Kalitengah bisa jadi Klangon


20141025

Waktu itu sepertinya aku masih kelas 4 atau 5 SD, saat pertama kali diajak Bapak ke tempat yang namanya Kalitengah dengan motor GL 100-nya. Waktu itu sepertinya khawatir kalau hari segera hujan, tapi ternyata itu hanya ketidaktahuanku tentang keadaan di lereng gunung.

Dusun Kalitengah (Kidul dan Lor) terletak di sebelah timur hulu kali Gendol, Cangkringan. Awalnya, jalanan aspal ada persis di lereng kali Gendol sebelah timur. Namun setelah Merapi meletus tahun 2010, jalanan aspal itu sampai sekarang belum diperbaiki. Jalanan yang sudah berubah menjadi berpasir dan berdebu, kendaraan yang lewat tempat itu kebanyakan truk-truk pasir.

Dirt Road

Setelah menyeberang kali Gendol di sebelah timur kantor kecamatan Cangkringan, dan sedikit serong ke arah utara, jalan aspal yang layak dilewati mengarah ke timur, ke arah Pasar Butuh. Dari pertigaan pasar itu, jalan aspal menanjak ke utara, menuju arah Balerante. Awalnya, aku hanya tahu kalau jalan itu hanya menuju Balerante saja. Namun, setelah sampai Balerante, ada jalan cor sedikit ke barat yang ternyata menuju arah dusun Kalitengah, alias jalan lawas yang aku tahu sebelumnya.

Corner of The Crossroad

Di ujung jalan aspal, saat itu sebelum Merapi meletus, terdapat lapangan dan kebun anggrek. Lebih jauh naik lagi, merunuti jalan setapak, ada tandon air yang airnya digunakan untuk kebutuhan sehari-hari warga sekitar. Sekarang, sepertinya lapangannya jadi sedikit lebih luas, juga ada beberapa warung makan, namun tidak semuanya buka. Sedikit naik ke atas, ada semacam taman bermain dan gardu pandang yang dibangun oleh salah satu yayasan internasional.

Kalau dulu sebelumnya pernah ke tempat itu naik motor, terakhir ini aku naik sepeda. Kalau sampai Balerante sih sudah pernah sebelumnya. Tapi kalau sampai habisnya jalan aspal di Kalitengah ya baru kali ini. Dari pertigaan Pasar Butuh sampai Balerante itu jaraknya antara 4-5 km. Kemudian dilanjut ke arah Kalitengah, tambah lagi sekitar 4 km.

Tentang sepeda dan Kalitengah, setelah boomingnya sepeda di antara tahun 2010-2012, daerah Kalitengah jadi semakin ramai. Teman-teman yang suka downhill atau cross-country sering menyebutnya dengan Klangon. Biasanya, mereka menaikkan sepedanya ke pick-up dan mengantarkannya sampai ke titik start di penghabisan Kalitengah atau Klangon itu, baru kemudian mereka turun melalui jalan blusukan.

Kembali ke sepedaan ke Kalitengah ini. Ternyata eh ternyata, Klangon atau Kalitengah itu memang tinggi. Menurut data endomondo Kak Rizka, ketinggiannya sekitar 1200 mdpl. Ketinggian itu setara dengan Telaga Sarangan di Magetan, Jawa Timur sana. Dan Kalitengah sedikit lebih tinggi daripada Kaliadem atau Bebeng, tempat rumah Mbah Marijan dulu berada. Pun lebih tinggi dari Kaliurang yang terkenal itu, yang sekitar 900an mdpl. Jadi memang tak menherankan kalau tanjakannya luar biasa menarik, karena ketinggiannya juga bukan main.

Map & Elevation

Above Balerante

Jalanan menanjak membuat badan mudah berkeringat, namun keringat juga cepat terasa hilang karena efek dari ketinggian tempat itu. Lereng gunung selalu membuat sejuk. Angin dingin selalu terasa meskipun siang itu matahari jarang sembunyi di balik mega. (entah kenapa di paragraf ini kok serasa seperti berpuisi…)

Sebenarnya, sepedaan kali ini adalah ajakan dari Kak Wijna, meskipun aku mendapat infonya dari Kak Saktya dan Oom Bayu kalau tidak salah. Kontestan yang lain ada Pakdhe Timin, Mbak Jheje dan Mas Rd alias Oom Warm.

The River Below

3 thoughts on “Kalitengah bisa jadi Klangon

  1. Pingback: Sekilas – Sekelumit JamNas Federal 2016 | Denmas Brindhil - Situsé

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s