Based on The Flickr Group, It’s Called ‘Bike Overnight’


20140418 (20140222-23)

Dari seorang teman, Revo, yang meminta untuk ditemani saat mengantar seorang pesepeda dari Spanyol yang sedang dalam misi keliling dunia, Rocio Otero, akhirnya perjalanan kali ini adalah rekor terlama untuk menuju kota Solo dari Yogyakarta.

Rocio tiba di Jogja hari Rabu malam (19 Februari), namun baru sempat bertemu di hari Kamis sore. Saat itu, dia sudah bareng Revo mau masuk ke Taman Sari, Kraton Yogyakarta. Aku dan Revo ngobrol kesana-kemari sampai dengan malam harinya. Di hari Jumat keesokan harinya, Rocio sudah punya rencana sendiri untuk pergi ke Borobudur. Kali itu tak bersepeda. Katanya dia ingin merasakan transportasi umum di sekitaran Jogja dan Magelang. Maka, dia pun naik bus menuju Borobudur.

Jumat sore menjelang hujan, kami janjian lagi dan bertemu di angkringan Tugu yang terkenal dengan kopi joss-nya. Lagi-lagi ngobrol kesana-kemari dan hujan pun turun. Dari obrolan yang ada, berceritalah Rocio bahwa keesokan paginya, atau hari Sabtunya, dia ingin melanjutkan perjalanannya ke timur. Tujuannya untuk esok hari adalah ke Solo.

Solo? Kan harus menginap semalam lagi? Untungnya ada seorang teman yang rumahnya di Solo, dan kebetulan akhir minggu itu dia sedang ada di rumahnya. Maka, kuhubungi Citra (teman sewaktu KKN di Tepus, Gunungkidul) dan kutanyakan apakah bisa menginap di rumahnya. Dan kemudian, ternyata responnya bagus. Baiklah!!

Sabtu pagi ternyata tidak melulu terburu-buru harus ke Solo. Katanya, selama di Jogja, Rocio serasa menjadi benar-benar turis, karena banyak tempat wisata yang dikunjunginya. Pagi itu, aku, Mas Antok, Revo dan Rocio mampir ke Museum Affandi sebentar. Ya, karena memang Rocio memang ingin mampir ke tempat itu. Aku dan Mas Antok ya cuma ngobrol di luar museum sembari menunggu Revo dan Rocio yang masuk ke dalam.

Saat mereka berdua sudah puas dengan apa yang ada di dalam museum, maka kemudian berlanjutlah perjalanan menuju Solo. Mas Antok hanya mengantar sampai museum itu saja, sedangkan aku dan Revo yang mengantarkannya sampai Solo. Ya karena Citra juga-lah maka aku pun harus sampai ke Solo.

Karena sehari sebelumnya Rocio sudah ke Borobudur, saat melewati Prambanan, ia hanya ingin mengitarinya dari luar kompleks Camdi Prambanan saja. Dan kemudian setelah itu kami bertiga mampir di warung soto yang cukup terkenal di sekitaran Prambanan, warung Taruno Joyo, letaknya di selatan pasar Prambanan, tak jauh sebelum melewati rel kereta api.

Hal yang menjadikan perjalanan ke Solo ini menjadi rekor terlama adalah karena hujan. Ya, hujan. Di dekat Jogonalan, sekitar 4 km setelah Prambanan, hujan deras tiba-tiba turun. Kami pun berteduh di emperan bengkel yang kebetulan saat itu tutup. Dua setengah jam hujan deras turun tanpa henti, hingga akhirnya sekitar pukul 16.30 mereda dan menjadi hujan rintik-rintik. Dan perjalanan pun berlanjut.

Semua bekal Rocio selama keliling dunia dimasukkan dalam empat buah pannier, sebuah tas handlebar dan sebuah dry-bag. Karena bawaan yang sebegitu banyaknya, maka kayuhan pun tak bisa terlalu cepat. Apalagi dengan kondisi cuaca yang hujan-gerimis-hujan-gerimis.

Azan Isya mulai berkumandang saat kami masuk kota Solo. Sepanjang perjalanan menuju Solo, aku tetap SMSan dengan Citra. Katanya, makan malam sudah menanti di rumahnya. Maka, kami pun langsung menuju rumahnya.

Meskipun secara garis besar aku sudah tahu daerah rumah Citra, tapi ternyata ada sedikit kesasar juga. Namun pada akhirnya ya tetap saja ketemu.

Malam itu bisa dibilang menjadi perjalanan ‘pendek’ yang panjang dan cukup membikin lelah. Pendek secara jarak, namun panjang secara waktu. Setelah semua barang dicopot dari rak sepeda, dan kemudian mandi dan lain-lain dan lain-lain, makan malam pun tiba. Meskipun Ibunya Citra kurang bisa berbahasa Inggris dan hanya sedikit paham percakapan yang ada di malam itu, satu hal yang beliau suka adalah Rocio makan dengan lahapnya, dan hampir semua menu yang tersedia dicicipinya. Obrolan malam itu berlanjut hingga sekitar pukul 11 malam.

With Rocio, in Citra's House in Solo
Di rumah Citra di Solo, sesaat sebelum berangkat melanjutkan perjalanan.

Keraton Surakarta Hadiningrat
Selama beberapa kali ke Solo atau cuma sekadar melewatinya, baru kali ini mampir di depan kratonnya.

Minggu, 23 Februari, di kota Solo kebetulan ada peringatan ulang tahun Solo. Dan salah satu acara yang diadakan di hari itu adalah Festival Jenang Nusantara.

Info yang menarik saat kusampaikan ke Rocio, dan dia pun merasa tertarik. Setelah semua barang kembali terpacking dengan rapi dan dicantolkan lagi ke rak sepeda, kami pun bergegas berangkat. Tentu saja sebelum bablas, kami berpamitan dengan si empunya rumah dan keluarga. Paling tidak, hal itu bisa menambah saudara selama di perjalanan.

Festival Jenang saat itu ada di Jalan Slamet Riyadi yang bagian timur, entah kampung apa namanya aku lupa. Dan sayangnya juga, aku tak mengambil gambar di situ. Tak apalah, yang penting si tamu Rocio bisa merasakan kekayaan kultural yang ada di Solo saat itu.

Menjelang tengah hari, kami bertiga sampai di Taman Jurug, menjelang perbatasan Solo dengan Karanganyar. Rocio pun melanjutkan perjalanan hari itu ke Ngawi, sedangkan aku dan Revo kembali ke Jogja. 

2 thoughts on “Based on The Flickr Group, It’s Called ‘Bike Overnight’

  1. Pingback: Perjalanan Baru | Denmas Brindhil - Situsé

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s