Yang Terlewat Saat Menuju Kiskendo


Dizzy Peak//embedr.flickr.com/assets/client-code.js
Berduaan sama Kak Wijna.

20160120

Dalam kisah pewayangan, Gua Kiskendo adalah padepokan atau tempat asalnya Hanoman. Coba saja iseng-iseng mendengarkan saat Mbah Hadi Sugito membawakan wayang. Pilih saja yang lakonnya ada hubungannya dengan Hanoman, sedikit-banyak akan disebut dari mana Hanoman berasal.

Di Kendal pun juga ada tempat dengan nama yang sama, tapi aku blas belum pernah tahu di mana tempat itu terletak, hanya saja pernah melihat papan arah petunjuknya, di dekat pertigaan Tampingan, kira-kira dua kilometer sebelah timur Pasar Boja, Kendal.

Kalau di Jogja, Gua Kiskendo terletak di Kulon Progo, hampir mendekati perbatasan dengan Purworejo, nun jauh di atas sana, di atas perbukitan Menoreh. Kalau ada yang sudah pernah sampai di Puncak Suralaya, tenang saja, letak Gua Kiskendo tidak setinggi itu kok. Ada dua alternatif jalan yang bisa dilewati untuk menuju ke sana. Pertama, jika dari Jalan Godean dan sampai di perempatan Kenteng, Nanggulan, belok ke arah selatan, lalu ke arah barat dan mengikuti jalan yang menanjak, ikuti saja petunjuk ke arah Girimulyo. Yang kedua adalah dari perempatan Kenteng lurus saja ke arah barat. Jalan aspal satu-satunya, dan tanjakannya curam. Ikuti saja petunjuk jalan yang ada. Dan nantinya akan bertemu dengan jalan yang satunya lagi, di daerah Girimulyo.

Gua Kiskendo, Gua Maria Lawangsih, Gua Seplawan, bisa jadi adalah primadona wisata di ketinggian perbukitan Menoreh. Namun di sepanjang jalan menuju tempat-tempat itu ada beberapa tempat ‘sampingan’ yang juga menarik perhatian. Salah satunya adalah sebuah puncak bukit yang ada tak jauh dari pinggir jalan menuju Gua Kiskendo jika melewati perempatan Kenteng lurus ke arah barat.

Jika diukur dari perempatan Kenteng, puncak bukit itu kira-kira berjarak antara 5-7 km. Mungkin tidak jauh, tapi beberapa kali aku lewat jalan itu, hampir semuanya dengan naik sepeda. Jadi yang bikin terasa jauh ya karena bersepeda dan nanjaknya itu. Khkhkh. Jika melihat papan penunjuk Bendung Kahyangan atau Wisata Kahyangan, untuk menuju puncak bukit kecil itu masih harus naik lagi, masih ke arah barat lagi. Terus saja, sampai nanti jalan yang dilewati sudah mulai ada yang datar dan sedikit turun, dan tidak terlalu jauh dari pemukiman penduduk. Namun jika sudah melewati jembatan dan melihat tanjakan panjang, itu artinya sudah sedikit kebablasan. Jadi harus balik lagi, sedikit, tidak terlalu jauh kok.

Kali itu aku sampai di puncak itu sudah siang hari, hampir panas-panasnya hari. Dan karena namanya saja ‘puncak’, hampir tidak ada tempat berteduh dari sengatan sinar matahari siang itu. Pohon yang bisa digunakan untuk berteduh memang ada, namun letaknya agak di pinggir dari puncak itu.

Dari tempat itu, bisa terlihat sungai yang melewati Bendung Kahyangan. Kalau tidak salah, Bendung Kahyangan-nya pun bisa terlihat, meskipun cuma terlihat kecil. Jalan menanjak yang tadi dilewati pun bisa dilihat. Aku hanya membayangkan, seperti apa nampaknya jika suatu saat nanti mencoba menghabiskan malam di tempat itu. Pastinya akan terlihat kerlap-kerlip lampu kota di kejauhan…..

3 thoughts on “Yang Terlewat Saat Menuju Kiskendo

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s