Old School Style


20141111

Hari Minggu pagi kemarin, seperti biasanya, adalah sebuah rutinitas untuk sepedaan ke Warung Ijo Pakem. Sebuah tempat di mana di hari Minggu itu banyak pesepeda mampir di warung itu untuk membeli jajan pasar dan segelas teh panas.

Beberapa kali sebelumnya, seringnya aku berangkat dari rumah Kalasan, dan biasanya juga janjian dengan Mas Tebe. Kemarin itu aku berangkat dari rumah Sagan dan janjian juga dengan Mas Tebe, untuk ketemu di jalan. Anehnya, karena ketemuannya tidak sedari awal menuju Pakem, masing-masing dari kami malah berangkat pagi-pagi, dan sampai di Warung Ijo Pakem sebelum jam 06.30.

Eee, ternyata sudah ada Bang Benz sudah sampai di sana. Ya, sementara hanya beliau saja yang kukenal dari sebanyak itu pesepeda di sana. Tapi setelah masuk warung dan ambil teh dan jajanan, ada juga Mas Guruh, Pak Yanto dan Oom Chandra.

Kembali ke Bang Benz. Setelah teh dan jajanan ada di tangan, aku, Bang Benz dan Mas Tebe duduk tak jauh dari sepeda. Banyak orang berseliweran di jalan, baik mau ke Warung Ijo atau bahkan pagi-pagi sudah pulang turun dari warung itu. Setelah beberapa saat ngobrol, kemudian Bang Benz mengomentari beberapa orang yang saat itu lewat di depan kami. “Nah, kuwi old school style. Jelas gayane wong ngepit lawas.” Ya, gaya ‘old school’. Gaya lawas. Setelah kutimpali dengan kalimat tanya, menurut Bang Benz, gaya old school ini adalah gaya riding sepeda yang nungging alias njengking (red – bahasa Jawa). Nungging, serasa gaya naik sepeda balap, meskipun yang dinaiki adalah sepeda MTB (entah baru, entah MTB lawasan yang masih hi-ten), dengan ketinggian stang yang sama dengan tinggi sadel, atau bahkan lebih rendah. Kenapa kok bisa gaya lawas? Karena pada masa itu, mungkin awal tahun 90an, MTB di saat itu framenya masih berukuran tinggi. Belum ada MTB hardtail atau full-suspension seperti layaknya sekarang, yang kalau orang menaikinya, dengkulnya pasti nekuk, tidak bisa kelihatan lurus.

Setelah kupikir-pikir lagi, menurut perasaanku, gaya naik sepedaku old school juga. Meskipun aku adalah pemuda jaman sekarang. Aku lebih suka naik sepeda dengan posisi njengking itu. Ya mungkin itu juga pengaruh dari bapakku yang mengajariku seperti itu, sehingga sudah jadi kebiasaan. Naik sepeda dengan dengkul kurang bisa sampai posisi lurus itu rasanya seperti dengkulnya pusing, kurang bisa mikir…

Tapi, ya begitulah. Itu cuma menurutku saja. Orang lain pasti punya pendapat atau cara yang lain.

4 thoughts on “Old School Style

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s