Kesirat, Tebing Karang & Pohon Abadi


20150403

Tanggal 3 April, hari Jumat, di kalender adalah pas tanggal merah alias hari libur. Sebenarnya asyik juga jika sekali-kali mbolang, berangkat hari itu, menginap semalam di mana, dan pulang keesokan Sabtu-nya. Namun ternyata beberapa teman sudah punya agenda masing-masing. Jadi, yaa, mungkin sendirian saja mbolangnya.

Jumat itu, seperti biasanya, Mas Moakh sepedaan ke Imogiri. Sebelumnya aku sudah sempat ngabari kalau mau ikut ke Imogiri. Jadi pagi itu aku dan Mas Moakh bersepeda menuju Imogiri. Apa yang menjadi tujuan di Imogiri sebenarnya hampir sama dengan yang ada di Warung Ijo Pakem, wedangan teh panas dan beberapa macam camilan. Bonusnya adalah sehat dan ketemu dengan banyak rombongan pesepeda yang lain.

Hari itu Mas Moakh hanya menjalanai rutinitas hari Jumatnya. Setelah dari Imogiri, dia langsung pulang. Sedangkan aku? Sudah sangu pannier separo, aku lalu menuju rute per-mbolang-anku hari itu. Kami pun berpisah di jalan raya tak jauh dari lapangan Kebonagung, Imogiri.

Pantai Kesirat jadi tujuanku hari itu. Kenapa pantai Kesirat? Karena sudah beberapa minggu sebelumnya ada salah seorang teman KKN yang katanya ingin main ke sana, tapi meskipun sudah ajak-ajak, dia belum punya waktu sela untuk dolan. Biarpun hari itu tanggal merah, tapi temanku itu sedang dalam kesukacitaan Hari Raya-nya. Jadi ya sudah. Bisa dibilang ini adalah survei pra-dolan (padahal sebenarnya ini ya dolan juga; hehehee).

Browsing-browsing tentang Pantai Kesirat, katanya pantai itu awalnya terkenal buat para pemancing, karena letaknya yang berupa tebing karang. Selain itu, ada pula yang bilang bahwa pantai itu cocok sebagai tempat untuk berburu sunset alias matahari tenggelam. Lha ya jadi semakin penasaran saja jadinya.

Jika dari Imogiri, perjalanan dilanjutkan menuju pertigaan Siluk, kalau lurus ke timur ke arah Panggang, kalau ke selatan bisa ke Gua Cerme atau ke arah Parangtritis. Dari pertigaan itu, terus saja menuju ke Panggang. Jalan yang mulanya datar-datar saja berubah menjadi tanjakan yang kadang curam kadang landai, dan di beberapa tempat berkelok cukup keren namun dengan pemandangan yang indah di seberang kelokan itu. Jalan menanjak mungkin sekitar 5 km, kemudian bervariasi antara tanjakan dan turunan, hingga akhirnya sampai di pertigaan Panggang. dari Panggang, ambil jalan yang ke arah timur, sampai ketemu di sebuah perempatan, namanya perempatan Legundi. Di perempatan itu ada papan penunjuk arah, ke selatan menuju Pantai Gesing, ke timur mengarah ke Paliyan (Pantai Ngrenehan, Ngobaran, Baron, dkk.) dan ke barat ke arah Parangtritis. Karena katanya Pantai Kesirat itu dekat dengan Pantai Gesing, maka ambil saja arah lurus ke selatan itu. Jalan aspal lumayan mulus halus, cuma ada sekitar 1 km saja yang rusak. Tak sampai 4 km dari perempatan Legundi, kemudian mulai masuk desa Girikarto, yang ditandai dengan pertigaan dengan sebuah pohon besar di tengahnya.

The Crossroad

Jalan menuju pantai Kesirat ada di salah satu jalan corblok yang masuk dusun/kampung. Kalau dari pertigaan desa Girikarto tadi, mungkin tak sampai 1,5 km, bisa dilihat ada papan petunjuk arah ke Pantai Kesirat di samping sebuah masjid yang letaknya di sebelah selatan jalan. Kalau bingung, jangan khawatir. Tanya saja ke penduduk sekitar, pasti mereka akan menjawabnya, dan kebanyakan sambil tersenyum ramah. Lalu, masuk saja ke jalan corblok itu. Terus saja ikuti jalan yang hanya berupa corblok itu. Lepas dari perkampungan, ada sebuah pertigaan di tengah alas alias hutan, ambil saja yang kanan, yang sedikit menanjak (padahal saya juga tanya penduduk yang kebetulan lewat; karena jauh dari perkampungan jadi jarang ada orang yang lewat); hehehee).

Jalanan menuju pantai di Gunungkidul sangat khas. Entah yang berupa pantai wisata, atau pantai yang tersembunyi dan harus melewati dusun-dusun kecil, variasi tanjakan dan turunan, namun lebih didominasi oleh turunan. Sehingga mungkin harus agak mikir kalau pulang dari pantai, harus menghadapi tanjakan yang sebegitunya.

Demikian halnya dengan pantai Kesirat ini. Saat jalanan corblok habis, akhirnya kendaraan (mobil, motor, atau sepeda) pun harus diparkir. Karena untuk menuju ‘pantai’nya hanya ada jalan setapak. Tapi mungkin untuk sepeda masih bisa dibawa sampai ke pantainya, tentu saja dengan sedikit bersusah payah melewati jalan setapak yang agak naik-turun dan kebetulan saat itu agak becek karena memang sedang musimnya cuaca galau, hujan dan terang yang tidak menentu.

In A Cloudy Day

Sayangnya hari itu sedikit mendung, mendung yang merata. Beda jika dibandingan dengan beberapa awan yang bergerombol, kemudian diselingi awan tipis yang memanjang, sebagian yang lain ada yang kelihatan sudah menghitam, tentu akan memberi aksen yang menarik pada langit. Namun hari itu mendung benar-benar rata, putih. Jarang sekali terlihat langit yang berwarna biru.

Meskipun mendung, hijaunya rerumputan yang diselingi batuan karang berwarna hitam keabu-abuan bisa terlihat segar. Pun dengan tebing karang pantai yang terlihat tegak berjajar, seperti pagar yang membatasi lautan dengan daratan. Beberapa batuan ada yang sudah terjatuh atau ambruk, menjadi aksen bagian pinggiran bawah pantai. Pohon yang terletak di bibir tebing karang, pohon ketepeng atau ketapang, yang dibilang sebagai pohon abadi pun menjadi pelengkap manis pemandangan yang ada.

Another Kesirat View

Rocks & Grasses

Sekali-kali (lagi), entah kapan, mungkin memang perlu untuk dolan ke pantai itu lagi untuk nyunset. Karena kemarin itu memang tujuannya hanya ingin tahu rupa tempatnya saja.

Dan setelah sekitar satu jam berkeliling di tepian tebing untuk menikmati pemandangan, akhirnya aku pun mampir di satu-satunya warung yang ada di situ. Pak Yatmo nama pemilik warung itu. Warung yang mungkin bisa dibilang belum jadi, karena masih beratapkan bekas kain spanduk. Namun tak jauh dari situ sudah ada gubug yang masih dibangun, mungkin nantinya untuk dijadikan warung yang permanen.

Cups of Tea

The Foodstall

Pak Yatmo

Aku hanya membeli biskuit dan roti, tanpa memesan minuman, karena memang bekal minumku masih ada. Sambil ngemil biskuit, sambil ngobrol pula dengan Pak Yatmo. Tak lama, beliau malah menawariku untuk wedangan. Ya, wedangan. Khas pedesaan, teh yang ada di dalam teko kecil, dengan air panas dari ceret yang terus saja dididihkan di atas bara api, cangkir yang begitu kecil, dan tentu saja ada gula untuk menambah kadar manis sesuai selera. Kok ya kebetulan ada pisang yang baru saja dipanen dari pohonnya. Passs…..

Mungkin sekitar satu jam lebih sedikit aku ngobrol dengan beliau, hingga kuputuskan untuk pulang karena dari kejauhan sudah terdengar suara gemuruh petir dan langit yang tampak semakin gelap dan berat. Sekitar 4 km jalan corblok dari pantai sampai di tepi jalan raya hanya satu-dua kali saja aku menuntun sepedaku, karena memang saking curamnya tanjakan yang ada. Tepatnya adalah di dekat parkiran menuju Pantai Wohkudu, pantai yang letaknya di sebelah timur pantai Kesirat. Katanya sih, pantai itu berupa pantai berpasir, tak seperti Kesirat yang berupa tebing karang. Namun memang aku tak mampir ke pantai itu, karena memang tujuannya adalah Kesirat. Hehe…

Langit yang semakin gelap memang jujur. Sekitar waktu asar, akhirnya hujan deras turun juga. Kuputuskan untuk berteduh saja di sebuah warung kelontong persis di dekat perempatan Legundi. Panggang masih sekitar 4-5 km lagi. Satu jam kemudian, hujan pun sedikit reda. Jadi aku pun melanjutkan perjalanan pulang.

Pukul 16.00 saat itu rasanya sudah seperti tepat menjelang maghrib, karena langit yang benar-benar gelap. Tak sampai satu kilometer di utara pertigaan Panggang, hujan pun turun lagi. Dan kali ini sepertinya lebih deras. Aku berteduh lagi di sebuah pos ronda yang di sebelahnya terdapat sebuah warung kecil. Lama menanti hujan reda di situ, ternyata kemudian si ibu pemilik warung datang dengan berpayung membawakan singkong yang baru saja selesai digoreng dan segelas teh panas. Wuah, memang cocok di saat-saat yang dingin seperti itu. Dan mungkin, seperti itulah seninya sepedaan kehujanan dan belum bisa segera sampai ke rumah. Hehehee…

Tak lama, meskipun masih hujan, akhirnya aku pun tetap pulang dengan memakai jas hujan. Agar tak kemalaman saat sampai rumah nanti, dan karena memang jalanan antara Panggang sampai Siluk yang masih berkelok-kelok dan naik-turun, jadi lebih baik dilewati selagi masih ada cahaya matahari meskipun larut dalam guyuran hujan (halah)…..

5 thoughts on “Kesirat, Tebing Karang & Pohon Abadi

  1. jd kangen sepedaan jauh2 lagi, ntar kalo ke jogja lg ah, disini males banget haha
    & itu saya baru tau kalo terminalia catappa disebut pohon abadi

  2. pemandangannya indah … tapi ngeri2 longsor ya ..
    ada pohon keabadian juga …. di jakarta juga belum lama ini di tanam pohon “baobab” keabadian …. unik dan keren pohonnya

    • Iya Oom.. maklum itu pantai tebing/karang, bukan pantai yang ada pasirnya. Cuma nggak beberapa jauh di sebelahnya ada juga yang berpasir. Itu sih sebenernya yang ngasih nama ya para pengunjungnya itu, kalo nggak salah. :D

  3. Pingback: Pantai Ngedan, Satu Tempat Banyak Pilihan | Denmas Brindhil - Situsé

  4. Pingback: Wohkudu & Kesirat, Berbeda Waktu di Tempat yang Sama | Denmas Brindhil - Situsé

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s