Sekali-kali keluar malam Tahun Baruan boleh, kan…


20140107

Tahun baru memang hanya terjadi setahun sekali. Maka tak ada salahnya jika sekali-sekali keluar melihat pemandangan ramainya kota Jogja. Aku menyebutnya ‘sekali-sekali’, karena tidak setiap tahun saat pergantian tahun keluar dari rumah dan melewatkan malam di suatu tempat.

Jika dibandingkan dengan beberapa tahun sebelumnya, menurutku tahun ini adalah liburan Natal dan Tahun Baru yang paling ramai di Jogja. Sudah sejak sekitar seminggu sebelum Natal, jalanan di kota Jogja sudah diramaikan oleh kendaraan ber-platnomor luar kota Jogja, alias bukan ‘AB’. Kalau tidak salah, di sebuah koran lokal menuliskan bahwa di akhir tahun ini Jogja menjadi kota tujuan utama para turis lokal untuk menikmati pergantian tahun, mengalahkan Bali dan Bandung. Sekitar empat juta orang (katanya) datang ke Jogja.

Kawasan kota Jogja sudah tentu jadi begitu ramai. Apalagi bertepatan juga dengan adanya Pasar Malam dalam rangka perayaan Sekaten. Malioboro dan Alun-alun Utara Kraton Yogyakarta penuh sesak oleh kendaraan dan orang-orang.

Kebetulan pula ada dua saudara sepupu yang sedang liburan dan tinggal beberapa hari di rumah. Dan mereka ingin merasakan suasana tahun baru di Jogja. Bagiku, masuk ke wilayah kota sudah tidak menjadi pilihan, ya karena saking ramainya itu tadi. Jadi, kuputuskan untuk mencoba dan mencari suasana lain di Bukit Bintang, sedikit sebelum mencapai puncak Bukit Patuk, Gunungkidul.

New Years Eve at Bukit Bintang
Suasana keramaian salah satu warung di Bukit Bintang, dengan latar belakang pemandangan Jogja di malam hari.

Dari rumah Kalasan sampai Bukit Bintang jaraknya sekitar 15 km. Setelah sampai di Bukit Bintang, ternyata sama saja, sama-sama ramainya. Jalan aspal 3 lajur (2 naik dan 1 turun) penuh sesak oleh kendaraan, hampir-hampir tak bergerak karena saking macetnya. Bau menyengat kampas rem begitu mengganggu. Di kanan-kiri jalan sudah penuh sesak oleh orang-orang yang ingin melewatkan suasana pergantian tahun di tempat itu.

Akhirnya, setelah beberapa saat menikmati kemacetan yang hampir tak bergerak, kami dapat juga tempat untuk parkir sepeda motor. Halaman rumah orang yang mulanya biasa-biasa saja disulap menjadi tempat parkir yang diterangi lampu sorot.

Couple
Sepasang muda mudi menunggu waktu pergantian tahun.

Sedikit berjalan kaki dari tempat memarkir motor, kami berempat, aku, adikku dan dua orang sepupuku masuk dan duduk di salah satu warung yang ada di situ. Meskipun dari luar sudah terlihat penuh sesak, masih ada sedikit tempat yang cukup untuk kami berempat. Tapi suasana tahun baru memang berbeda. Jika dibandingkan dengan hari biasanya, parah-parahnya pas malam Minggu, suasana malam itu begitu penuh sesak. Bahkan ada pula yang masih kebingungan mencari tempat yang masih lumayan lapang. Selain beda suasana, ada satu hal lain yang mencolok. Ada biaya duduk untuk pengunjung warung yang datang setelah jam 9 malam! Ya, biaya duduk. Untuk sekedar duduk saja harus membayar Rp. 25000. Itu belum ditambah jika masih ingin memesan makanan atau minuman. Ealah….. Sesuatu yang sangat spesial di malam tahun baru.

Extraordinary Seats
‘Extra seats’.

Dua jam menunggu mendekati tengah malam tak begitu terasa lama karena banyak orang berseliweran di luar warung. Di dalam warung pun ada beberapa orang yang tidur lebih dulu sebelum tiba tengah malam.

Mendekati jam 12 malam, orang-orang sudah semakin berkumpul untuk menikmati pemandangan kota Jogja (meskipun hanya terlihat kelap-kelip lampu). Di beberapa tempat terlihat sudah ada yang menyalakan kembang api. Kebanyakan hanya berupa kembang api yang dinyalakan kecil-kecilan. Namun ada juga yang terus menerus hingga sekitar 15 menit dan terlihat lebih bervariasi dalam jenis kembang apinya.

View of Jogja from Up The Hill
Beberapa saat setelah tepat tengah malam. Kembang api di kejauhan yang tampat begitu kecil, dan kegembiraan pasangan yang melewatkan pergatian tahun bersama.

Awalnya, kupikir akan terlihat semarak dan menjadi sedikit lebih terang saat orang-orang bersamaan menyalakan kembang apinya. Ternyata kembang api dari jauh kelihatan hanya seperti cipratan kecil di sudut frame. Ternyata tak seberapa.

Crowded Road
Suasana di luar warung, yang dipenuhi kendaraan baik roda 4 maupun roda 2.

Tapi tak apa-apa. Tahun baru hanya terjadi setahun sekali. Tak ada salahnya sekali-kali menikmati pemandangan malam hari dan menikmati kemacetan di tempat yang biasanya lancar-lancar saja, ditemani bau menyengat kampas rem. Hahaha.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s