Sejenak di Museum Trinil


20140118-19

Sebenernya, cerita yang ini adalah trip pertama di tahun 2014 ini, bukan yang ke Klayar. Mbolang ke pantai Klayar itu adalah trip kedua. Lantas yang trip ketiga kapan? Baiklah, mungkin menanti mood untuk mengarang cerita berikutnya. Hehehe…

Pertengahan Januari kemarin beberapa kawan ada yang berangkat ke Bromo, dengan sepeda tentunya. Aku Cuma ingin ikut mbolangnya saja barang sehari semalam. Jadi di hari itu, ikutlah aku berangkat bersama dari Jogja dengan mereka.

Bicycle & Minaret
Menara Masjid Agung Ngawi di malam hari.

Mereka yang berangkat ke Bromo ada empat orang, yaitu Mas Aryo, Rozi, Fauzan Sandy dan Bimo.

— cerita dipotong, langsung menuju ke pokok pembicaraan —

Trinil
Parkiran dan tulisan di halaman Museum Trinil.

Kembali ke judul dari artikel kali ini, Museum Trinil. Tulisan ‘Museum Trinil, 3 km’ terlihat di papan penunjuk jalan, di tepi jalan raya Sragen-Ngawi. Sabtu malam sebelum sampai kota Ngawi, sekilas aku melihat tulisan itu. Aku pun hanya berbicara pada diriku sendiri, “Ah, besok pagi saat perjalanan balik, mampir sebentar.”

Setelah benar-benar ‘nggembel’ di Ngawi malam itu, pagi harinya teman-teman melanjutkan perjalanan ke timur, ke Mojokerto (pemberhentian berikutnya di hari itu). Sedangkan aku kembali ke Jogja saja.

Pagi menjelang siang itu angin berhembus cukup kencang, mengarah ke timur. Buatku yang kembali ke arah barat, angin dari arah depan memperlambat perjalananku pulang. Dan tentu saja hal itu berpengaruh juga pada fisik. Melawan angin membuat badan lebih cepat lelah.

Menjelang sepuluh kilometer dari kota Ngawi, kujumpai lagi papan penunjuk arah menuju Museum Trinil. Langsung saja aku berbelok di tikungan itu menuju Museum Trinil. Tiga kilometer bisa dibilang jauh, bisa dibilang dekat. Asyiknya, jalan menuju museum itu sudah aspal, meskipun di beberapa tempat ada yang bolong-bolong, sedangkan sebagian yang lain begitu mulus.

Karena memang belum pernah ke sana, tiga kilometer tak begitu terasa. Akhirnya sampai juga di Museum Trinil. Aku tak terlalu memerhatikan ada tempat membeli tiket masuk. Aku langsung saja menuju ke parkirannya.

Ternyata eh ternyata, saat itu museum sedang direnovasi. Benda-benda yang seharusnya dipajang di museum saat itu diletakkan di beberapa rumah penduduk sekitar museum. Sedangkan beberapa ruangan di museum ada yang belum selesai dicat dan di beberapa tempat masih terdapat tumpukan semen beberapa sak.

Beruntungnya aku saat itu, karena saat parkir sepeda di depan tulisan Museum Trinil, tiba-tiba seorang bapak yang hanya berpakaian kaos dalam dan bercelana panjang datang menghampiri. Ternya si bapak adalah salah satu pegawai museum. Dengan baik hatinya bapak itu memmersilakan aku masuk ke museum begitu saja. Tak lama setelah sedikit obrolan, bapak itu kembali disibukkan dengan benda-benda koleksi museum yang belum selesai dipindah-pindahkan. Sayang, aku lupa siapa nama bapak itu.

Yayayaya…..

Sealin di Trinil, museum yang berisi benda-benda koleksi manusia purba atau prasejarah juga ada di Sangiran (Jawa Tengah) dan Trowulan (Mojokerto, Jawa Timur). Meskipun Museum Trinil lebih dekat dengan Sangiran yang ada di Sragen, namun pengelolaan dan pengembangan museum Trinil masih di bawah kendali dinas purbakala Jawa Timur, yang tentu saja pusatnya ada di Surabaya. Hal ini sedikit menjadi curhatan si bapak pegawai museum tadi, karena menurutnya Museum Trinil seperti kurang diperhatikan, jika dibandingkan dengan yang ada di Trowulan. Padahal, menurutnya, kebudayaan atau peninggalan yang ada di Trinil usianya jauh lebih tua daripada yang ada di Trowulan. Pun yang menjadi curhatan si bapak lainnya adalah kurangnya promosi oleh pemerintah daerah Ngawi sendiri. Padahal sebenarnya hal tersebut bisa menjadi potensi wisata yang bisa menambah pendapatan daerah jika bisa dikelola dan dikembangkan dengan lebih baik lagi.

Sejenak singgah di Museum Trinil, meskipun tak terlalu blusukan di dalamnya, sedikit menambah semangat, entah semangat apa itu. Semangat untuk segera pulang ke Jogja tentu. Namun ada pula semangat untuk suatu saat nanti, akan singgah lagi di tempat itu. Semoga…..

One thought on “Sejenak di Museum Trinil

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s