Individualis & Sosialis


20150210

Selasa siang (10/02) saat iseng-iseng ngecèk Facebook, ada notifikasi kalau Mas Rd alias Oom Warm nge-tag saya di kirimannya yang ada di wall saya. Baca saya baca, lalu komentar berbalas komentar. Di komentarnya yang terakhir, beliau menyertakan tautan ke postingan yang ada di blognya.

Dari postingan itu, sedapat membaca saya, isinya membahas kenapa suka sepedaan sendirian. Beberapa alasan yang positif tentang sepedaan sendirian sudah disebutkan di postingan Mas Rd itu. Nah, ini saya Cuma sekadar nambahi saja.

Ada baiknya kita coba kembali ke masa-masa saat masih SD atau SMP. Coba kita ingat-ingat pelajaran PPKn atau IPS (kalau tidak salah lho ya). Manusia adalah makhluk individu sekaligus makhluk sosial, atau bisa juga disebut sebaliknya. Coba kita analogikan dengan saat sepedaan. Kadang kala kita memang asyik menikmati sepedaan bareng teman-teman. Entah keliling kota atau hanya sekadar nongkrong-nongkrong. Namun kala lain, ada juga saat saya (atau Njenengan, atau dia) ingin sepedaan sendirian.

Baiklah, kita menjadi makhluk individu saat sepedaan sendirian. Mengulik postingan Mas Rd, memang benar kalau sepedaan sendirian itu bisa bebas. Saya (atau Sampeyan, atau dia) bisa bebas menentukan mau sepedaan ke mana, berangkat jam berapa, istirahat di mana, dan kawan-kawannya. Namun selain itu, buat saya, sepedaan sendirian itu bisa jadi saat buat introspeksi (halah, sebenernya sih ya buat mengagumi dan mensyukuri apa yang sudah kita punyai dari Gusti). Itu saja. Orang lain pasti punya alasan yang lain lagi.

Nah, saat sepedaan bareng teman-teman itulah saatnya menerapkan manusia sebagai makhluk sosial. Saat ketemu teman-teman, kita bisa saling menceritakan pengalaman masing-masing. Dengan mendengar cerita dari orang lain, bisa jadi menambah pengetahuan bagi saya (atau Anda, atau dia). Dengan saling bertukar informasi itu kita bisa saling melengkapi yang kurang menjadi genap (kalau bahasa Jawa-nya sih kurang genep; di bahasa Indonesia apa coba?). Bisa juga saat ketemu dengan teman itu adalah saatnya membanggakan apa yang telah dilakukan. Contohnya, “Aku kemarin nyepeda sampai segitu jauhnya lho” atau “Aku minggu lalu nyepeda ke sana. Kamu udah pernah belum?”. Begitulah. Tapi ya jangan sampai saat itu menjadi saat-saat sombong. Hadèh.

Manusia sebagai makhluk individu dan sosial, ternyata ada gunanya juga pelajaran SD dan SMP dulu… Selamat belajar.. mari menambah pengetahuan…..

3 thoughts on “Individualis & Sosialis

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s