Sehari Tanpa Nasi


20140911

Cups of Tea & Fried Cassava

Coba dibahasa-inggriskan judul tulisan ini. ‘A day without rice’ atau ‘One day no rice’?

Untuk bahan kampanye, mungkin pilihan yang kedua lebih ‘masuk’. Namun mungkin untuk pengartian dalam sebuah kalimat akan lebih ‘masuk’ pilihan yang pertama.

Awalnya hanya sekedar coba-coba, menuruti keinginan perut pribadi. Penasaran, apakah perut yang biasanya diisi nasi bisa bertahan dengan diisi menu lain. Upamanya pas sepedaan di hari Minggu, sarapannya hanya 2-3 buah jajan pasar yang dirasa cukup untuk mengganjal perut sampai menjelang siang. Ambillah contoh tahu atau tempe bacem sepotong, lalu semar mendem dan pisang godog 2 buah. Kemudian siangnya iseng-iseng beli lotek atau pecel, tapi tanpa ketupat/lontong atau nasi, namun diganti dengan tambahan tahu atau tempe. Malam harinya, atau sorenya mampir ke penjual singkong goreng, atau kalau memang niat ya beli saja singkong di pasar, lalu bisa direbus atau digoreng, terserah selera.

Sekali, dua kali, eh ternyata kok ya santai-santai saja alias tak ada beda terlalu jauh dengan biasanya yang selalu makan nasi di tiap makannya (pagi – siang – malam). Sepertinya menarik juga kalau kemudian dibikin program buat diri sendiri untuk menerapkan apa yang disebut di judul tulisan ini di awal tadi.

Seminggu kemarin, entah di hari apa, iseng-iseng kuketik kalimet seperti judul tulisan ini di Mbah Gugel. Eh, ternyata keluar juga hasilnya, dan tak hanya beberapa, banyak malahan. Entah di artikel apa, tertulis bahwa sebenarnya sehari tanpa nasi itu adalah salah satu program yang pernah dicanangkan pemerintah di tahun 2010. Perkembangannya, salah satu pemerintah daerah yang menerapkannya adalah Depok (bukan Depok dekat Ring-road UPN). Bahkan walikotanya menerbitkan buku dengan judul ‘One Day No Rice’ kalau tidak salah, seperti tersebut di paragraf awal.

Sebenarnya bukan ‘seekstrem’ itu lantas makan tanpa nasi. Misalnya ingin mencoba, bisa dengan mengurangi konsumsi nasi di salah satu hari dalam seminggu. Awalnya sehari tiga kali makan nasi, namun di hari itu dicoba hanya sekali makan nasi, dan dua waktu makan yang lain diganti dengan makanan lain yang mengenyangkan, bisa singkong, bisa kentang, atau ubi.

Ada yang bilang bahwa program tersebut adalah salah satu cara penerapan diversifikasi pangan, serta untuk mencari bahan pangan pokok alternatif. Sehingga untuk selanjutnya, orang Indonesia pada umumnya yang segitunya terbiasa dengan yang namanya nasi, akan mengenal bahan makanan pokok yang lain (selain nasi), namun fungsinya sama dengan nasi.

Menarik? Tidak menarik? Ya silakan saja. Toh kesenangan orang juga berbeda-beda. Tapi apa salahnya mencoba hal yang baru selagi hal tersebut bisa memberi pandangan baru….. :)

2 thoughts on “Sehari Tanpa Nasi

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s