Mentari Tenggelam


20140525

(Di awal minggu, beberapa hari sebelum pergi)

Saat ini sudah seminggu terakhir di bulan Mei, dan sesaat kemudian akan masuk bulan Juni. Antara bulan Juni sampai Agustus di belahan bumi utara akan mengalami musim panas. Entah tepatnya tanggal berapa, aku lupa (dan itu ada di pelajaran IPA di SMP maupun SMA), matahari akan berada di garis balik utara, atau 23,50 Lintang Utara. Itulah puncak musim panas di belahan Bumi utara, sebelum nantinya matahri akan kembali menggelincir turun menuju ke khatulistiwa lagi.

Indonesia pada umumnya terletak di sepanjang garis khatulistiwa atau 00 Lintang (Utara maupun Selatan). Namun pulau Jawa berada sedikit di bawah garis khatulistiwa atau ada di garis Lintang Selatan. Saat matahari berada mendekati garis balik utara, akan tampak saat siang hari matahari agak condong ke utara. Hal itu membuat sedikit susah untuk mencari momen tenggelamnya matahri yang menarik, atau mungkin malah romantis.

Banyak foto, atau video, yang bisa dilihat di internet maupun televisi, momen tenggelamnya matahri atau sunset yang menarik adalah di pantai. Di pantai selatan Jawa, terutama di Jogja, di mana ada pantai yang bisa dijadikan tempat untuk menikmati sunset hingga saat matahari benar-benar menghilang di cakrawala? Apalagi saat ini matahari sedikit condong ke utara.

Jika ingin menikmati sunset di tempat yang agak berbukit, bukan di pantai, ada beberapa tempat yang bisa dijadikan tujuan. Dua di antaranya adalah di Boko dan di Bukit Bintang. Di kedua tempat itu hampir di sepanjang sore bisa digunakan sebagai tempat menghabiskan waktu dan menunggu tenggelamnya matahari.

Nah, kalau pantai? Cari saja pantai di Jogja yang pesisirnya ada yang sedikit membujur dari utara ke selatan, atau pantai itu benar-benar menghadap ke barat. Akan lebih menarik lagi jika tenggelamnya matahari dinikmati di pantai wilayah Gunungkidul, yang terkenal dengan keeksotisan pantainya itu.

Dari banyak pantai di Gunungkidul, hanya ada sedikit yang sesuai dengan kriteria tersebut. Salah satunya adalah pantai Wediombo di desa Jepitu, kecamatan Girisubo. Pantai Wediombo mempunyai garis pantai yang cukup panjang, mulai dari barat ke timur, mungkin sepanjang 200an meter, kemudian berbelok ke arah selatan, juga sejauh 200-300 meter, menjadikan sebagian pantai Wediombo menghadap ke arah barat. Kalau mau sedikit berjalan menuju ke arah selatan, (jika tidak salah) akan sampai di pantai Botorubuh (Batarubuh), sebuah pantai dengan ornamen batuan karang yang terlihat seperti susunan batu bata yang rubuh, yang katanya pemandangannya indah. Itulah mengapa dinamakan dengan nama Botorubuh. Entah penulisan yang benar pada tulisan Botorubuh dengan huruf ‘o’ atau huruf ‘a’, karena kebanyakan pantai-pantai kecil di Gunungkidul hanyalah berdasarkan penamaan dari masyarakat sekitar, tanpa tahu bagaimana penulisannya.

Pantai Botorubuh adalah sebuah pantai yang belum pernah kudatangi. Tahu pun hanya dari ‘katanya-katanya’ cerita teman atau iseng-iseng mencari infonya di internet. Katanya, pantai itu jadi salah satu favorit buat orang-orang yang suka memancing di laut. Pun di sana tak ada yang namanya pasir putih dengan pesisir yang landai, namun berupa batuan karang yang entah tingginya berapa meter dari muka air laut. Oleh karena itu, jika jadi, tengah minggu ini (antara tanggal 27-29 Mei 2014) aku dan seorang temanku akan pergi ke sana, sebagai tujuan akhir di hari itu nanti untuk menghabiskan hari dan menyambut petang.

2 thoughts on “Mentari Tenggelam

  1. Pingback: Botorubuh – Jungwok, Sunset yang Tersayang | Denmas Brindhil - Situsé

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s