nikmat sekali untuk tidur di dalam ténda, apalagi nyemplung dalam sleeping bag…..

Morning View at The Camping Ground//embedr.flickr.com/assets/client-code.js

Hari ketiga – Minggu, 22 Mèi
Pagi-pagi, saya sempatkan untuk menuruni banyak anak tangga menuju air terjun Dholo bareng Mas Tébé. Lumayan, mungkin sekitar setengah jam menuruninya.

Dholo Waterfall//embedr.flickr.com/assets/client-code.js

Hari Minggu itu adalah hari terakhir rangkaian JamNas. Jamboré berikutnya akan diadakan dua tahun lagi, 2018, yang rencananya di Bogor. Entah saat itu akan bisa gabung atau tidak; masih ikut rombongan Jogja, atau pindah ke chapter lain. Hahahaa…

Karena beberapa teman Jogja dan termasuk saya, sepédanya “menginap” di Pos 3, maka kami “diturunkan” dulu dengan kendaraan menuju Pos 3, baru kemudian kami bersepéda turun, dari Irenggolo menuju kota Kediri, dan tak meléwati jalan yang kemarin menjadi rute saat naik. Syukurlah..

Jalanan saat balik menuju kota Kediri full turun. Tak ada tanjakan-tanjakan menakutkan seperti di rute saat berangkat. Dengan gembolan yang berat, kami harus lebih berhati-hati saat turunan, karena momentum sepéda yang lebih besar, sehingga pengerèman pun menjadi agak sulit.

Dan akhirnya, sedikit léwat tengah hari, kami pun sampai lagi di kota Kediri. Setelah istirahat sebentar dan secukupnya, beberapa teman ada yang melanjutkan pulang, memilih menginap semalam lagi, atau malah lagi-lagi putar-putar kota dengan teman lainnya. Saya? Saya lalu menggenjot pédal lagi menuju rumah Paman di Sidoarjo.

So long…..

4 thoughts on “Sekilas – Sekelumit JamNas Federal 2016

  1. jamnas bener2 seru ya ,,, ngumpul temen2 sehobi pasti menyenangkan dan seru, dulu saya pernah punya federal … tapi waktu itu belum booming ,,, malah kalau pakai kayaknya di lihat aneh sama goweser lain ,,,, sekarang sudah dijual :)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s