Kungkum di Blue Lagoon


20150219

Untuk sampai ke tempat itu, menurutku bisa dari dua jalur utama. Pertama, lewat Jalan Solo. Dari kota Jogja ke arah timur sampai kira-kira km. 10, atau sebelah timur bandara, ada plang ke arah Candi Sambisari. Dari situ terus saja ke utara, melewati Candi Sambisari, Perumahan Pertamina, perempatan Sidorejo terusa saja ke utara. Nanti akan sampai di RS Mitra Paramedika. Nah, dari situ tinggal ke utara lagi beberapa ratus meter saja, sebelum Pasar Jangkang, kemudian masuk gang ke arah timur, sampai. Kedua, lewat Jalan Kaliurang. Lurus saja ke arah utara (ke arah Kaliurang) sampai kira-kira km. 13, ada pertigaan dengan Indomaret di sebelah barat jalan. Dari situ kemudian ke arah timur, terus saja mengikuti aspalan yang halus, sampai di Pasar Jangkang. Lalu ambil arah ke selatan, tak jauh, kira-kira hanya sekitar seratus meter saja, ada plang bertuliskan Blue Lagoon, dan masuk jalan desa ke arah timur, sampai. :D

Hari itu bertepatan dengan libur Hari Raya Imlek, alias Tahun Baru bagi warga Tionghoa. Buat mereka yang merayakannya, tentu saja hari itu adalah hari raya, hari yang ramai. Namun, bagi yang tidak merayakannya, hari itu adalah hari libur dan kesempatan untuk dolan.

Setelah diawali dengan sepedaan ke Warung Ijo Pakem (seperti layaknya di hari Minggu pagi), kami (saya, Mas Moakh, Mas Rd, Revo, Fauzan Begol, dan surprise-nya ada Mbak Sitsit, dari Klaten) menuju ke Blue Lagoon. Kalau dari Pakem yaa kira-kira berjarak 7 km, melewati jalan-jalan desa, hingga akhirnya sampai di Pasar Jangkang, dan seterusnya.

Sampai di parkiran Blue Lagoon, ternyata ada Pak Daniel, yang memang hari itu tujuan beliau juga ke tempat itu. Maka kebetulanlah hari itu. Kukira awalnya Pak Daniel juga dari Pakem, ternyata malah dari Tugu, dari tengah kota. Mas Tebe pun kemudian datang dengan anak sulungnya.

Hari itu, sesampainya di Blue Lagoon, diawali dengan celotehan, “Makanya kenalan…, makanya dolan bareng…, jangan sok individualis.., dolan kok sendiri terus, kayak nggak mau kenal temen lain, komunitas lain…”. Sudahlah, beberapa kalimat dan kata-kata itu memang sejenak sengaja keluar dari aku dan beberapa teman. Dan kami anggap hanya guyonan saja. Hehehee…

Harga tiket masuk dan parkirnya menurutku malah lebih mahal parkirnya. Lha wong untuk motor saja Rp. 2000,-, sedangkan tiket masuknya cuma separuhnya, alias Rp. 1000,-. Tapi kalau mau menyewa ban untuk main-main atau rompi pelampung, dikenakan biaya tambahan, antara Rp. 2000,- hingga Rp. 5000,-.

Entrance Fee

Mari kita bahas mengenai istilah ‘lagoon’ yang dipakai di nama tempat itu, ‘Blue Lagoon’. Lagoon dalam bahasa Inggris bisa diartikan sebagai kubangan air asin yang ada di tepi pantai. Dalam bahasa Indonesia menjadi laguna. Laguna terjadi saat air pasang naik membanjiri kubangan (cekungan daratan) di tepi pantai, kemudian saat surut, air laut tersebut tertinggal di kubangan itu, jadilah laguna. Jadi sebenarnya tidak ada hubungannya dengan kenampakan yang terdapat di Blue Lagoon itu sendiri. Menurutku, kalau di daerah Kulon Progo atau Gunungkidul, kenampakan seperti di Blue Lagoon itu disebut dengan kedhung, istilah Jawa-nya seperti itu. Dalam bahasa Indonesia mungkin bisa dideskripsikan sebagai cekungan yang agak dalam di sebuah aliran sungai. Nah, seperti itulah kenampakan yang ada di Blue Lagoon.

Tapi biarpun sudah jadi sedikit salah kaprah, Blue Lagoon tetap menjadi onjek yang menarik untuk dikunjungi. Atraksi yang utama adalah kungkum dan ambyur-ambyuran di kedhung tadi. Sebenarnya itu adalah sebuah sungai biasa yang ada sebuah bendungan di situ. Setelah dibendung itu, aliran air menjadi lebih deras, dan kebetulan di bawah bendungan itu tempatnya berupa cekungan yang agak dalam. Kira-kira dalamnya antara 2,5 – 3 meter. Lumayan dalam untuk ukuran kolam renang. Pun bagian yang berupa kedhung tadi juga lumayan luas. Dari tempat yang mulai dangkal sampai tepat di bawah bendungan mungkin sekitar 10-12 meter, sedangkan lebarnya (lebar sungai) antara 5-7 meter. Dengan arus air yang lumayan deras, tempat itu juga cocok untuk latihan berenang. Untuk gaya katak yang santai-santai saja, lama kelamaan akan terbawa arus juga. Lebih cocok jika menggunakan gaya bebas atau krol (istilah lama; entah dari bahasa mana). Kecepatan renang dengan gaya bebas mungkin sedikit lebih cepat dari kecepatan arusnya, sehingga sedikit demi sedikit bisa berenang mendekati grojogan di bawah bendungan.

Arrival
Sebelum main air.

Buat yang suka tantangan dan memacu adrenalin, bisa mencoba ambyur atau terjun ke dalamnya dari ujung bendungan, atau malah bisa naik ke pepohonan yang ada di salah satu sisi kedhung dan terjun ke bawah. Beberapa teman yang mencoba bilang bahwa hanya sedikit kakinya yang menyentuh dasar dari kedhung itu, dan dasarnya sebagian besar berpasir, jadi terasa empuk (jika memang sampai menyentuh dasarnya). Tinggi ujung bendungan sampai ke permukaan air kira-kira 5 meter. Jadi ya lumayan juga, bisa membikin jantung sedikit dag-dig-dug saat terjun ke dalam air.

Morning Bath
Sepasang kekasih yang sedang asyik berfoto di Blue Lagoon.

from Mas Rd's Lumia 620 edited
Banyak orang yang sekedar kungkum karena tak berani ke tempat yang dalam.

Meskipun sumber air di tempat itu mayoritas adalah air sungai (karena menurut warga sekitar, terdapat juga sumber air di sekitar tempat itu), kesegaran dan kebersihannya bisa dibilang bagus. Pun bisa dibilang tak ada sampah di aliran sungai itu. Saat mencoba menyelam, mata pun tak terasa pedih. Berbeda dengan saat di kolam renang, mata akan lebih cepat terasa pedih, karena ada kaporit di dalam air di kolam renang. Rambut pun tak mudah kusut setelah keluar dari ambyur-ambyuran di Blue Lagoon. Mungkin, ke depannya, hal yang bisa ditambahkan di tempat itu adalah fasilitas bilas, atau bersih-bersih setelah berenang. Namun begitu, kamar untuk ganti pakaian sudah tersedia.

In The Streams

Afterbath

Oiya, selain atraksi utama tadi, ada pula bagian lain dari Blue Lagoon yang bisa dicoba untuk dinikmati. Aliran air di sebelum bendungan arusnya tak terlalu deras. Warga sekitar memanfaatkannya sebagai spa ikan, dengan ditebarkan ikan kecil-kecil. Kalau kaki dicelupkan ke dalam air, ikan-ikan kecil itu akan menciumi atau memakan sisa kulit kaki yang terkelupas, atau malah membersihkan kaki dari kotoran. Aliran sungan setelah kedhung menjadi dangkal dan berbatu. Tak jauh dari situ, menurut warga setempat, ada pancuran yang mengucur ke bawah, yang bisa dimanfaatkan sebagai fasilitas pijat air. Cukup mengarahkan punggung atau bagian tubuh yang lain ke arah air dari pancuran itu jatuh, pasti akan terasa seperti ditekan-tekan saat dipijat.

Main Map

Kalau memang sudah cukup berenangnya dan sudah berganti pakaian, tak ada salahnya mampir sebentar di warung jajanan yang ada di tempat itu. Beli minuman panas atau sekedar nyemil gorengan, untuk mengisi energi lagi, setelah kedinginan dan capek karena ambyur-ambyuran, bisa menjadi pilihan sebelum kembali ke parkiran dan pulang ke rumah.

Bermain air, berenang dan ambyur-ambyuran memang tak terasa. Keasyikannya mengalahkan panas di siang hari itu. Sekitar pukul 11 siang kami pun beranjak untuk pulang ke rumah masing-masing.

…dan tak sampai satu jam setelah masing-masing dari kami sampai di rumah, mungkin sekitar setelah tengah hari, hujan pun turun lumayan deras. Untung saja sudah sampai rumah… Demikianlah piknik di liburan Imlek hari itu…

4 thoughts on “Kungkum di Blue Lagoon

  1. Pingback: Editan dari Hapé Sémi Jadul di Saat Ini | Denmas Brindhil - Situsé

  2. Pingback: Dosa yang Nikmat; Curug Sidoharjo | Denmas Brindhil - Situsé

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s