Sampah? Peduli Sampah?


Buanglah Sampah Pada Tempatnya//embedr.flickr.com/assets/client-code.js

20160229

Sebenarnya mungkin ini adalah postingan yang telat alias late post. Tapi nggak apa-apa, paling tidak masih bisa membahas event yang seminggu sebelumnya terjadi. Dan tenang saja, masih bisa dikaitkan dengan sepedaan kok.

Tanggal 21 Februari katanya diperingati sebagai Hari Peduli Sampah Nasional. Saya pun baru denger kali itu. Hari Minggu itu pun ada event yang dilakukan di dekat rumah, di Bunderan UGM, yaitu bagi-bagi bibit pohon, yang kalau tidak salah dikoordinir oleh Mas Elanto (yang terkenal karena mencegat mo-ge waktu dulu ituh). Tapi saya tetap memilih rutinitas mingguan, yakni Pakeman saja…

Sampah jelas membikin kotor & polusi. Bersepeda bisa membantu mengurangi ‘sampah’ udara alias polusi. Ya cuma badan kita jadi lebih berkeringat dan mungkin juga lebih cepat jadi bau; tapi tak apa lah, semuanya demi lingkungan yang lebih baik. Halah… (nyambung juga kan dengan sepedaan)

Sebenarnya yang salah itu siapa? Agama? Orang tua? Pola didik atau sistem pendidikan? Orang yang sudah sekolah tinggi dan akhirnya jadi pejabat pun bisa dengan mudah korupsi sana-sini. Pun dia juga orang beragama dan taat beribadah.

Jadi, bisa jadi orang kita ini cuma sekedar tahu, tanpa mau melakukan apa yang dia tahu itu (meskipun sebenarnya bisa, kalau ‘mau’). Contohnya gampang. Banyak tempat-tempat umum yang di sana terdapat tulisan “Jagalah Kebersihan” atau “Buanglah Sampah pada Tempatnya” (seperti yang ada di gambar awal), atau apa lah yang lainnya, masih banyak lagi. Lha tapi kok ya bisa juga orang seenaknya war-wer membuang bekas bungkus makanan kecilnya, atau diselipkan di tempat yang agak nggak kelihatan. Padahal di tempat umum jelas disediakan tempat sampah. Atau contoh lain, orang yang di dalam mobil membuka jendela, lalu seenaknya membuang tisu yang bekas pakainya keluar jendela dan terbang ‘menghampiri’ pengguna jalan di belakangnya. Lak ya sil*t to ya kalau seperti itu.. (maaf, misuh)

Yayayaya, lalu pak ustad bilang “Sabar.. orang sabar disayang Tuhan”. Ooo ya keliru kalau begitu. Kalau seperti itu pernyataannya, itu artinya mempersempit kekuasaan Tuhan. Lha wong Tuhan itu Maha Pengasih (kok nggak ada ya ‘Maha Wates’ atau ‘Maha Samigaluh’ :v ) dan Maha Penyayang kok, Dan tidak ada keterangan di belakangnya bahwa Tuhan hanya menyayangi orang-orang yang sabar…..

Mari kembali ke sampah. Kasus lain. Kali ini coba dikaitkan dengan yang namanya ‘pecinta alam’, atau bisa jadi hanya ‘penikmat alam’. Katanya “Take nothing but picture; Kill nothing but time; Leave nothing but footprint”. Lha tapi coba lihat gambar di bawah paragraf ini. Itu ada di pantai di Gunungkidul. Keeksotisan pasir putihnya sangat-sangat terganggu dengan bekas bakar-bakaran dan sampah yang tidak bisa terurai dengan hanya dibakar. Kalau tempat asyik berpasir putih dibuangi dengan bekas bakaran dan sampah, lalu di mana bisa leyeh-leyeh menggelar matras atau tikar, menikmati lembutnya dan putihnya pasir putih? Saya misuh boleh kan?

Rubbish//embedr.flickr.com/assets/client-code.js

…..biarlah mengambang sejenak…..

5 thoughts on “Sampah? Peduli Sampah?

  1. serius sekali kali ini postingannya, tp ya itu yg pake mobil tp buang sampah sembarangan kui emang mental miskin, masa beli tempat saja ndak mampu, hih!

  2. saya pernah menangi di perempatan warungboto pas lampu merah mobil sedan depan saya berhenti dan membuka pintu depan sedikit serta menjatuhkan satu tas kresek berisi sampah dan menutup kembali pintu mobil trus … pas hijau kabur …

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s