Dilarang Buang Sampah Sembarangan


20141220

DSC01841 db resize

Foto di atas diambil saat di pertengahan November kemarin sepedaan mencari tanjakan ke Cinomati. Plang dengan tulisan larangan buang sampah semabarangan itu sepertinya juga baru, mungkin baru ada setelah Lebaran kemarin (padahal ini sok tahu; hehehe…).

Mungkin karena jalanan Cinomati yang menanjak dan berkelok-kelok, membikin orang punya pikiran : “Ah, buang sini aja nggak apa-apa. Toh nggak ada warga sekitar sini yang melihat.” Bisa jadi didukung pula dengan salah satu sisi jalan tanah yang meninggi dan sisi jalan yang lain jurang, menambah ‘kesempatan’ orang untuk curi-curi buang.

Iseng-iseng coba kita main ke pedesaan. Banyak orang punya rumah dengan halaman yang luas, entah halaman depan atau yang di samping. Kalau diperhatikan, kebanyakan (dari tiap-tiap rumah itu) punya yang namanya ‘jugangan’, atau tanah yang sengaja digali untuk dijadikan tempat membuang sampah. Kalau di desa, halaman rumah dengan banyak pohon, jugangan itu tadi ya isinya sampah dedaunan kering, dan juga sampah rumah tangga juga. Kalau sudah penuh, kemudian diurug dengan tanah, dan menggali tempat lain di halaman untuk dijadikan jugangan yang baru. Jugangan yang lama yang sudah diurug tanah secara tidak langsung akan menjadikan sampah dedaunan dan sampah rumah tangga itu kompos atau pupuk, dan otomatis juga akan menjadikan subur tanah di halaman itu. Menurut pendapat saya sih seperti itu. Hehee…

Ini lain cerita lagi. Mungkin tidak cuma saya yang pernah melihat orang naik mobil kemudian membuka jendelanya dan kemudian membuang sampah ‘kecil’, semisal tisu atau plastik bungkus camilan. Salah-salah barang yang dilemparnya keluar itu sampai di muka pengendara motor yang ada di samping belakangnya. Setelah kena muka pemotor, lalu jatuh ke tanah dan terkena angin hingga masuk ke selokan pinggir jalan. Jadi kasus lain, jadi penyebab saluran selokan macet karena sampah itu, lama kelamaan bisa membikin banjir juga. Kalau pikir saya sih, orang bisa membeli dan mengendarai mobil itu bisa dibilang kaya atau berkecukupan. Tapi mereka ‘kéré’ alias miskin dalam mental kepedulian dengan sesama makhluk (halah…). Pikiran mereka mungkin kebanyakan terisi dengan kata ‘beli’, ‘pakai’, beli, pakai, berulang ulang, tapi kurang mikir setelah pakai terus mau diapakan. Dan sebenarnya jawabannya gampang, ‘buang’. Tapi kembali ke judul di atas, buang sampahnya jangan sembarangan.

Mungkin, bisa jadi, ini ada hubungannya dengan program andalan presiden baru saat ini, Revolusi Mental?

4 thoughts on “Dilarang Buang Sampah Sembarangan

  1. “setelah kena muka pemotor”, koq rasane pengen ngakak moco kalimati itu :D. biasane sampah kecil misal: bungkus permen, tisu, dll saya kantongi dulu, trus klo nemu tempat sampah baru tak buang, mau buang sembarangan ki koq rasane ra tegel :D

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s