‘Gadis Urban yang Mengalami Gangguan Kejiwaan’


20140905

Satay

Kota Yogyakarta di akhir bulan Agustus dan awal September 2014 ini sepertinya ‘kebanjiran’ acara. Mulai dari Pasar Kangen yang diadakan di Taman Budaya Yogya di pertengahan Agustus, lalu Yogyakarta Gamelan Festival (YGF) di tanggal 21-23 Agustus, sampai Festival Kesenian Yogyakarta yang nanti rampung di tanggal 9 September. Selain itu juga ada acara budaya lainnya sedikit di luar kota Yogya, Festival Gerobag Sapi yang diadakan di Stadion Maguwo tanggal 23-24 Agustus.

Lantas, apa hubungannya dengan judul yang tertera di atas? Sebentar.. sebentar… Kalo menurut saya, acara-acara yang sudah disebutkan sebelumnya bisa dibilang berkaitan dengan budaya dan tradisi. Lalu, penontonnya pun datang dari beragam kalangan.

Somewhere Only We Know

Saya cuma ‘mencomot’ dua acara sebagai contoh, Pasar Kangen di TBY dan FKY di Pasar Ngasem. Bisa dibilang kedua acara itu dibanjiri pengunjung. Dan dari banyaknya ‘booth’ atau stand yang ada di sana, ada beberapa stand yang ramai, jauh lebih ramai daripada yang lainnya.
Lanjut. Stand yang ramai dipadati pembeli adalah stand sate (sate kere dan beragam sate yang lain) dan stand thiwul, gathot, cenil, klepon dan kawan-kawannya. Siapa yang memadatinya? Siapa yang berjubel berebutan untuk membeli? Nah, kembali ke judul di atas. Gadis-gadis urban. Kenapa gadis urban? Ya, karena kebanyakan para gadis itu kemungkinan besar tinggal di wilayah perkotaan atau meskipun secara administratif di wilayah desa, namun sudah mengalami hal yang sangat modern.

Lantern(s)

Apa hubungannya hal yang modern dengan hal yang bersifat tradisional atau ‘ndeso’? Ya bisa saja kita hubungkan. Karena perkembangan jaman yang sangat maju alias cepat, membikin hal-hal yang masih bersifat tradisonal terpinggirkan dan kalah mode/tren. Dari kalah secara mode itu, lama kelamaan ada kemungkinan akan menghilang dari pasaran. Nah, Pasar Kangen dan FKY menjadi sarana bagi hal-hal yang mulai terpinggirkan itu untuk kembali muncul di zaman kekinian.

Coba lagi dikaitkan dengan gadis alias mbak-mbak yang sudah terkena era modern tadi. Sepertinya mereka begitu terobsesi dengan hal-hal yang bersifat ‘ndeso’ tadi, dirubungi sedemikan ramainya, antre pun tidak, malah seperti berebutan ‘aku yang lebih dulu’. Kenapa sebegitu bersemangatnya (mungkin bisa mengganti ‘terobsesi’) dengan ke’ndeso-an seperti itu? Sederhana. Karena di masa lalu (masa kecil) mereka sudah terjamah dengan kemodernan dan tak mengenal hal tradisi dan budaya itu. Sehingga saat di masa sekarang mereka, “Ini lho aku barusan makan klepon di Pasar Kangen”; “Ini lho Festival Gamelannya rame.. (mungkin tanpa mengenal seluk beluk pergamelanan itu sendiri)”, dan kemudian tersebarlah di media sosial. Share, share, dan share… Dan eksis di dunia maya. Nah, gangguan kejiwaanya ya yang berkaitan dengan dunia maya yang terlalu sering, sehingga dirasa malah menjauhkan yang ada di sekitarnya alias di lingkungannya sendiri…

Shadow Puppet

Kredit buat Windi, yang mengenalkan istilah yang menjadi judul. Mohon koreksi jika penyampaiannya masih terlalu dangkal, atau ada yang terbalik-balik; akhir muncul di awal, awal muncul di akhir, dan lain-lainnya. :D

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s