Sejenak Pagi di Candi Barong


20130810

Barong Temple

Pertama kali aku tahu Candi Barong adalah saat diajak oleh Agus Pakdhe Timin menemani dua orang bule temannya, bersepeda dari Blok O, melewati Berbah, hingga tembus ke jalan raya Prambanan-Piyungan, sekitar awal semester kedua 2011. Setelah itu, aku lupa sudah berapa kali mampir lagi ke tempat itu. Hingga yang terakhir adalah dua hari setelah Lebaran 2013.

Soal sejarahnya, aku tak begitu paham. Jadi, di tulisan ini aku tidak akan membahasnya. Tapi jika mengunjunginya, sempatkanlah untuk membaca sekelumit cerita tentang Candi Barong di sebuah papan yang letaknya tak jauh dari tulisan ‘Candi Barong’ di dekat halamannya.

Warga sekitar Candi mungkin sudah sangat biasa dengan objek wisata ini. Mungkin saja saking biasanya, mereka tak menganggapnya istimewa atau spesial. Tapi bagi orang lain yang tahunya hanya Candi Prambanan dan Ratu Boko, candi-candi kecil seperti ini mungkin menarik perhatian.

Candi Barong terletak tak jauh di sebelah timur dari kompleks Ratu Boko. Kalau dari Prambanan, mungkin sekitar 2 km ke arah selatan, kemudian masuk ke timur melalui jalan-jalan kampung sekitar 1 km, dengan jalan yang sedikit nanjak.

Tak ‘sekomersil’ candi yang sudah sering disebut namanya, misal Prambanan, kita bisa berwisata ke Candi Barong dengan cuma-cuma alias free. Pun berbeda dengan beberapa candi kecil lainnya, yang harus membayar sekitar Rp. 2000,- untuk memasukinya, beberapa di antaranya adalah Candi Sambisari dan Candi Sari. Saat sampai di kompleks Candi Barong, kita diharuskan untuk lapor terlebih dahulu pada penjaga yang ada di pos, serta mengisi buku tamu/kunjungan. Setelah itu, silakan masuk ke area candi.

Sesuai dengan judulnya, Candi Barong memang mempunyai halaman yang luas. Di sekeliling area candi pun rerumputan hijau luas membentang. Memasuki pelataran candi, kita diharuskan menaiki beberapa anak tangga, karena memang pelataran candi tersebut lebih tinggi sekitar 2 meter jika dibandingan dengan halaman rumput di sekelilingnya. Luas pelataran candi kira-kira 2 kali luas area candi yang terdapat bangunan candinya.

Candi Buddha atau candi Hindu? Ah, aku tak sedetil itu. Tapi, sepenglihatan mata, sepertinya candi Buddha. Tapi entahlah saat membaca papan yang ada di awal halaman tadi.

Ya, saat itu aku main ke Candi Barong saat hari masih benar-benar pagi. Pukul 6 pagi aku sudah sampai di situ. Saat itu sinar matahari memang belum terik. Udara pagi pun masih terasa segar. Melihat-lihat ke sekeliling candi terasa menyejukkan mata. Duduk-duduk di satu sudut bangunan candi, iseng-iseng menjepret gambar foto, kemudian pindah lagi ke sudut candi yang lain, ambil beberapa jepretan lagi. Ya, hanya itu yang aku lakukan saat itu. Sampai akhirnya, sinar matahari terasa semakin panas, dan aku pun memutuskan untuk pulang ke rumah.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s