Sejenak Mampir di Lumbung Pak Dennis


At Mr. Dennis' House
Aku, Kwon, Se Hee dan Revo, di depan lumbung di rumah Pak Dennis. Foto oleh Revo.

20150130-0201

Sebetulnya, kali ini yang kedatangan tamu adalah Revo. Namun sudah sejak beberapa hari sebelumnya dia bilang kalau tamunya datang, dia minta tolong untuk ditemani. Oke lah…

Dua bule Korea, pasangan suami istri yang memang freshly married menghubungi Revo via akun WarmShowers.org, katanya baru kali ini mereka berdua mengontak orang lewat situs tersebut. Dan kemudian Revo dan aku bertemu dengan mereka di UC UGM. Kwon Hyeok Mam, dan istrinya Park Se Hee.

Sejenak ngobrol, awalnya mereka akan menginap di rumah Mas Bagus Bulu. Namun katanya yang punya rumah akan pergi malam tersebut dan sehari berikutnya. Kemudian sempat terpikir (dan memang sempat menghubungi) kenalan penginapan di daerah Pasar Kembang, Malioboro. Namun ternyata pas sedang penuh. Hingga akhirnya aku ingat message Facebook Pak Dennis beberapa minggu yang lalu, yang katanya lumbung di rumah beliau bisa dipakai jika ada cyclist traveller yang kebetulan singgah. Setelah menelepon (dan juga ditelepon) Pak Dennis, akhirnya kami pun menuju ke rumah Pak Dennis di Jalan Pandega Marta, dekat Ringroad utara.

Malam harinya, hujan turun lumayan lebat. Dan tampaknya rata. Namun untungnya setelah sejenak deras, tak beberapa lama kemudian berangsur menjadi gerimis, hingga akhirnya reda juga sekitar jam 8 – setengah 9 malam. Aku bertemu Revo di Indomaret tak jauh dari rumah Pak Dennis, dan kemudian menuju ke sana. Mungkin karena setelah hujan, mungkin juga karena memang lapar, kami berempat jalan kaki ke warung terdekat. Yang paling dekat adalah warung bakmi. Kukira bakmi jawa, eh ternyata bakmi ‘surabaya’, yang cara masaknya a la chinese food. Semabri makan, kami pun ngobrol kesana kemari.

Setengah hari yang kehujanan

Seperti yang sudah dikira-kira akan dilakukan di hari Sabtu, kami menuju Kraton untuk jalan-jalan. Ya itung-itung sembari piknik kecil-kecilan. Karena buatku, jika tidak salah, ini baru ke-tiga kalinya aku masuk ke Kraton. Hadeh.

Hari Sabtu itu kami ajak juga Mas Rd (alias Oom Warm) untuk ikut juga. Sepertinya Mas Rd menjadi tertarik karena sepedanya dan sepeda dua bule Korea itu sama-sama Surly, hanya beda serinya saja. Hehehe.

Berkeliling Kraton rasanya memang seperti wisatawan, karena selain memang masuk objek wisata, juga ada guide yang menjelaskan bagian per bagian yang ada di dalamnya. Nah, tentang bagian per bagian ini ku-skip saja. Kalau memang ingin lebih detil, silakan berkunjung langsung saja ke Kraton. Toh biaya masuknya pun tak terlalu mahal. Untuk wisatawan lokal dikenai biaya Rp. 5000,-, sedangkan untuk orang asing Rp. 12500,-. Jika membawa kamera, entah kamera hape, pocket atau DSLR, dikenai biaya tambahan Rp. 1000,-. 

Jalan-jalan di dalam Kraton memang tak terasa. Tiba-tiba saja kok sudah tengah hari. Mas Rd harus pulang untuk menjemput anaknya, sedangkan kami berempat menuju alun-alun kidul untuk makan siang.

Satu tempat yang selalu ramai, di hari biasa saja ramai, apalagi di akhir minggu, adalah warung Handayani. Kwon dan Se Hee yang tak tahu apa-apa soal menunya pasrah saja, menyuruh Revo untuk memilih menunya. Akhirnya mereka mencicipi nasi brongkos dan pecel.

Satu hal yang menjadi keinginan Kwon sejak semalam sebelumnya adalah minum bir. Jadi, setelah makan siang kami menuju toko kelontong modern tak jauh dari Prawirotaman, dan kemudian Kwon pun membeli bir itu. :v

Setelah tengah hari itu sebenarnya cuaca sudah mulai berubah. Dari yang awalnya cerah, sinar matahari selalu tampak, kemudian menjadi mendung dan gelap. Ada hal yang belum terlaksana, yaitu membeli kardus untuk mengepak sepeda mereka esok hari (karena harus terbang ke Malaysia). Ternyata di toko sepeda Tepat kardus yang cocok, dan beranjaklah kami pulang, kembali ke tempat Pak Dennis.

Dan benar saja. Saat sampai di sekitaran Jalan Pasar Kembang, hujan pun turun. Kami pun berteduh, sembari Se Hee mencari tempat penukaran uang (karena uang Rupiah yang mereka bawa hampir habis). Mungkin ada setengah jam kami menunggu di depan money changer itu sampai hujan reda, namun ternyata tak reda sepenuhnya.

Sejenak gerimis ringan kami pun belaju lagi. Eee tapi ternyata tak jauh juga. Kami harus berteduh lagi karena gerimis kembali menjadi hujan. Kali ini di depan bengkel Ahass Honda di Jalan Mangkubumi. Lumayan lama kali itu, mungkin lebih lama daripada di depan money changer tadi.

Asyik menunggu, ternyata bengkel pun akan tutup. Jadi ya terpaksa kami meneruskan pulang.

Hujan memang benar-benar turun setengah hari itu. Kami harus kembali berteduh saat sampai di depan Hotel Tentrem. Kebetulan ada toko kelontong modern lagi di dekatnya. Kwon sepertinya senang-senang saja karena ada kesempatan buatnya untuk lagi-lagi membeli bir. Hahahaa.

Sekitar menjelang maghrib, baru kami sampai di tempat Pak Dennis. Dan satu hal yang agak bikin sebel adalah tidak lama setelah kami sampai, hujan pun benar-benar reda. Terang benderang. Ealah.

Sampai jumpa via e-mail

Sudah sejak di Bali (mungkin) mereka memesan tiket pesawat ke Malaysia. Hari Minggu pagi aku dan Revo mengantar dua bule Korea itu ke bandara. Aku dan Revo naik motor, mereka ikut pick-up yang juga membawa barang-barangnya yang sudah di-pack dalam beberapa kardus.

Sebelum mereka masuk untuk check-in, mereka mengajak Revo dan aku utnuk sarapan. Buat mereka sarapan, tapi aku dan Revo cukup wedangan saja. Sambil lagi-lagi ngobrol entah ke mana, hingga akhirnya jam menunjukkan bahwa mereka harus masuk untuk check-in dan kemudian berangkat. Ya, sampai jumpa di lain waktu, sampai jumpa di Facebook, sampai jumpa via e-mail.

‘Mengapa Bali?’ sampai ke Agnostik

Ternyata Indonesia adalah negara pertama yang mereka kunjungi, dan Bali adalah tempat pertama yang mereka jejak di Indonesia. Aku sempat iseng bertanya, kenapa Bali jadi pilihan pertama? Se Hee yang menjawabnya, katanya, beberapa temannya menjadikan Bali sebagai tempat tujuan honeymoon, dan Se Hee pun menginginkan hal yang sama. Cuma bedanya, bulan madu mereka dilanjutkan sampai keliling dunia. Katanya pula, finish sepedaan mereka adalah Moskow, Rusia, dan kemudian kembali ke Korea Selatan dengan naik kereta api Trans Siberia yang memakan waktu sekitar dua minggu, dari Moskow sampai ke Vladivostok.

Pada hari Sabtu, setelah berkeliling Kraton, kami pun jajan makan siang di warung Handayani, alun-alun kidul. Baru saat itu Kwon kemudian mengungkapkan bahwa sebenarnya dia tidak terlalu suka dengan hal-hal yang berbau budaya, sejarah dan tradisional yang terlalu detil. Katanya dia lebih menikmati pemandangan alam, lanskap kota, dan hal-hal lainnya yang berkaitan dengan alam. Tapi kemudian dia bilang, paling tidak sudah mengunjungi salah satu tempat yang ada di daftar tempat wisata yang ada di buku panduan tentang Indonesia yang mereka punya. Hehehee.

Kwon sempat bercerita kalau pada awalnya dia adalah penganut Katolik yang taat. Sejak saat kecil kakeknya mengajarkan nilai-nilai agama padanya. Namun lambat laun waktu berjalan, Kwon bertanya pada kakeknya, mana yang sebenarnya, antara cerita di dalam agama atau berdasar ilmu pengetahuan? Ia pun mencontohkan dengan teori Darwin, yang katanya manusia berasal dari nenek moyang yang sama dengan kera. Namun kata kakeknya, “Apapun itu, kamu harus percaya dengan apa yang agama ajarkan. Harus percaya.” Menurut Kwon, itu adalah suatu keharusan yang tak bisa disandingkan dengan kenyataan riil. Maka, katanya, dia pun sedikit demi sedikit kehilangan kepercayaan dengan apa yang disebut dengan agama itu. Tapi dia tetap percaya bahwa segala sesuatunya di dunia ini adalah sebenar-benarnya proses alam, sesuatu yang memang berjalan seperti itu. (Namun kemudian aku iseng-iseng membuka laman Facebook Kwon dan Se Hee. Mereka yang baru saja menikah, di pernikahannya, mereka menggunakan adat barat, ya seperti kalau kita menonton film-film buatan Amerika sana.)

Dan ternyata, Kwon pun kagum dengan perempuan yang mengenakan jilbab yang dia lihat. Katanya, dengan berjilbab, menurutnya jadi lebih cantik. Tapi sebenarnya dia tahu bahwa aslinya, di Arab sana, jilbab itu digunakan agar tak menarik perhatian lelaki. Tapi yang namanya cantik, ya tetap saja dibilang cantik, tapi ya cuma cantik di muka, katanya. Dan Se Hee pun kemudian memukul lengan Kwon, sepertinya sebel mendengar Kwon membicarakan tentang perempuan pada umumnya. Mungkin cemburu ya. Hehehee.

Satu hal yang menggelitik di saat aku dan Revo ke tempat mereka menginap pada Sabtu malam itu. Kwon bertanya, kalau berdasar agama dan budaya di sini (Indonesia), orang belum boleh melakukan hubungan seks sebelum menikah ya? Begitu tanyanya. Kemudian kujawab saja : Ya resminya memang seperti itu. Tapi kalau memang mau melakukan hubungan seks, asal sama-sama suka dan mau, ya bisa-bisa saja. Tapi jangan sampai ketahuan. Karena memang budaya di sini tidak sebebas seperti di negaramu (Korea). Kwon pun membalas dengan sedikit mengejek : Ah, betapa kasihan kalian, tak bisa sebebas kami. Hahahaa…

2 thoughts on “Sejenak Mampir di Lumbung Pak Dennis

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s