Yang Berjudul di Awal Tahun


20150104

Sebenarnya mungkin sudah sekitar dua atau tiga minggu sebelumnya, Mbak Ranz minta tolong untuk di-booking-kan kamar hotel murah meriah untuk menginap semalam. Dan memang ku-booking-kan di hotel dalam kampung di dekat RS Panti Rapih.

Katanya, awalnya hanya ber-6, jadi butuh dua kamar (masing-masing untuk tiga orang). Ya memang awalnya dipesankan dua kamar itu. Namun ternyata saat tiba di Jogja, ada tujuh orang, itu pun sudah minus satu personil. Wohooo…..

Rombongan Mbak Ranz dkk. memang di awal tahun ini mbolang ke Borobudur dan Jogja. Tanggal 2 Januari, persis sehari setelah tahun baru, mereka berangkat dari Semarang ke Borobudur. Tanggal 3 paginya, mereka jalan-jalan di Borobudur, dan siang harinya rombongan menuju Jogja.

Sekitar waktu asar, mereka sampai di Bunderan UGM, karena memang kuberi ancer-ancer itu. Selain Mbak Ranz, ada Pak Djoko, Mas Arwin, Mas Denny, Kak Dwi’, dan Tami. Satu personil yang berkurang adalah Miss Nanna, yang memang kudu balik ke Semarang (setelah menginap semalam di Borobudur). Dari ketujuh orang itu, dua orang, Mas Arwin dan Mas Denny jadi supporting staff, alias numpak motor dan membawakan beberapa barang yang sedang nyepeda. Buat Tami, katanya ini yang pertama kali gowes Semarang-Jogja dan pertama kali pula menginjakkan kaki di Kota Jogja. Salut deh…

Malam harinya, kebetulan saat itu pas malam Mingguan, dihabiskan dengan kulineran di seputaran Jalan Mangkubumi. Tentu saja puncaknya adalah nongkrong di angkringan kopi joss (yang harganya menurutku adalah harga wisatawan; bukan lagi harga angkringan), dan berfoto ria dengan background Tugu.

Susur Selokan Mataram & Gowes Candi-Candi

Hari Minggu pagi, buatku, masih sempat sejenak ‘Pakeman’, dan kemudian menemui lagi Mbak Ranz dan teman-teman. Hari itu, tujuannya adalah ke arah timur, yang pada akhirnya nanti mereka akan ke Solo.

Sekitar jam 9 pagi – setengah sepuluh Mbak Ranz check out dari hotel. Eee, ternyata ya tidak langsung menuju ke timur, tapi tetap ke Malioboro dulu (karena malam hari sebelumnya belum sempat; dan mumpung sudah sampai Jogja). Ya sudahlah. Dan ternyata hanya beberapa kali jeprat-jepret kameranya, dan kemudian perjalanan pun dilanjutkan.

Mas Denny dan Mas Arwin yang motoran sudah menunggu di SPBU dekat Jembatan Janti. Setelah ketemu, kami menuju arah Babarsari, lalu menyusuri Selokan.

Mulai dari jembatan Babarsari, yang biasanya jadi tempat latihan teman-teman mapala, terus ke arah timur. Salah satu keasyikannya adalah harus mengangkat sepeda melewati ringroad Maguwo yang ‘memotong’ jalan sepanjang Selokan. Mas Arwin dan Mas Denny yang motoran pun harus memutar agak jauh agar bisa tetap bareng dengan rombongan.

Candi Sambisari menjadi tujuannya. Meskipun sedikit memutar, karena aku yang bikin rute (hehehee), tapi ternyata tak selisih jauh dengan jalan yang biasanya langsung menuju candi dari Selokan. Di Candi Sambisari, rombongan hanya foto-foto saja di luar pagar di halaman depan, dan kemudian malah ngangkring di angkringan bertenda biru yang ada di dekat situ. Tak lama kemudian, Mas Tebe muncul. Mungkin dia ikut sepedaan karena pagi harinya bangunnya kesiangan dan tak sempat Pakeman. Hehehee…

Beranjak dari Sambisari, kami tidak langsung kembali menyusuri Selokan, tapi ke arah timur dari Candi Sambisari, melewati depan kantor desa Purwomartani, desa di mana Candi Sambisari berada. Baru beberapa saat setelah itu, dengan jalan yang mayoritas mengarah ke selatan dan timur, ketemu lagi dengan Selokan Mataram. Terus menyusur ke timur, kami sampai di jalan raya ogja-Solo. Tak jauh dari tembusnya Selokan di Jalan Solo itu, ada candi satu lagi yang didatangi, Candi Sari, dan letaknya hanya sekitar 100 meter dari jalan raya.

Candi Sari, Kalasan

Tentu saja yang asyik berfoto ria ya Mbak Ranz, Tami, dkk-nya. Aku pun baru kedua kalinya itu masuk dalam pagar kompleks Candi Sari. Sedangkan Mas Tebe yang rumahnya tak jauh dari Candi Sambisari tadi, baru pertama kali masuk ke Candi Sari. Hehehe…

By the way, by the way, ini kedua kalinya dalam seminggu aku ke Candi Sambisari dan Candi Sari. Lima atau enam hari sebelumnya, aku juga ke dua candi itu, tapi waktu itu bareng Zhou Lijuan, bu guru Bahasa Mandarin (teman kantor Mas Bimo, menantunya Pak Pandi) yang sedang liburan Natal & tahun baru di Jogja. Tapi ternyata pak satpam yang menjaga di Candi Sari sudah lupa denganku. Hehee…

Semakin siang, dan semakin siang. Rombongan Mbak Ranz harus segera menuju Solo agar tidak kesorean saat sampai di sana. Kami pun berpisah di dekat gapura batas provinsi di luar kompleks Candi Prambanan… Sampai jumpa di lain waktu ya…..

6 thoughts on “Yang Berjudul di Awal Tahun

  1. 1) Nginep di daerah Sagan ya? Dulu waktu kul S1, satu sobatku ngekos di jalan samping RS Panti Rapih, kalo masuk daerah situ (meski tentu kondisi sudah jauh berbeda), aku bakal bernostalgia banget :)

    2) Oooo … ternyata di Malioboro cuma mampir mejeng doang? :D

    3) Asik juga ngeliat foto pada berderet-deret di samping jalan sepanjang Selokan Mataram, kalo aku hanya berdua Ranz kan maksimal hanya kita berdua, hohoho. Jadi inget tahun 2011 lalu aku dan para siswaku bersepeda sepanjang Selokan Mataram (salah satu agenda field trip), dulu sempat juga foto begitu :D

    4) Ternyata ga dilewatin Candi Plaosan ya? Meski hanya foto doang di luar pagar.

    5) Angkringan di luar Candi Sambisari harganya beneran harga angkringan yak? Ga kayak di Kopi Joss? hehehehehe

  2. Berarti kamu ternyata mudah dilupakan yak? hahahahaha …

    Waktu kita mampir makan malam di alun-alun Magelang, si tukang parkir masih inget aku lho yang mampir ke tempat yang sama bulan September lalu untuk makan siang. Pertamanya, Ranz berbisik ke aku, “Lho Miss, itu tukang parkir yang nyapa kita waktu kita mampir kesini bulan September lalu.” (dia ga mau kuberi uang untuk biaya parkir 3 sepeda.) Eh, seperti si tukang parkir denger, dia kemudian bilang, “Si Ibu itu pernah juga kesini naik sepeda beberapa bulan lalu.” :) Ranz bilang, “Loh, sampeyan masih ingat to Pak?” Dia jawab, “Ya masih ingat lah ya.” hohohoho :)

    • Wèdèh Miss, komènmu panjang nian.
      1) Ya ndak jauh-jauh béda lah. Seingetku dari dulu jalannya ya kotak-kotak 1 x 1 meter itu, sampai sekarang. Paling dulu nggak ada penginapan itu, sekarang ada.
      2) Lha manut saja to saya. Lha saya ya cuma menganterkan muter-muter.
      3) Wasééék, mengingat-ingat yang dahulu…
      4) Lha katanya selak kebelet menuju Klatèn dan Solo. Lha saya ya manut saja.
      5) Tenangna pikirmu, Miss. Angkringan yang di deket Candi Sambisari masih harga angkringan kok. Héhéé…

      Kayaknya sih iya sih. Bapaknya satpam semacam senyum-senyum tapi ragu, apa iya atau bukan ya ini masnya yang beberapa hari yang lalu…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s