What Is a Pannikin?


Cups of Tea & Fried Cassava//embedr.flickr.com/assets/client-code.js

20160307

Pas kapan itu kok ya iseng-iseng tanya soal yang namanya nasting, atau nesting, atau apalah namanya dan bagaimana cara penyebutannya, sama dua orang yang menurut saya lebih punya pengalaman tentang per-merek-an di beberapa barang, Mas Jakeb dan Mas Andi.

Awalnya, mungkin sudah agak lama, rasa ketertarikan muncul pada nasting kepunyaan TNI yang bentuknya bulat (karena yang sering dijumpai adalah yang bentuknya persegi panjang atau bujursangkar). Jadi rasanya kok yang bentuknya bulat itu kok jarang-jarang yang punya. Hehehee. Tapi katanya yang bentuk seperti itu susah didapatnya, paling gampang ya yang paling sering dijumpai, persegi panjang.

Alhasil, dari beberapa pertanyaan yang saya ajukan (halah, kaya klompencapir jaman lawas wae), Mas Andi menyarankan jangan tertarik dengan yang ada di beberapa toko outdoor yang sudah njeneng alias punya nama. Yang jelas, harganya lebih mahal jika dibandingkan dengan yang ada di toko-toko yang lebih kecil dan agak ndhelik tempatnya. Dan itu memang benar adanya, selisihnya bisa hampir separuh harga yang ada di toko kecil. Beberapa merek toko outdoor lokal juga ada yang me-rebranding (bukan rebonding rambut lho ya..) merek yang aslinya bikinan negara Tiongkok. Tapi ya jangan lalu nge-mung-ke produk buatan negara sana itu, karena beberapa merek benda bikinan sana juga ada yang njeneng dan berhasil menjadi produk global. Coba saja cari merek Huawei, Lenovo, atau Asus (wahaha, bukan semi-promo, tapi cuma contoh).

Sewaktu tanya ke Mas Jakeb, dia bilang kembaran istrinya baru saja membeli cooking set yang dia kurang tahu mereknya, tapi lalu dia sertakan fotonya. Dan setelah di-googling dan saran iseng dari Mas Andi, ternyata itu mereknya adalah semacam serinya, DS-xxx, Mas Andi bilang kalau seri-seri yang itu bentuknya lucu-lucu. Yayayaya.

Lalu kemudian, dari googling gambar, lalu berpindah ke pencarian harga. Mas Jakeb bilang kalau kembaran istrinya beli yang serinya DS-3xx dengan harga 200an ribu rupiah. Dan akhirnya ketemu juga yang harganya agak miring, yang DS-2xx harganya antara 120ribu sampai 160ribu, sedangkan yang 3xx harganya memang 200an ribu, ya pas-pasnya memang 200ribu.

Nah, yang terbeli yang mana? Rahasia. Hehehehe. Tapi memang sudah terbeli. Ini bukan review lho ya, cuma cerita tentang hal yang tidak terlalu penting.

Apanya sih yang tidak penting itu? Inu lho, di tulisan di kardus pembungkusnya, di kelengkapan setnya, ada istilah ‘pannikin’. Apa sih ‘pannikin’ itu? Itu yang bikin saya penasaran; karena istilah yang lainnya lebih mudah dipahami, ‘frying pan’, ‘name’, ‘product model’…

Lagi-lagi iseng, Google pun dibuka, dan muncul : pan-ni-kin / noun / 1. a small metal drinking cup. Yayayaya. Kalau berdasar kamus Longmans Inggris-Inggris tahun 60an punya Bapak, ‘pannikin’ itu artinya “small tin cup”. Jadi, kalau dicocokkan dengan benda yang ada, kok sepertinya deskripsi seperti itu kurang cocok, karena sebenarnya fungsinya dan penampakannya adalah semacam panci kecil; untuk memasak, bukan ‘hanya’ sebagai cangkir dan untuk minum air saja.

Ah, mungkin cuma perlu mengeksplor lagi khasanah (halah) perbendaharaan kata dan makna. Karena hal yang tak terlihat pun bisa menjadikan kita kaya.

Jadi inget (lagi-lagi) iklan di papan tepi lapangan saat AS Roma vs Fiorentina, “Internet extraveloce in la tua casa”. Manfaatkanlah kecanggihan teknologi untuk hal-hal yang berguna (artinya bukan itu lho ah..)

2 thoughts on “What Is a Pannikin?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s