Selopamioro, setelah setahun yang lalu


20130914

Antara tiga hingga lima kilometer di sebelah selatan Pasar Imogiri yang baru, ada sebuah tempat dengan nama Selopamioro. Kalau tak salah, itu adalah nama sebuah desa. Untuk mencapainya, bisa melalui jalanan kampung di dekat pertigaan Polsek Imogiri, masuk ke selatan dan dengan kontur yang agak naik turun. Bisa juga melalui jalan yang agak memutar, yakni melewati Siluk lebih dulu, terus saja menuju arah Panggang, namun jangan sampai kebablasan, karena kemudian jalan menuju Selopamioro belok kiri dari jalan semula, dengan aspal yang permukaannya lebih kasar.

Ada apa dengan Selopamioro? Kenapa Selopamioro dibahas di artikel di blog ini?

Green Field
Ladang yang saat itu menghijau karena ditanamai kacang tanah dan jagung.

Fake Autumn
Semacam ilusi musim gugur yang terjadi saat musim kemarau di Selopamioro.

Selopamioro bukanlah tempat yang terkenal jika dibandingkan dengan pantai Parangtritis atau wisata lautan pasir di lereng selatan Gunung Merapi. Selopamioro juga tak seterkenal gua Pindul di Gunungkidul, yang melambung namanya karena cave tubing dan sedikit kisruh dalam pengelolaan wisatanya. Namun, Selopamioro mungkin terkenal di kalangan pecinta fotografi, terutama fotografi alam bebas, atau juga sinetron yang sering tayang di SCTV, yakni FTV.

Sebuah objek vital, yang berupa jembatan gantung, menghubungkan antara sisi sungai yang satu dengan sisi yang lain, menjadi ikon yang menarik di Selopamioro. Ya, Selopamioro memang dibelah oleh sungai Oya yang berhulu di Gunungkidul, yang kemudian menjadi satu dengan sungai Opak di Bantul. Jembatan gantung itu sering menjadi background bagi pasangan yang melakukan sesi pemotretan pre-wedding. Pun sering masuk di beberapa adegan dalam FTV yang mengambil lokasi syuting di Yogyakarta.

Oya River Valley

Another View of Oya River
Pemandangan lembah sungai Oya.

Ya ya ya. Memang sepertinya itulah daya tarik utamanya. Namun yang tak boleh dilewatkan adalah pemandangan perbukitan di sekitar sungai, pun pemandangan sungai Oya itu sendiri. Air di sungai tampak lebih jernih saat musim kemarau, karena debit air yang rendah. Bisa saja muncul godaan untuk mencoba berenang di bagian sungai yang memungkinkan kita untuk nyemplung dan berenang. Perbukitan di sekitar sungai Oya seperti layaknya perbukitan di Gunungkidul pada umumnya. Ya, wilayah Selopamioro sebagian berupa bukit-bukit karst, dengan banyak batu dan tanah yang berwarna kemerahan. Saat musim kemarau, bentuk asli dari bukit-bukit itu terlihat jelas, karena tumbuhan di sekelilingnya banyak yang meranggas. Tumbuhan yang meranggas itu adalah sedikit nilai minus dari pemandangan yang bisa kita lihat saat musim kemarau. Mungkin akan sangat berbeda jika kita pergi ke Selopamioro saat musim penghujan, bukit-bukit sekeliling akan terlihat lebih hijau. Namun, hal itu juga ada nilai minusnya, yakni air sungai yang berwarna coklat seperti susu coklat.

Cattle's Cage and The Hill Above
Kandang sapi dan bukit batu di atasnya.

One of The Hill
Salah satu sisi perbukitan di sepanjang sungai Oya.

Bagi yang masih penasaran, seperti apa wujud asli dan pemandangan yang ada di Selopamioro, mungkin sedikit cerita di atas dan beberapa gambar yang ada tak akan bisa memuaskan. Jadi, sempatkanlah berkunjung sejenak ke Selopamioro…..

4 thoughts on “Selopamioro, setelah setahun yang lalu

  1. Pingback: » tentang Tiwul, Farah Queen & Jembatan Gantung blog auk

  2. Pingback: Sampai Mangunan | Denmas Brindhil - Situsé

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s