Gusti Yang Maha Lucu


20140216

Tuhan memang segalanya. Ya, Tuhan memang Maha Segalanya. Tak cuma Maha Pengasih dan Maha Penyayang saja, seperti terucap pada lafal ‘basmalah’. Apa Dia juga Maha Yang jelek-jelek juga ya?

Suatu ketika, saat pulang dari ‘mbolang’ di Sragen. Saat itu perjalanan pulang ke Jogja, menjelang sampai Solo. Eeehh, tiba-tiba saja hujan turun dengan derasnya. Karena saking tiba-tibanya, aku langsung saja mencari tempat berteduh di pinggir jalan. Dan kemudian kubatin saja di dalam hati : “Gus, coba deh hujannya nanti saja, setelah sampai Solo, atau malah setelah sampai Prambanan. Biar rasanya lega dulu.” Kok ya Tuhan itu Maha Mendengar. Tak sampai 15 menit dari awal aku mulai berteduh, hujan pun lambat laun menjadi gerimis kecil-kecil. Dan aku pun kembali melaju.

Kejadian berikutnya, selisih dua minggu dari mbolang ke Sragen, sewaktu pulang dari Pantai Klayar, Pacitan. Saat itu sekitar setelah maghrib, dan sudah sampai Bayat, Klaten. Rasanya sudah lega sudah sampai situ, karena setelahnya rasanya sudah dekat rumah saja kalau sudah sampai daerah Wedi atau malah Prambanan. Saat lagi asyik-asyiknya mengayuh pedal, pelan-pelan karena memang sudah capek, eh tiba-tiba langsung bresss, hujan deras. Ya sama seperti sebelumnya, langsung saja aku mencari tempat berteduh. Aku pikir, “Ah, ini Gusti memang Maha Bercanda ini. Udah tahu umatnya kurang sedikit lagi sampai Prambanan, malah di-hujan-I, deras pula.” Meskipun aku hanya berkata dalam hati, lagi-lagi Tuhan alias Gusti Maha Segalanya. Hujan yang mak bres itu hanya sesaat saja. Setelah itu langsung reda, meskipun air agak deras mengalir di tepi jalan (saking derasnya hujan itu tadi). Yayayaya…..

Ya, memang ada suatu ketika, saat permintaan spontan langsung dipenuhi, dan ada pula sesuatu yang diharap-harapkan sejak lama tak juga terjadi sewaktu tiba saatnya. Ya, menurutku Gusti itu memang Maha Lucu.

Tapi, apakah Tuhan itu juga Maha Pemarah?

Di malam Valentine, gunung Kelud meletus hebat. Letusan itu membuat banyak daerah di Jawa terkena hujan abu. Apakah Tuhan marah? Apakah itu sebagai pengingat karena banyak umatnya banyak yang lupa? Silakan pertanyaan itu dijawab secara pribadi. Kalau saya yang jawab, meletusnya Kelud itu seperti saat kita kentut yang lebih keras daripada biasanya, mungkin juga sebagian dari kotoran juga ikut keluar. Bayangkan seperti ini. Sebenarnya perut kita agak puyeng, rasanya sedikit mual, dan rasanya kepengen kentut saja. Namun kentut yang seharusnya keluar itu ditahan. Apakah itu sehat? Apakah seharusnya seperti itu? Tentu sebaiknya ya dikeluarkan saja kentutnya, karena memang perut menghendakinya seperti itu. Orang yang nggak bisa kentut malah ada yang harus sampai masuk rumah sakit lho! Pun demikian dengan Kelud yang meletus. Karena memang Bumi menginginkannya seperti itu, agar perut Bumi yang sedikit puyeng menjadi lebih lega setelah kentut. Bagaimana sikap kita saat secara tak sengaja membaui ada yang kentut? Salah satu cara yang bisa dilakukan adalah pergi menghindar sejenak. Baru saat bau kentut sudah hilang, kita bisa kembali lagi. Demikian halnya dengan warga sekitar Kelud yang terkena ‘kentut’nya Kelud. Menghindarlah (baca : mengungsi) sesaat. Nanti setelah kondisi sudah tidak bau kentut lagi, silakan kembali.

Prambanan After Kelud's Ash
Penampakan salah satu bangunan candi di kompleks Candi Prambanan. Halaman luas yang biasanya penuh kerumunan manusia yang hilir mudik, saat itu berganti tertutup oleh abu vulkanik dari Gunung Kelud.

Happy 'Grey' Valentine
Abu-abu karena tertutup oleh abu vulkanik.

Bencana. Itu adalah istilah yang dibikin oleh manusia. Ya. Antroposentris. Karena segala keuntungan dan kerugian diperhitungkan atas dasar manusia. ‘Kentut’ gunung Kelud tadi adalah salah satu cara alam untuk menyeimbangkan dirinya. Menyeimbangkan apa? Menyeimbangkan agar perutnya tak lagi mual dan kembung. Mari kita samakan, antara kotoran yang diproduksi mamalia (termasuk di dalamnya manusia) dengan material vulkanik yang dikeluarkan Kelud. Bau memang bau, mengotori lingkungan sekitar ya memang. Namun coba kita pahami lebih jauh dari itu. Antara kotoran mamalia dan material vulkanik sama-sama bisa dimanfaatkan sebagai pupuk, yang bisa menyuburkan tanah. Untuk siapa kesuburan tanah itu? Pada akhirnya kembali untuk manusia. Ladang dan sawah menjadi subur, dan seterusnya. Meletusnya gunung itu juga sebagai bentuk pemulihan bagi Bumi. Tempat yang pada awalnya (sebelum letusan) ditinggali manusia dalam bentuk desa (dan macam lainnya), kemudian kembali menjadi alami seperti layaknya jaman dahulu. Ya, manusia memang meng-okupansi tempat yang bukan seharusnya untuk manusia. Dengan hal itu, bisa dianggap sebagai peringatan buat manusia agar tak seenaknya dalam ‘mengolah’ alam yang disediakan oleh Gusti ini.

Nah, apakah itu tadi Gusti Maha Pemarah? Tentu tidak. Gusti itu Maha Lucu, dengan segala yang telah Dia ciptakan dan perbuat. Dan yang tidak boleh dilupa, Gusti itu Maha Ngentut juga. Penasaran? Silakan temui dan tanya langusng ke Gusti…

6 thoughts on “Gusti Yang Maha Lucu

  1. Pingback: Kegalauan Sampai Karangpandan | Denmas Brindhil - Situsé

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s