Festival Sendratari


Fèstival Sendratari

20141024

Mungkin sudah sejak hari Selasa atau Rabu (21 atau 22 Oktober) aku tahu tentang acara itu dari Nuri. Ya sebetulnya menurutku kurang jelas juga, festival sendratari seperti apa. Setahuku, karena beberapa kali pernah melihat, sendratari itu ya seperti umumnya yang dipentaskan di Prambanan sana.

Hari Kamis sore atau mulai menjelang malam, kalau tidak salah aku dan Nuri sempat berbalas SMS beberapa kali, namun malam itu kuputuskan untuk tidak menonton, karena harus ke daerah Moses, dekat kampus Sanata Dharma Mrican, untuk mengambil hape jadul yang diservis.

Festival Sendratari se-DIY yang diadakan di Taman Budaya Yogyakarta itu berlangsung selama dua hari, 23-24 Oktober. Karena yang tanggal 23 tidak jadi nonton, akhirnya aku nonton yang tanggal 24, hari Jumat malam.

Sejak siang hari kalau tidak salah, juga beberapa kali SMS-an dengan Nuri. Akhirnya sekitar jam 18.30 kuhampiri ke kostnya di Pogung dan menunggu beberapa teman lain yang sepertinya juga tertarik untuk ikut nonton. Sekitar waktu isya, kami pun berangkat, lima orang.

Dari jadwal yang tertera, acara dimulai pukul 19.30. Tapi ternyata jam segitu pun acara masih sedikit molor alias belum mulai.

Setelah pembawa acara muncul dan berucap beberapa saat, aku baru tahu kalau ternyata festival yang dimaksud adalah seperti itu. Seperti itu, ternyata adalah kompetisi dari kontingen yang mewakili kabupaten dan kota se-DIY. Kota Yogyakarta yang ceritanya menjadi tuan rumah alias penyelenggara tak ikut dalam kompetisi atau penjurian, namun ikut menampilkan sendratarinya.

Kembali ke kata ‘sendratari’. Mungkin ada yang penasaran dengan kata tersebut. Sependek pengetahuanku (karena aku memang tak membuka KBBI untuk mencari artinya) sendratari itu membawakan cerita dalam wujud tarian, dan seringnya tanpa ada dialog di antara para penarinya. Tarian diiringi dengan musik dan tembang yang dinyanyikan oleh sinden. Narasi cerita biasanya termasuk dalam tembang yang dinyanyikan tersebut, bisa di awal tarian atau di sepanjang musik itu bermain. Cerita yang dimainkan pun bisa cerita yang sudah ada sebelumnya (seperti Sendratari Ramayana di Prambanan) atau cerita karangan yang dibuat oleh sutradara sendratari itu.

Di festival sendratari ini, cerita yang dimainkan adalah cerita karangan sutradara. Jadi, ada juga penilaian untuk sutradara terbaik dalam festival ini.

Di hari kedua itu, ada dua kontingen yang tampil, kalau tidak salah dari Sleman dan Kulon Progo. Nah, setelah kedua kontingen tampil, sebagian penonton sudah mulai beranjak dari tempat duduknya dan keluar dari gedung. Mungkin karena merasa yang ditontonnya sudah cukup, karena acara intinya sudah lewat, pertunjukan utamanya sudah berlangsung. Padahal masih ada pengumuman siapa yang jadi pemenang nantinya. Tapi biarlah, yang ingin pulang silakan pulang, yang masih ingin nonton kelanjutannya ya silakan tetap tinggal di kursinya. Hehehe.

Eh ternyata ada selingan sebelum pengumuman pemenang. Menurutku, selingan itu lebih mirip cuplikan dari pertunjukan ketoprak di bagian dagelannya. Jadi selingan itu bisa membuat ketawa penontonnya (dengan catatan : paham dengan percakapan yang ada di dagelan itu). Hingga akhirnya tiba saat pengumumannya. Belum selesai dibacakan pengumuman, kami pun beringsut pulang dan kemudian mencari warung bakmi jawa.

One thought on “Festival Sendratari

  1. festival sendratari seperti gini keren, masih ada saja yg semangat menyelenggarakannya, peserta yang mengikutinya dan pengunjung yang menontonnya. lengkap!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s