Wohkudu & Kesirat, Berbeda Waktu di Tempat yang Sama


201507/0817

Awalnya hanya karena rasa penasaran, tapi rasa penasaran yang awal itu sudah terobati saat pertama kali main ke pantai Kesirat. Penasaran ternyata bisa berlanjut. Kali ini tentang pantai yang letaknya hampir ‘bersebelahan’ dengan Kesirat dan momen utama yang orang-orang cari saat main ke Kesirat, ‘sunset’ alias matahari tenggelam.

Sebenarnya ini dua cerita yang berbeda waktunya, namun hampir sama; hampir sama tempatnya dan orang yang ngajak dan diajak sama. Hehehee.

Soal rute menuju ke Wohkudu dan Kesirat, bisa dibaca di sini. Semoga saja bisa membantu, karena memang tidak dilengkapi dengan peta. Sebenarnya bisa saja sih, namun coba dilihat saja nanti, bisa di-link-kan nggak, dan misal setelah di-link-kan, bisa tertampilkan atau tidak.


Eh ternyata bisa… :D

Kira-kira sekitar beberapa ratus meter sebelum sampai di parkiran Kesirat, setelah turunan yang lumayan curam, ada beberapa papan petunjuk, salah satunya menunjukkan arah pantai Wohkudu. Tak jauh dari situ ada beberapa gubug yang memang digunakan untuk parkir motor, dan ada pula warung yang menyediakan jajanan dan minuman.

Dari papan petunjuk itu, langsung saja mengikuti jalan setapak yang ada. Jalan setapak, ya, memang jalan setapak. Jalan setapak yang biasa digunakan warga sekitar untuk pergi ke ladangnya. Kalau pun ada simpangan jalan setapak, tak usah khawatir karena sudah ada papan petunjuk lanjutannya untuk mengarahkan ke Wohkudu.

Kali itu aku dan adek nya, yang kuajak, atau bisa juga dia yang mengajakku (karena penasarannya pula), jalan-jalan sore ke Wohkudu saat musim kemarau. Jadi tanah merah ada yang sudah tampak pecah-pecah karena kurangnya air. Tapi bisa dibayangkan kalau pergi ke sana saat musim penghujan dan tanahnya basah, bahkan mungkin bisa lebih dari basah, becek malah. Dan karena becek itu pula maka jadi sangat licin. Dan karena tanah liat, maka akan menempel di sandal atau sepatu yang dipakai.

Wohkudu Beach//embedr.flickr.com/assets/client-code.js

Oke, lepas dari musim kemarau atau penghujan, pantai Wohkudu adalah pantai yang bisa dibilang sempit yang diapit dua bukit. Jadi jangan harap bisa melihat sunrise atau sunset di pantai itu. Namun kalau cuma main air dan pasir putih, pantai itu bisa jadi alternatif pilihan. Pun bagi yang suka berkemah, ada tempat yang cukup luas yang bisa digunakan untuk mendirikan sampai empat atau lima tenda doom. Dan sampai saat kami datang ke sana, Wohkudu masih alami. Tak ada orang berjualan di sana. Satu hal yang disayangkan adalah ada beberapa orang, mungkin rombongan, sebelum kami ke sana, yang membuang sampah kardus bekas makanannya di tepi pantai begitu saja. Semoga saja lama kelamaan akan sadar akan tingkah lakunya yang belum tepat. :)

Mari kita berpindah tempat ke Kesirat. Meskipun sebelumnya aku sudah pernah ke sana, tapi kali ini lebih komplit, karena memang mencari momen yang kebanyakan orang cari, dan pergi dengan orang yang hobinya bisa jadi hampir sama; sama pula orangnya dengan yang ke Wohkudu; meskipun waktu itu beda hari. :D

Sebelumnya, kalau ke Wohkudu, sepeda motor harus diparkir di dekat warung setelah turunan tajam, kalau ke Kesirat terus saja mengikuti jalan cor-blok sampai mentog alias habis. Dan parkirlah motor di situ, ada tempat yang agak luas yang biasa digunakan untuk parkir motor.

Kali itu tujuannya memang mencari pemandangan tenggelamnya matahari. Jadi meskipun masih agak panas, aku memang sengaja menggelar jas hujan agar bisa digunakan untuk menaruh barang bawaan dan bisa juga untuk tiduran. Pun demikian dengannya, adek nya, dia juga asyik dengan barang bawaannya, dan entah juga apa yang dia foto, beberapa kali.

Sambil ngobrol kesana kemari alias ngalor ngidul, tak terasa waktu berlalu dan matahari semakin mendekati garis cakrawala. Saat yang dinanti pun datang. Dengan pose yang seadanya (karena si adek nya memang bukan model; :D ) dan beberapa kali jepret, ternyata sudah melegakan hati. Sudah sesuai dengan apa yang kuinginkan. Pun dia suka dengan hasilnya,

Silhouette on Demand//embedr.flickr.com/assets/client-code.js

Kok ya kebetulan saat itu sedang bulan puasa. Jadi sebelumnya memang sudah kupersiapkan beberapa piranti camping. Maka kami pun menikmati minuman hangat di sore itu di tepi pantai karang sembari menikmati pemandangan tenggelamnya matahari.

Dan kami pun beranjak pulang ke rumah setelah benar-benar gelap, setelah semburat sinar matahari benar-benar tak kelihatan lagi, setelah bintang-bintang di langit mulai menampakkan sinarnya…..

4 thoughts on “Wohkudu & Kesirat, Berbeda Waktu di Tempat yang Sama

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s