Kegalauan Sampai Karangpandan


20140502-03

Lawu View in The Morning

Mungkin sudah sejak awal bulan April beberapa teman punya rencana untuk sepedaan ke Cemoro Sewu (yang sudah masuk wilayah Kab. Magetan, Jawa Timur), dan pada akhirnya teman-teman pun berangkat tanggal 1 Mei, saat libur nasional karena Hari Buruh.

Dua minggu sebelumnya, saat ditanya apakah akan ikut ke Cemoro Sewu, aku hanya menjawabnya ‘belum tahu’. Ya, karena memang belum tahu apakah pada akhirnya nanti bisa ikut berangkat atau tidak. Tapi kalau keinginan untuk pergi ke sana tentu saja ada.

Beberapa hari sebelum tanggal 1 Mei, Mas Rd Sya’rani juga bertanya, apa akan ikut atau tidak. Ya jawabannya masih tetap sama, ‘belum tahu’. Hingga pada akhirnya kujawab saja kalau segala sesuatu yang dibutuhkan sudah disiapkan, tinggal di pagi harinya mau berangkat atau tidak, itu yang belum tahu. Galau…..

Dan ternyata, demikian halnya dengan Mas Rd. Ternyata Mas Rd pada akhirnya juga berangkat menuju Cemoro Sewu, tapi tidak ngoyo alias maksa, cukup sesampainya saja. Setuju…..

Biarlah teman-teman sudah berangkat sehari sebelumnya, kami bertiga, plus Kak Revo, berangkat sehari setelahnya, tanggal 2 Mei. Sebetulnya, di hari itu Kak Rofi dan seorang temannya juga berangkat menyusul rombongan, tapi berangkatnya mruput setelah subuh. Ohhh…

Kak Revo, Mas Rd dan aku yang tergolong rombongan galau, memang benar-benar santai, tapi bukan sesantai-santainya. Karena belum sarapan, kami mampir sarapan di Kalasan. Jogja-Solo yang biasanya bisa ditempuh dalam waktu sekitar 4 jam dengan sepeda, nyatanya bisa ditempuh dengan waktu yang lebih lama, sekitar 5-6 jam. Ya, karena pas waktu Jumatan, kami baru sampa di kota Solo. Tepat waktu.

Pun setelah itu, karena sudah mulai lapar lagi, lagi-lagi makan lagi, tak jauh dari masjid yang kami hampiri untuk salat Jumat. Ooo ternyata warung tempat makan siang termasuk dalam kampung Arab. Pantas saja, karena sepanjang duduk-duduk di warung sambil mengunyah makanan, orang-orang yang berseliweran mukanya ada miripnya dengan orang Arab.

Saat dikira-kira jarak terjauh yang bisa dicapai hari itu, kami sepakat maksimal sampai Tawangmangu. Baiklah. Setelah makan siang, perlahan kayuhan dilanjutkan, dan semakin lama, jalanan semakin menanjak. Karanganyar kota tak terasa begitu menanjak. Baru setelah lepas dari kota dan menuju Karangpandan, jalanan semakin terlihat menanjak.

Pelan, pelan, dan pelan, hingga akhirnya menjelang maghrib kami sampai di Karangpandan. Pertigaan terminal Karangpandan bisa dibilang pusat keramaian di wilayah itu. Selain terdapat terminal bus, banyak warung makanan menyediakan beragam menu. Sore itu, kami memilih untuk wedangan dulu di angkringan yang ada di depan Bank Jateng.

Hujan rintik-rintik yang turun selepas maghrib membuat kami harus memindahkan sepeda ke tempat yang teduh. Bank Jateng yang ada di belakang angkringan menjadi tujuan utama. Seorang sekuriti yang masih berjaga sore itu pun tak keberatan saat tiga sepeda ikut diparkir di samping teras bank. Selepas maghrib itu pula ‘kebaikan’ di perjalanan lebih terasa, menurutku.

Kembali ke angkringan, karena wedang yang belum habis dan masih nambah beberapa camilan dan gorengan, kami juga ngobrol-ngobrol dengan si penjual. Di tengah obrolan, ternyata hujan turun lebih deras selama beberapa saat. Dan mungkin itu adalah pertanda bahwa mungkin lebih baik sampai di situ saja saat itu. Dan kemungkinan tempat yang paling menyenangkan untuk ditumpangi menginap adalah bank itu. Obrolan dengan mas penjaja angkringan juga berlanjut, dan dari obrolan itu jadi tahu bahwa mas panjual juga membawa kunci gerbang dari bank itu. “Wah, pastilah aman kalau nanti malam jadi menginap di tempat itu”, pikirku (atau mungkin pikir Mas Rd dan pikir Kak Revo juga).

‘Kebaikan’ pun berlanjut saat kami meminta izin dari mas sekuriti yang masih bertugas sore menjelang malam itu, untuk numpang menginap di tempat itu. Mas sekuriti ternyata tak keberatan, dan mungkin di dalam hatinya dia juga senang karena malam itu dirinya tak sendirian saat jaga/shift malam. Mas sekuriti pun menyarankan untuk menginap di teras di samping teras utama bank daripada di pendapa yang ada di depan bank, karena menurutnya lebih hangat di teras samping. Mas sekuriti itu juga mempersilakan kami untuk dengan leluasa menggunakan musola dan kamar mandi yang ada di belakang bangunan utama bank, dan tanpa perlu berkali-kali minta izin lagi, alias bebas, seperti rumah sendiri. Musola dengan alas yang berkarpet, kamar mandi luas dengan air yang dingin menyegarkan, sofa panjang di teras samping tempat kami bermalam, stop kontak listrik tak jauh di dalam ruangan pendapa, bebas untuk kami gunakan.

In The 'Campsite'

Kebetulan malam itu adalah malam lembur bagi beberapa karyawan bank karena saat itu tanggal muda, tanggal 2 Mei, dan hari Jumat, hari kerja terakhir dalam satu minggu. Seorang sopir bank datang dan ngobrol beberapa lama, dan ternyata beliau juga senang bersepeda. Dari rumahnya di Kebakkramat, beliau suka ke Tawangmangu di hari Minggu pagi. Cuma bedanya, kami senang pakai sepeda ribet karena banyak perkakas yang dibawa, beliau senang sepedaan balap. Bapak sopir itu juga sempat bertanya, apakah kami sudah makan atau belum, dan tentu saja dijawab ‘sudah’, karena meskipun hanya di angkringan, ternyata kenyang juga.

Tak lama setelah masing-masing a dari kami bertiga mandi, hujan pun turun dengan derasnya, lebih deras dari saat maghrib tadi. Ahh, untungnya jadinya menginap di tempat itu. Coba saja kalau tadi memaksa dilanjutkan sampai ke Tawangmangu, mungkin bisa saja sampai di sana basah kuyup dan jadi tidak sehat.

Bank Jateng yang menjadi tempat kami menginap ternyata menyewa lahan dan bangunan dari bekas bangunan kawedanan Karangpandan. Dari cerita mas sekuriti malam itu, dulunya di kabupaten Karanganyar ada empat kawedanan, Karanganyar, Karangpandan, Colomadu dan satu lagi aku lupa. Kawedanan adalah wilayah administratif setingkat di bawah kabupaten dan di atas kecamatan. Entah sejak kapan istilah kawedanan dihapuskan, dan kompleks kawedanan itu menjadi bangunan cagar budaya di Karanganyar.

Pagi hari tanggal 3 Mei, Mas Rd yang begitu penasarannya dengan tanjakan ke Tawangmangu mencoba sendiri dengan sepedanya. Tiga belas kilometer jarak antara Karangpandan sampai ke Tawangmangu, dan tak ada salahnya untuk dicoba bagi yang masih penasaran. Aku sendiri memilih leyeh-leyeh di teras bank sambil mencari beberapa jepretan menarik tentang bekas kantor kawedanan itu.

Kawedanan Karangpandan

Moss on The Roof

Iseng-iseng aku berjalan ke jalan raya di depan terminal, saat itu masih sekitar jam 05.30, jalanan begitu sepi. Dua orang pesepeda terlihat naik menanjak ke Tawangmangu, mungkin. Sedangkan kendaraan bermotor masih sangat jarang lewat. Saat sekitar jam 07.00, mungkin lebih, Mas Rd sudah sampai lagi, dan jalanan di depan bank sudah sangat ramai, meskipun tak sampai macet. Bus-bus wisata dan angkutan umum sudah menaik-turunkan penumpang tak jauh dari terminal. Dan karena saat itu hari Sabtu di tanggal muda bulan Mei, bank yang kami tumpangi bermalam menjadi tujuan para pensiunan dan pegawai negeri mengambil gaji mereka. Maka tempat leyeh-leyeh pun harus segera dibereskan.

Sekitar pukul 08.00 kami sudah beranjak dari ‘camping ground’ semalam, pindah tempat untuk cari sarapan dan menunggu teman-teman yang masih ada di atas. Katanya, mereka turun dari Cemoro Sewu sekitar jam 8 juga. Jadi, cukuplah waktu buat kami mencari sarapan sebentar.

'Camp' Yard

Tak beberapa lama setelah selesai sarapan, ada yang mengirim pesan singkat bahwa mereka sudah ada di dekat terminal Karangpandan, dan kemudian kami pun beranjak untuk bergabung dengan teman-teman yang lain. Setelah semuanya berkumpul, sekitar jam 10 kami pun ‘turun’ pulang menuju Jogja.

Cerita sepanjang perjalanan pulang mau diceritakan atau tidak? Tentang ketemu Mas Arief Nugroho dan traktiran es klamudnya di Solo? Tentang Bagus Prakoso yang kebanan di beberapa kilometer menjelang sampai kota Klaten? Apa cerita itu nanti tak membikin cerita keseluruhan ini menjadi semakin panjang?

Buatku, perjalanan kegalauan dan ketidaksampaian ini memberikan cerita yang lebih bermakna, jika dibandingkan dengan (sekedar) keberhasilan sampai di Tawangmangu atau Cemoro Sewu serta berhasil menaklukkan berkeloknya dan curamnya tanjakan yang menuju ke sana. Cerita ‘kebaikan’ yang muncul di perjalanan, yang mungkin tak akan muncul jika ‘berhasil’ sampai di tujuan awalnya. Menurutku, tak ada salahnya jika ku-istilah-kan Gusti itu memang Maha Lucu…..

..dan belajar berbahasa Inggris : See you on the next trip(s)…..

14 thoughts on “Kegalauan Sampai Karangpandan

  1. yeah, ditunggu laporan perjalanan tim galau berikutnya :mrgreen:

    *etapi fotoku ndak ada disitu e, tp rapopo, soale emang malu difoto, ndak photogenic #halagh

  2. buset diaplot hahahah
    ada disitu kok situsmu, di bagian PENGEMBARA BERBASIKAL SOLO LELAKI, namamu tertulis raditya jati disitu, emang agak lambat loadingnya soalnya isinya link2 semua hehehe

  3. Pingback: » Endomondo yang Jalan Sendiri? blog auk

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s