‘Nglanggeran Old Volcano’ mungkin adalah terjemahan ngawur


20140419

Setelah lewat Bukit Bintang, sedikit naik lagi menuju arah Patuk, maka akan tampak gerbang besar penanda wilayah berikutnya adalah wilayah Gunungkidul. Kemudian, setelah tikungan yang cukup menukik menjelang sampai Patuk, ada papan reklame di sebelah jalan ‘Tempat Piknik Gunungkidul’, dan yang tampak dominan di papan itu adalah Gunung Api Purba Nglanggeran.

Iseng-iseng jika kemudian di-translate ke English, apa betul istilah ‘gunung api purba’ berubah menjadi ‘old volcano’? Sehingga istilah kerennya dalam bahasa Inggris jadi ‘Nglanggeran Old Volcano’? Hehehe…..

Masih berada di wilayah kecamatan Patuk, desa Nglanggeran menyajikan tempat wisata alam yang mungkin saat ini bisa disebut mainstream, karena sudah banyak orang tahu dan berdatangan ke sana. Entah dari mana sejarah Nglanggeran bisa menjadi gunung api di masa lalu, tulisan ini tak akan membahas hal itu. Nglanggeran menjadi wisata pegunungan yang sedikit beda karena hawanya yang bisa dibilang (meskipun sejuk, namun) tidak dingin. Tidak seperti umumnya objek wisata pegunungan lain yang letaknya berada di kaki gunung api yang masih aktif, contohnya Kaliuran dan Selo di kaki gunung Merapi, Nglanggeran mungkin hanyalah bukit yang tinggi menjulang di atas pegunungan/perbukitan kapur yang saat musim kemarau bisa menjadi sangat gersang.

Ada beberapa spot menarik di sepanjang perjalanan menuju puncaknya. Ada yang disebut dengan Song Gudel, ada jalan yang letaknya benar-benar terhimpit di antara bongkahan bukit besar, ada juga sumber mata air yang letaknya tak jauh dari puncak. Wisatawan yang merasa terlalu lelah tak perlu khawatir karena di sepanjang jalan menuju puncak ada lima buah pos, yang bisa digunakan sebagai tempat istirahat sejenak. Tempat sampah berupa tong atau ember juga tersedia di beberapa tempat, terutama di dekat pos. Meskipun sudah disediakan tempat sampah, masih ada saja orang yang dengan seenaknya membuang sampah sembarangan. Yayaya, itulah manusia, dalam hal ini adalah manusia Indonesia. Hehehe.

Ada dua puncak di Nglanggeran, puncak utara dan selatan. Untuk bisa naik ke puncak sisi selatan, pengunjung harus meniti tangga kayu yang tak terlalu tinggi. Dari kejauhan, puncak sisi selatan hanya tampak seperti bukit kecil yang sedikit membulat. Di dekat puncak sisi utara ada sebuah gazebo, kalau tidak salah, itulah pos 5 atau pos terakhir. Puncak utara tidak tampak seperti puncak, karena hanya seperti ujung bukit yang memanjang, yang di beberapa bagiannya terdapat bongkah batu. Dari puncak sebelah utara, bisa dibilang pemandangannya terlihat lebih indah, karena beberapa bukit kapur dan embung (kolam penampungan air-buatan) Nglanggeran bisa dilihat dalam satu frame. Bagi penghobi fotografi, puncak utara mungkin akan lebih menarik sebagai tempat untuk hunting foto landscape.

View from The North Peak of Nglanggeran
Pemandangan ke arah embung Nglanggeran dari puncak sisi utara.

South Peak, from The North
Puncak selatan yang terlihat seperti bukit kecil membulat.

Satu yang terlewat adalah embung itu sendiri. Karena rasanya menaiki bukit Nglanggeran itu sudah lumayan memeras keringat. Namun sebenarnya, jika mau, motor pun bisa diparkir tak jauh dari tepi embung itu. Katanya, tamasya di embung akan lebih terasa bermakna saat mendekati tenggelamnya matahari alias sunset.

3 thoughts on “‘Nglanggeran Old Volcano’ mungkin adalah terjemahan ngawur

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s