Katanya Namanya Pantai Pringjono


20150720

Namanya di Facebook Ika Maria. Sejak pertama kali kenal, tahun 2011 kalau tidak salah, aku memanggilnya Mbak Ika. Padahal sebenarnya kita seumuran. Hihihii.

Soal pantai-pantai di Gunungkidul, mungkin ada beberapa yang mblusuk yang aku sudah pernah ke sana. Tapi aku masih kalah dengan Mbak Ika, yang tidak cuma sesaat main ke sebuah pantai, tapi juga menjelajah jalan setapak di sekitar pantai, dan sampai juga di pantai lain yang letaknya tak jauh bersebelahan.

Saat ada dua teman pesepeda jarak jauh dari Argentina yang kebetulan sedang singgah di Jogja, Salvador & Giuli, aku sepakat dengan Mbak Ika untuk mengajak mereka ke pantai di Gunungkidul. Dan kami memilih pantai yang tidak biasa dikunjungi orang.

Siung, Wediombo, kemudian deretan antara Indrayanti sampai Baron, pantai-pantai itu adalah tempat umumnya orang berkunjung ke pantai di Gunungkidul. Mbak Ika yang kemudian mengusulkan untuk ke pantai di sebelah baratnya pantai Nguyahan.

Aku lupa, pantai-pantai itu termasuk ke wilayah kecamatan mana, tapi Ngrenehan, Ngobaran dan Nguyahan adalah pantai-pantai dalam satu ‘kompleks’ yang berdekatan. Karena saat itu baru beberapa hari setelah Lebaran, ternyata jalanan sempit menuju pantai-pantai itu ramai juga dilewati banyak kendaraan. Meskipun sempit, namun aspalnya sudah sangat mulus. Dari ketiga pantai itu, yang paling ramai didatangi saat itu adalah Nguyahan. Kenapa? Mungkin hanya pantai Nguyahan yang punya garis pantai paling panjang dan landai, serta berpasir, jadi banyak orang yang main air di situ. Tak seperti Ngobaran yang berupa pantai karang, atau Ngrenehan yang pantai tempat bersandarnya perahu nelayan.

Mbak Ika yang sudah pernah mblusuk ke tempat itu pun mengajak menyusuri ke arah barat dari Nguyahan. Saat itu masih lumayan pagi, sekitar jam 09.30, jadi ombak masih lumayan besar. Ada potongan batu karang yang sedikit menghalangi ‘jalan yang kering’, jadi harus sedikit berbasah ria dan menunggu saat ombak surut sesaat. Bagi Giuli dan Salvador yang orang bule dan perawakannya lebih besar dariku dan Mbak Ika, mereka tenang-tenang saja berkubang dalam ombak yang sudah sampai ke tepian batu karang, air hanya membasahi sampai ke paha mereka. Aku masih lebih mendingan daripada Mbak Ika yang tubuhnya lebih kecil daripada aku, kami harus menunggu ombak yang lebih surut lagi, baru bisa ‘menyeberang’ potongan bukit karang yang menghalangi jalan itu.

Bagian paling barat dari Nguyahan dibatasi dengan medan yang kembali berbukit dan ditumbuhi pandan laut dan semak. Di antara rerimbunan itu ada jalan setapak kecil, dan kami pun melewatinya. Terus dan terus mengikuti jalan setapak itu, akhirnya sampai juga di sebuah pantai yang letaknya di sebelah barat Nguyahan. Kata Mbak Ika yang sudah pernah, namanya pantai Pringjono.

Pantai Pringjono jauh lebih sepi, dan mungkin sangat sepi, jika dibandingkan dengan tiga pantai di sebelah timurnya. Saat itu hanya kami berempat yang ada di pantai itu. Setelah menemukan tempat yang lumayan landai dan teduh, alas pun digelar dan bekal jajanan dikeluarkan. Berpestalah kami di siang itu.

Lunch on The Beach//embedr.flickr.com/assets/client-code.js

Sambil ngobrol kesana kemari, ternyata ada juga beberapa orang yang juga datang ke pantai itu. Rombongan pemuda, entah dari mana, salah seorang dari mereka menyapa kami yang sedang duduk-duduk di bawah teduhnya bayangan pepohonan. Namun bedanya, mereka bukan mau ‘pesta’ seperti yang kami lakukan, mereka hanya jalan-jalan saja di pantai itu, dan tak beberapa lama mereka pergi lagi.

West Side of Pringjono//embedr.flickr.com/assets/client-code.js

Salvador sejak hari sebelumnya sudah penasaran ingin nyemplung dan bermain air di pantai. Kubilang saja padanya kalau harus berhati-hati dan selalu melihat ombak yang datang, karena batuan karangnya yang tak merata dan ombak besar yang bisa saja tiba-tiba datang. Dan akhirnya kesampaian juga keinginannya, karena setelah lewat tengah hari, ombak mulai mengecil dan bisa lebih jauh lagi berjalan-jalan menjelajah ke arah laut.

Another Side of Pringjono//embedr.flickr.com/assets/client-code.js

Giuli lebih menikmati teduhnya tempat kami menggelar alas di siang itu. Dia lebih memilih membaca e-book menggunakan piranti Kindle-nya. Entah buku apa yang dia baca, tapi kadang diselingi juga dengan obrolan mengenai kebudayaan di Indonesia dan pengalamannya bekerja sebelum memutuskan untuk bersepeda berkeliling ‘sebagian’ dunia.

Menghabiskan waktu di pantai memang mengasyikan, dan berlalunya waktu tak terasa. Saat kembali melihat telepon genggam yang saat itu tak ada sinyal, jam sudah menunjukkan pukul dua siang. Dan karena bekal pun sudah habis, pun perjalanan ke Jogja yang masih jauh, kami pun berkemas untuk pulang.

At Pringjono Beach//embedr.flickr.com/assets/client-code.js

Saat kembali melewati jalan yang beberapa jam sebelumnya kami lewati, pemandangannya sangat kontras. Karena air laut yang sudah lebih surut, semakin banyak orang yang datang di pantai Nguyahan. Potongan bukit batu yang menghalangi ‘jalan yang kering’ di pagi hari tak ada artinya saat sorenya, karena air yang surut dan orang-orang bisa melewatinya dengan mudah. Ah…..

Satu hal yang menggelitik di benak Salvador dan Giuli : Kenapa kebanyakan orang berwisata ke pantai dengan menggunakan pakaian resmi? Celana panjang, kemeja (ada juga yang berlengan panjang), sepatu, dan rok panjang yang menjuntai. Pun demikian dengan orang-orang yang bermain air sampai klebus, kebanyakan dari mereka berbasah-basahan masih dengan pakaian lengkap…..

7 thoughts on “Katanya Namanya Pantai Pringjono

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s