Camping Sapuangin


Gondang Winangun, Under The Reservoir//embedr.flickr.com/assets/client-code.js

20160115

Saat itu sepertinya aku mendapatkan info dari inbokan di Facebook dengan teman-teman Federal di Jogja, yang katanya kuotanya 30 orang. Akhirnya ya ikut daftar juga, setelah di saat-saat terakhir ditanya sekali lagi sama Pak Pri, apakah mau ikut atau nggak.

Aku lupa, nama resmi event itu apa, yang jelas disponsori oleh salah satu merk peralatan outdoor ternama di Indonesia (mau sebut nama atau nggak ya? Khkhkh). Tagline-nya malah yang kuingat, “Satu Sepeda, Sejuta Saudara”.

Sabtu pagi, 12 September 2015, acara dimulai di salah satu tokonya di Yap Square, Terban. Tepat jam 6 pagi, satu per satu kelompok diberangkatkan. Rute yang dilewati adalah dari Yogya melewati jalan raya Solo-Yogya, terus ke timur sampai di pabrik gula Gondang di Klaten. Dan kalo tidak salah, di pabrik gula itu adalah check point untuk istirahat. Beruntungnya pula, ternyata ada semacam tur singkat dengan bersepeda mengelilingi bagian dalam pabrik itu. Lumayan, setelah sebelumnya cuma numpang istirahat di dekat air mancurnya, kali itu bisa masuk keliling gratis.

Dari pabrik gula Gondang lalu ke timur sedikit sampai di pertigaan, lalu berbelok arah menuju arah Deles. Nah, mulai dari situ jalanan mulai terasa menanjak. Sebelumnya, saat di Gondang, ada opsi untuk mulai loading sepeda ke atas truk. Beberapa memang ada yang ikut loading, tapi masih banyak juga yang memilih untuk tetap menggenjot sepedanya.

Mungkin tak terlalu jauh dari Gondang tadi, ada sebuah mini swalayan yang lumayan komplet di wilayah pedesaan, dan itu menjadi magnet bagi yang masih meneruskan genjot annya untuk membeli bekal makanan dan minuman. Pun bagi yang selo, ada yang memilih untuk menyulut rokoknya.

Sampai di Pasar Kembang, Manisrenggo, sekitar siang hari jam 11. Aku dan beberapa teman yang memang niatnya leha-leha memilih untuk jajan makan siang; karena memang sebelumnya kami juga belum sarapan. Mas Jakeb, Bagso, Arzi, Fauzi, Mas Tebe, lalu ada siapa lagi, aku lupa namanya, beristirahat di depan kantor unit BRI yang saat itu memang tutup. Saat beberapa teman sudah mendapatkan makanannya, eh Oom Monos yang multi-kendara saat acara itu ‘turun’ lagi sambil membawa nasi bungkus. Ya, lagi-lagi makan, bagi yang sudah dapat makanan ya berarti sesi kedua. Hahaha.

Dari Pasar Kembang, jalan yang dilewati bukan yang ke arah Deles (ke kiri, kalau dari selatan), tapi mengambil arah ke kanan atau ke timur (yang bisa tembus ke jalan raya Cepogo-Boyolali). Di sebuah pertigaan, aku lupa tepatnya, jalan aspal yang halus berbelok ke kanan (ke arah Cepogo), tapi kali itu kami ke arah yang lurus sedikit ke kiri, untuk menuju Sapuangin. Mulai dari situ, jalannya menjadi lebih sempit, dan aspalnya pun lebih kasar dari sebelumnya. Kemiringan jalan pun rasanya jadi bertambah.

Sampai di seberang sebuah gereja Katolik di desa itu, rombongan kami untuk kesekian kalinya ditawari untuk di-loading. Tapi tetap saja rombongan kami ngeyel, memilih untuk digenjot saja sampai finish nanti. Toh ‘sepertinya’ jaraknya tak terlalu jauh. Hingga akhirnya truk yang digunakan untuk loading pun berangkat meninggalkan rombongan kami yang sepertinya adalah rombongan peserta terakhir.

Ternyata, jarak yang tinggal tujuh kilometer (berdasarkan peta di GPS Mas Jakeb) adalah jalanan yang benar-benar menyita tenaga. Rasanya kok jalan sepanjang tujuh kilo itu kebanyakan lurus dan menanjak. Itu saja. agak sedikit lega jika menemui jalan yang agak datar dan ada tempat untuk beristirahat. Dan karena memang rombongan yang benar-benar selo, saat istirahat juga bisa sempat-sempatnya mengeluarkan kompor dan peralatan lainnya untuk bikin minuman kopi dan coklat panas. Hehehee.

Saat petang menjelang, saat-saat itulah yang menurutku lebih menguji kesabaran, karena jalan yang tidak terlihat, yang menjadi penanda hanyalah lampu penerang di pinggir jalan yang semakin jauh tampak semakin ke atas. Haduh.

Menurut panitia, acara dimulai sekitar jam 19.00 atau 19.30, selepas isya. Dan perkiraan kami, kami akan bisa sampai di tempatnya dengan selisih tidak terlalu jauh dari dimulainya acara. Dan ternyata memang benar. Sekitar pukul 20.00, rombongan peserta terakhir sampai juga di tempat berlangsungnya acara malam itu, di atas pemukiman penduduk terakhir, tetapi masih di bawah basecamp pendakian Merapi Sapuangin.

Semacam heroik tapi konyol saja, sampai di tempat, kami langsung disuruh untuk maju ke panggung untuk semacam dirayakan karena sudah berhasil sampai dengan ‘santai’. Dan kemudian berbaurlah kami dengan rombongan peserta lain yang sudah sampai dan sudah lebih dulu mendirikan tendanya.

Mas Tebe kemudian mendirikan tenda mininya, tenda yang kelihatan seperti bivouac. Mas Jakeb dan aku juga ikut mendirikan tenda kepunyaannya. Fauzi dan Bagso memilih untuk merentangkan hammocknya di antara dua pohon.

Acara malam itu adalah sharing cerita perjalanan bersepeda oleh Mas Paimo, yang terkenal sudah bersepeda menjelajah beberapa tempat di dunia, antara lain Amerika Latin dan sebagian Eropa Barat. Selain ada Mas Paimo sebagai narasumber utama, juga ada Mbak (yang sekarang sudah jadi Bu) Aristi, dokter yang suka mbolang. Pun dengan ceritanya, menambahi dan melengkapi cerita Mas Paimo. Pemutaran video perjalanan kemudian dilanjutkan dengan sesi saling tanya jawab antara peserta acara malam itu dan kedua narasumber.

Di paragraf sebelumnya, itu bagi yang mengikuti acara di bawah tenda panggung. Aku, Mas Jakeb dan Mas Tebe lebih memilih untuk membikin minuman panas, karena malam itu memang dingin, apalagi di ketinggian lereng Merapi.

Sepertinya memang Mas Jakeb benar-benar kecapekan, karena beban barang di panniernya yang berat, karena isinya komplet dengan bahan sayuran yang rencananya akan dimasak keesokan harinya. Dia pun tertidur lebih dulu, sedangkan aku yang setenda dengannya masih menghabiskan minuman yang sudah dibikin, pun dengan Mas Tebe.

Setelah semalaman tertidur nyenyak, karena rasa capek dan hawa yang dingin, keesokan harinya aku terbangun sekitar pukul 5 pagi. Kedengarannya sudah ramai, ada beberapa tenda yang sudah sibuk menyiapkan apa yang akan dimasak pagi itu, ada pula suara motor yang mulai dipanasi mesinnya, karena memang akan ada yang pulang duluan pagi itu. Ada juga dari rombongan JFB (Jogja Folding Bike) yang sudah mulai resah dengan sepedanya karena bannya bocor.

In The Shade - photograph by Fakhrur Rozi//embedr.flickr.com/assets/client-code.js

Aku mulai mengeluarkan kompor dan gas, Mas Jakeb mengeluarkan perbekalannya. Ternyata bawaannya sangat komplet. Bahan sayuran lengkap, pun dengan bumbu masak dan pernak-pernik lainnya. Ooh, ternyata itulah yang membikin tasnya begitu berat. Tapi jeleknya, saking lengkapnya bawaan makanannya, sampai lupa membawa air minum. Untungnya aku sudah membawa lebih banyak, siapa tahu ada yang butuh untuk minum atau masak. Hehehee.

Oseng jipang (jipang itu bahasa Indonesia-nya apa ya?) sudah selesai dimasak, nasi juga sudah matang; akhirnya sekitar jam setengah 8 kami mulai sarapan. Teman-teman yang kemarin datang terakhir ikut bergerombol mengelilingi sumber makanan. Bagso, Mas Tebe, Fauzi, Arzi datang dengan membawa peralatan makannya masing-masing. Ada juga teman pesepeda lain yang tertarik untuk ikutan gabung, Mbak Lies, yang datang dari Ambarawa dengan suaminya.

Happy Cooking - photograph by Lies Lies//embedr.flickr.com/assets/client-code.js

Ternyata tak berapa lama dari kami selesai sarapan masakan sendiri, dari panitia kemudian menyiapkan makan pagi yang waktunya mendekati makan siang, sekitar jam 10. Hadeh. Yaa, kebanyakan memang kemudian ikut berkumpul di panggung, namun ada sebagian yang lain yang tetap di tendanya, memilih untuk wedangan saja, karena memang sudah sarapan.

Acara hari itu ditutup dengan berkumpulnya para peserta dan panitia di bawah tenda utama dan membentuk lingkaran yang katanya melambangkan kebersamaan dan kesatuan. Dengan bentuk lingkaran itu, diharapkan akan terjalin rasa persaudaraan, sesama pesepeda, yang lebih kuat. Halah.. Hehehee..

Acara hari itu selesai menjelang tengah hari. Ada beberapa rombongan pulang yang berbeda-beda. Ada yang loading dengan truk sampai ke jalan yang lebih nikmat untuk menaiki sepeda, ada yang dari atas langsung menaiki sepedanya, ada yang memilih sedikit memutar melewati obyek wisata Deles, untuk kemudian turun melewati jalan aspal yang lebih halus. Aku memilih untuk ikut ke Deles, sekaligus melewati basecamp pendakian Sapuangin. Baru kali itu aku tahu kalau ada pendakian Merapi melalui Sapuangin, sisi tenggara Merapi. Karena pada umumnya orang-orang lebih memilih mendaki melewati Selo, di sisi utara Merapi.

Sapuangin Basecamp - photograph by Rofi Miftahul Fadhli//embedr.flickr.com/assets/client-code.js

Jalan dari basecamp Sapuangin sampai ke Deles lumayan parah. Meskipun sudah beraspal, namun kebanyakan sudah mengelupas dan tidak terlalu terawat. Sesampainya di Deles, terlihat sangat kontras, karena dari Deles sampai ke bawah aspalnya halus dan jarang berlubang. Mungkin karena jalan itu adalah jalan yang digunakan untuk evakuasi jika terjadi erupsi Merapi.

Stop for A While to Take A Photograph//embedr.flickr.com/assets/client-code.js

Karena aspal yang halus, sepeda pun bisa melaju lebih tenang dan kencang. Kecepatan yang tercatat di cyclometer kalau tidak salah antara 40-50 km/jam. Untuk sepeda, kecepatan seperti itu sudah terasa sangat kencang; jadi harus lebih berhati-hati.

Satu kejadian yang menarik. Sehari sebelumnya, saat berangkat menuju Sapuangin, banku bocor di jarak yang sudah tidak terlalu jauh dari titik finish. Saat pulang, gantian ban belakang sepeda Mas Jakeb yang bocor. Saat Mas jakeb asyik mengganti bannya, teman-teman yang lain malah mengeluarkan kompor dan cangkir, lalu malah membikin minuman panas lagi. Hehehee.. Tapi hal seperti itulah yang membikin menarik sebuah perjalanan, dan menambah rasa kebersamaan di antara jalinan pertemanan.

Somewhere Near Manisrenggo//embedr.flickr.com/assets/client-code.js

Sampai di Pasar Kembang, kami berbelok arah menuju Manisrenggo; jalur yang berbeda dengan saat berangkat sehari sebelumnya. Dari Manisrenggo, kemudian ke selatan ke arah jalan raya Solo-Yogya, dan tembus di Prambanan. Nah, mumpung lewat daerah sekitar Prambanan, kami pun mampir di warung dawet di depan Balai Purbakala, Bogem. Sambil istirahat, sambil menunggu teman yang masih ada di belakang..

Lepas dari warung dawet itu, kami pun mulai ‘berpisah’ dan pulang ke rumah masing-masing.

6 thoughts on “Camping Sapuangin

  1. wahhh pabrik gula gondang, saya dulu pernah tinggal disini selama 2 tahun, itu pas belakang kami foto dari rel sepur ada rumah tingkat..rumah dinas bapak saya hehe

  2. Pingback: Sekilas – Sekelumit JamNas Federal 2016 | Denmas Brindhil - Situsé

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s