Menjelang 17an di Wonogiri


20151202

Kalau jaman sekolah SD sampai SMA dulu, yang namanya acara 17an itu mesti ada upacara. Setelah itu paling ada lomba-lomba kecil2an antar kelas, ada tarik tambang, kesenian, atau malah bikin mural di tembok pagar sekolah, yang penting sehari bisa rampung.

Mundhak lagi, anak kuliah, apalagi yang ikut jadi pecinta alam, mestinya ‘upacara’nya ya pergi mbolang entah ke gunung atau ke gua. Dan semakin ke sini, kok kayaknya tren itu semakin menarik. Kalau yang pergi ke gua mestinya ya di daerah-daerah yang wilayahnya punya gua, semisal di Gunungkidul. Kalau yang upacara di atas gunung ya lebih banyak pilihannya. Mau ke Merapi? Atau naik Merbabu lewat jalur Wekas, yang Pos 2-nya selebar lapangan bola? Atau malah ke Lawu? Nggak usah tinggi-tinggi lah, sekarang yang lagi nge-hits aja, naik ke Ngandong di Magelang saja, cukup dua jam sudah bisa muncak.

Lha kok kebetulan alias ngepasi, tanggal 17 Agustus itu hari Senin. Sebelum hari Senin adalah hari Minggu, dan sebelum hari Minggu adalah hari Sabtu. Kebetulannya lagi, ada ajakan dari Kak Bagso untuk nyepeda tulak alias p.p. ke Solo, bareng teman-teman Federal lainnya. Mas Tebe yang juga mendengar kabar berita itu ternyata punya rencana tambahan lainnya, tapi ternyata adalah sebuah konfidensial alias rahasia.

Nyepeda ke Solo itu, bagi yang sudah pernah dan secara tidak langsung sudah ‘hafal’ jalannya, ya biasa-biasa saja, datar-datar saja. Cuma kadang yang bikin nggak kuat itu adalah panasnya. Ya, panas dari matahari yang bersinar di siang hari. Sekitar 20an orang kemarin itu ya lancar-lancar saja, dari Jogja sampai ke Solo. Sampai Solo menjelang jam 12 siang dan langsung njujug Masjid Gede Solo buat ibadah rolasan. Aku lupa, waktu itu lalu jajan makan dulu atau nggak, tapi sekitar jam 2 siang, Mas Tebe dan aku pamit sama teman-teman yang lain buat ‘melanjutkan perjalanan’. Hahaa.

Beberapa teman ada yang bingung sejak awal, karena kami berdua bawa pannier komplet kiri-kanan. Memangnya mau mbolang ke mana ya? Pamit, kami berdua bablas ke arah Wonogiri, pokoknya sampai ke Wonogiri dulu. Setelah belanja ini itu, lalu melanjutkan ke Waduk Gajahmungkur. Yayayaya…..

Sepanjang pernah nyepeda, aku belum pernah nyepeda dari Solo ke arah Wonogiri. Jadi, kemarin itu yang pertaman kali buatku, pun Mas Tebe. Jarak yang katanya sekitar tiga puluh-an kilometer itu ternyata tak terlalu terasa jauh, karena berkali-kali kami berdua berhenti istirahat, bukan karena capek atau apa, tapi karena memang ingin leha-leha. Hahaha. Ada yang aneh saat itu. Saat itu sebenarnya belum musim hujan, tapi jalan yang kami lewati antara Sukoharjo sampai ke Wonogiri itu adalah bekas hujan deras, terlihat dari adanya air yang menggenang di beberapa gang masuk desa yang kami lewati, dan pinggiran aspal yang basah.

Karena saat itu sudah menjelang maghrib, jadi kami putuskan untuk menghabiskan lewatnya waktu maghrib di alun-alun kecil Wonogiri, sambil ngangkring minum jahe panas.

Menjelang jam 7 malam, setelah belanja sedikit buat bekal masak kecil-kecilan dan bikin minuman panas nanti, kami pun pelan-pelan mengayuh pedal lagi menuju Waduk Gajahmungkur. Ternyata tidak jauh, hanya antara 5-8 km dari kota Wonogiri, sudah sampai di pintu masuk objek wisata Waduk Gajahmungkur. Sayangnya, karena kami tiba di sana malam hari, kami tidak diperbolehkan masuk area objek wisatanya. Oleh satpam di sana, kami disarankan untuk menginap di masjid di dekat situ, baru keesokan paginya kami masuk ke area objek wisatanya. Setelah melihat-lihat keadaan masjidnya, kami pun memilih untuk jajan makan malam dulu saja.

Wah, ada untungnya juga kami jajan nasi goreng kali itu. Saat mau beranjak pergi, ada serombongan pemuda seumuran SMP-SMA yang datang dan mengajak sebentar ngobrol, dan kami malah disarankan untuk ke arah pemancingan, yang berada di tepi waduk tentunya. Dan kemudian kami pun langsung menuju ke sana. Asyik…..

Setelah sebentar berkeliling untuk melihat-lihat suasana, akhirnya kami putuskan untuk menggelar jas hujan di dekat kursi taman di tepian waduk. Meskipun di sana ada dua warung yang bisa dijadikan tempat berteduh dan menginap, tapi kok rasanya kurang sreg untuk kami yang memang punya niatan mbolang ini. Halah.

Dan malam itu pun kami langsung memutuskan untuk tidur saja, setelah seharian sepedaan dan hampir ‘terlambat’ untuk menemukan dan memutuskan tempat menginap.

Mas Tebe menyebutnya ‘pindah turu’. Ya, malam itu kami memang pindah tidur. Tidur yang biasanya dilakukan di kamar, atau di atas tikar di depan televisi, kali itu ‘dipindah’ ke pinggir waduk Gajahmungkur.

Tanpa tenda, tanpa matras, yang digunakan untuk alas tidur dan untuk menutupi sebagian badan adalah jas hujan. Untungnya pula di tepian waduk ada beberapa kursi taman, mungkin biasa digunakan untuk duduk-duduk pemancing saat air waduk tinggi. Memanfaatkan kursi taman itu dan pagar bambu di belakangnya, jadilah bivak ala kadarnya; beruntungnya pula, saat itu masih bagian dari musim kemarau, jadi ya tidak hujan. Makanya dari awal kami beranikan diri untuk tidak membawa tenda dan matras.

Tidur di alam atau outdoor, atau Mas Tebe bilang ‘pindah turu’ tadi, bisa memperbaiki jam biologis tubuh. Saat pagi tiba, saat itu mungkin belum lama dari lewatnya azan subuh, aku sudah terbangun. Dan karena memang tanpa tenda, jadi benar-benar terbuka, begitu mata terbuka langsung bisa melihat pemandangan semburat oranye dan biru tua warna langit di sisi timur. Ahh…..

Sunrise On The Shore-like Place//embedr.flickr.com/assets/client-code.js

Beberapa jepretan dari kamera pocket, pun Mas Tebe, mengambil momen pagi itu dengan telepon genggamnya. Saat matahari semakin lama semakin tinggi (tentunya juga semakin panas), kami pun sedikit bergegas, masak air untuk bikin minum dan memasak bekal yang sudah dibawa, lalu menikmati apa yang sudah diolah.

Sekitar pukul 8 pagi, kami berdua sudah siap untuk meninggalkan tempat peraduan semalam (halah) dan kembali pulang ke Jogja. Sehari sebelumnya, aku iseng posting sebuah foto di grup MTB Federal, kalau kami berdua dolan ke Wonogiri, dan ternyata ada yang meresponnya. Oom Iwan yang warga Wonogiri kota ternyata meluangkan waktunya untuk sepedaan menyusul kami di sekitaran waduk, dan kami pun lalu menuju rumahnya.

On The Shore-like Side//embedr.flickr.com/assets/client-code.js

Rumah Oom Iwan ternyata tidak terlalu jauh dari alun-alun, sekitar 3 km ke arah timur, ke arah yang kalau terus ke timur akan sampai Ponorogo. Ngobrol ngalor-ngidul di rumahnya, sambil ngemil jajanan yang sudah disediakan, pun re-stock bekal air minum. Mumpung ada yang menawarinya. Heheheee…

Hari sudah beranjak siang saat kami berpamitan dengan Oom Iwan, sekitar jam 10.30. Semoga pertemuan pertama itu akan berulang di lain hari dan lain kesempatan. Ya paling tidak lalu bisa melanjutkan silaturahmi via Facebook atau media sosial lainnya. Percuma kalau tidak dimanfaatkan, kan teknologi sudah berkembang pesat. :p

Rute pulang ke Jogja adalah melalui jalan alternatif Wonogiri – Klaten (Srowot). Aku sudah pernah melewatinya beberapa kali, tapi Mas Tebe belum pernah. Kalau disuruh mengingat-ingat secara detil titik-titik persimpangannya ya aku nggak hafal. Jadi saat itu ya hanya sekadar menuruti jalan yang ada. Yang aku hafal hanya mulai dari Cawas sampai ke Jogja. Heheheee. Keluar dari kota Wonogiri, patokanku hanyalah jalan yang menuju Cawas.

Persis menjelang tengah hari, kami sampai di Tawangsari, sebuah kecamatan yang termasuk wilayah Sukoharjo. Karena memang panas tengah hari, dan juga sekaligus istirahat makan siang, kami memilih sebuah warung makan Padang kecil, tak jauh di seberang pasar Tawangsari. Menurutku, ada hal yang menarik dengan warung makan Padang, terutama yang di kota-kota kecil. Penjualnya, atau pemilik warung itu adalah asli Padang; ya mungkin bukan Padang kota-nya, tapi masih di wilayah Sumatra Barat. Selain yang di Tawangsari ini, pernah pula sebelumnya di Muntilan, malah bukan di kotanya, tapi di jalan antara Muntilan ke arah Jogja, pemiliknya juga asli Padang, logatnya masih medhok. Beda dengan warung makan Padang di kota besar, pemiliknya sudah nggak terlalu peduli dengan urusan garda depan di warung itu, semuanya diserahkan ke pegawainya. Jadi interaksi antara penjual dan pembeli itu kok rasanya kurang greget.

Perjalanan pulang pun dilanjutkan setelah dirasa makan siangnya sudah cukup settle di dalam perut. Antara Tawangsari sampai Cawas itu adalah jarak antar kecamatan yang paling jauh sepanjang jalan alternatif Wonogiri – Klaten itu, sekitar 14-16 km. Di tengah-tengah perjalanan itu, kira-kira pukul 13.30, aku bilang pada Mas Tebe kalau selama dari Wonogiri tadi sampai saat itu, kami berdua baru mengayuh 35-40 km saja, masih belum ada separuh perjalanan untuk sampai ke Jogja. Hadeh.

Kami sampai di Cawas sekitar pukul 14.30, dan jalanan terhadang dengan pawai keliling desa dalam rangka peringatan 17an keesokan harinya. Akhirnya kami pun mampir warung saja untuk jajan istirahat sejenak, sambil menunggu pawainya selesai.

Setelah Cawas, lalu Bayat, lalu Wedi, dan akhirnya kami pun lewat di depan Stasiun Srowot, yang artinya Prambanan sudah tak jauh lagi, antara 8-10 km lagi. Semakin dekat ke arah Jogja, semakin bersemangat pula kami dalam mengayuh pedal. Menjelang pukul 16.30, kami pun sudah masuk ke wilayah Purwomartani. Mas Tebe pun pulang ke rumahnya di dekat pertigaan ringin, sedangkan aku pulang ke rumah yang sekitar 2 km di sebelah selatan rumah Mas Tebe. Sampai rumah juga…..

Back Home//embedr.flickr.com/assets/client-code.js

4 thoughts on “Menjelang 17an di Wonogiri

  1. srowot-cawas-wonogiri jalannya masih relatif datar tapi ya begitulah, wonogiri-ponorogo baru keren sekali ehehe..

    eh 17 agustus taun lalu temanya keliling merapi ya mas, sama mas Bagso juga..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s