[ada yang bilang…] Touring Penuh Cinta


20130426-28

Jumat

Sudah beberapa minggu sebelumnya, teman-teman Federal Semarang memberi tahu bahwa akan ada acara Semarang Bike Expo 2013, yang salah satu pesertanya adalah Komunitas MTB Federal. Karena ada acara itu, teman-teman Semarang mengundang rombongan Federal dari chapter lain untuk ikut datang meramaikan. Akhirnya, pada hari Jumat, 26 April 2013, rombongan dari Jogja berangkat menuju Semarang.

Dari Jogja, ada sepuluh orang yang berangkat menggowes sepedanya, aku, Pak Supri, Mas Tebe, Kang Iyink, Mas Yoga, Mas Aryo, Mas Moakh Danank, Bimo, Mas Anto dan Mas Bagus Wahid. Karena jumlahnya lumayan banyak, perjalanan lebih lambat daripada jika bersepeda jauh seorang diri.

Karena bertepatan dengan hari Jumat, menjelang jam 12 siang kami singgah di sebuah masjid sebelum sampai Secang untuk beribadah Jumat. Baru kemudian setelah itu, perjalanan pun dilanjutkan. Tanjakan dan turunan (rolling) sudah menanti di depan kami selepas memasuki daerah Secang-Pringsurat.

Sampai di makam Cina di daerah Pringsurat, kami istirahat sejenak sambil menikmati pemandangan hamparan sawah yang menghijau di seberang jalan. Saat itu juga dimanfaatkan beberapa teman utnuk narsis dengan berfoto sesuka hatinya.

Jalan menanjak yang lumayan terjal adalah saat mendekati gerbang masuk wilayah Kabupaten Semarang atau menjelang sampai Banaran. Di Banaran, kami sempatkan untuk mampir mencicipi beberapa menu minuman yang tersaji di sana. Kebetulan ada beberapa teman yang masih tertinggal di belakang, jadi bisa sekaligus menunggu yang belum sampai.

Rapat di Banaran Resto
'Meeting' at Banaran Resto

Kami sampai di Ambarawa sudah sore, sekitar pukul 4 sore. Kok ya kebetulan lagi, Oom Haryanto Rangga sedang dalam perjalanan menuju Jogja, dan kami berpapasan dengannya. Atas kebaikan hatinya, kami ditraktir makan sore di dekat pertigaan Bawen.

Sampai di Ambarawa
Monument of Ambarawa

Saat itu memang sedang ada proyek betonisasi jalan di pertigaan Bawen, sehingga kendaraan harus berjalan sangat pelang, dan kebetulan juga, saat kami melewati tempat itu adalah saat jam pulang kerja dan menjelang week-end, sehingga membuat jalan macet parah. Untungnya, kami yang bersepeda bisa menyelinap di antara badan kendaraan yang terkena macet. Sedikit demi sedikit kami pun bisa melewati Bawen dan kemudian istirahat sejenak di depan pabrik Coca-Cola.

Istirahat Sejenak
Dilarang Parkir di Sini

Jalanan dari Bawen sampai ke Semarang adalah melulu turunan. Tanjakan hanya ada sedikit selepas kota Ungaran. Pukul 21.30 kami pun sampai di rumah Mas Faris, yang telah menyiapkan Sekretariat Federal Semarang di daerah Cinde, dekat Jl. Tentara Pelajar, menjadi tempat kami menginap selama di Semarang.

Sabtu

Dari lantai 2 di Sekre Cinde, Semarang
View from 2nd Floor

Hari Sabtu pagi menjelang siang, saat semuanya sudah terbangun dari tidurnya dan sudah berbenah diri, kami pun diajak sarapan, tak jauh dari venua Semarang Bike Expo. Tentu saja seperti biasa saat di Jogja, sarapannya adalah soto. Hahahaha…

Sepeda-sepeda
Lots of Bicycle

Semarang Bike Expo menampilkan berbagai komunitas sepeda yang ada di Semarang. Beberapa di antaranya adalah MTB Federal, Bike 2 Work Semarang, Komunitas Sepeda Lipat dan beberapa klub sepeda lokal Semarang lainnya. Juga di tempat itu menjadi lahan promosi bagi beberapa toko sepeda dan peralatannya. Beberapa sepeda yang bisa dikatakan harganya luar biasa mahal dipajang di atas panggung di dalam gedung. Stand MTB Federal tampak paling ramai sepedanya, karena kami pun yang hanya tamu di acara itu, disuruh membawa masuk sepeda masing-masing dan ikut dipajang. Acara siang itu dilanjutkan dengan pelesir dan cuci mata di Ace Hardware yang letaknya di sudut Simpang Lima di sisi tenggara.

Hampir dua jam kuhabiskan waktu untuk menabung tidur di rumah Mas Faris di Cinde, setelah siangnya tadi di venue expo. Semarang benar-benar panas. Tidur di lantai beralas tikar pun membuat berkeringat cukup banyak. Tak salah rasanya jika menyegarkan diri dengan mandi.

Tak beberapa lama setelah lewat waktu magrib, kami kembali ke venue, dan kemudian diajak teman-teman Semarang untuk Nran keliling Kota Lama dan Tugu Muda. Salah satu ikon Kota Lama Semarang yang paling terkenal adalah Gereja Blenduk. Disbut ‘blemduk’ karena bentuk kubahnya yang oleh orang Jawa diistilahkan dengan ‘blenduk’. Jalanan di sekitar Kota Lama dibuat dari konblok. Katanya, daerah itu sering terkena banjir. Jadi jalanan akan lebih awet jika menggunakan konblok dibanding aspal.

Gereja Blenduk
Gereja Blenduk

Another Part of The Old Town

Selanjutnya adalah menuju Tugu Muda. Di sudut persimpangan Tugu Muda ada satu lagi bangunan kuno peninggalan Belanda, Lawang Sewu. Beberapa kali jepretan kamera hanya menghasilkan sedikit gambar yang menampilkan pemandangan Lawang sewu yang bersih, tanpa ada kendaraan lalu lalang di jalan. Maklum, saat itu malam Minggu, jadi jalanan benar-benar ramai oleh kendaraan. Pun dengan taman di Tugu Muda. Banyak orang duduk-duduk di bangku taman atau di rerumputan di dalam taman.

Lawang Sewu
Lawang Sewu

Togetherness

Malam itu diakhiri dengan makan malam Pecel Mbok Sador di Simpang Lima. Saat siang, bisa dibilang tak satu pun warung yang buka. Suasana kontras terlihat saat malam. Lampu berkelap-kelip di mana-mana, dan warung-warung penuh dengan penikmat menu yang tersedia di sana.

Minggu

Hari Minggu saatnya pulang kembali ke Jogja. Namun di pagi itu, tak lupa menyempatkan waktu sejenak menikmati car free day (CFD) di sekitaran Simpang Lima dan jalan di dekat venue Semarang Bike Expo. Pagi itu juga beberapa orang Federalis Solo juga datang ke acara. Secara tak langsung, acara itu menjadi sebuah gathering kecil-kecilan untuk Federalis di Jawa Tengah dan Jogja.

Foto bersama di venue sebelum pulang.
Before Going Back to Jogja

Pukul 08.30, kami pun meninggalkan Semarang dan kembali mengayuh pedal menuju kota Jogja tercinta. Didampingi dua orang Federalis Semarang, Mas Henki dan Pak Yudi, kami melewati tanjakan Siranda dan Gombel hingga daerah Tembalang.

Nanjak Gombel
Uphilling Gombel

Pemandangan Semarang bawah dari Gombel.
Semarang from Up The Hill

Selamat tingal Semarang, sampai jumpa di lain waktu…..

Mengisi Logistik.
Rest for A While

Pemandangan indah di lintasan rel stasiun Ambarawa. Jalur rel ini terkenal karena ada gerigi-gerigi yang terletak di antara dua besi rel, yang berguna untuk menahan kereta agar bisa berjalan ‘mendaki’ bukit.
The Railways

One thought on “[ada yang bilang…] Touring Penuh Cinta

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s