“Kui kali ku, Ning..”


20121201

Suatu hari di waktu dulu, sepasang kekasih sedang menikmati indahnya sore di pinggir sungai di lereng selatan Merapi. Entah siapa nama si lelaki, tapi aku ingat si perempuan dipanggil dengan nama Ning.

Karena saking dekatnya mereka berdua, Ning bertanya kepada lelakinya dalam bahasa Jawa.
“Kowe ngeterke aku tekan kene iki, lha iki motore sapa, Mas?! Si lelaki menjawab, “Iki motorku.
Kemudian, Ning bertanya lagi kepada kekasihnya, “Lha nek aku ki pacare sapa, Mas?!” Si lelaki menjawab, “Ya wis cetha to yen kowe ki pacarku. Hehe.”
Hingga beberapa pertanyaan diajukan kepada si lelaki, pertanyaan terakhir pun muncul dari Ning.
“Kowe ngajak aku dolan neng pinggir kali iki, sakjane iki kaline sapa, Mas?!” Si lelaki pun menjawab, “Rasah kuwatir to, Ning. Iki kali ku, Ning…”

Sampai saat ini, kali atau sungai tempat sepasang kekasih itu pernah bermesraan disebut Kali Kuning. Kali Kuning tampak jauh berbeda jika dibandingkan dengan saat sebelum erupsi Merapi, beberapa hari setelah erupsi, dan saat ini. Dulu sebelum terkena erupsi, perbukitan di sekeliling kali Kuning hijau penuh pepohonan yang lebat. Beberapa hari setelah erupsi, pohon-pohon tergantikan dengan tumpukan material vulkanik yang berupa abu ataupun material lain yang mengalir ke bawah dalam bentuk lahar. Musim hujan menambah jauh jangkauan material lahar dingin dari asalnya yang ada di hulu sungai. Saat ini, 2 tahun setelah erupsi, perbukitan sudah terlihat menghijau lagi. Namun pepohonan belum ada yang tampak besar dan rimbun seperti dulu. Didukung dengan saat ini yang mulai memasuki musim penghujan, menambah rasa segar udara di tempat itu.

Kali Kuning dari kejauhan.
Mblusuk

Bukit Plawangan.
Plawangan

Lapangan Plunyon yang dahulu terkenal sebagai tempat wisata, di akhir minggu sering dijadikan tempat memadu kasih pasangan muda, saat ini terlihat lebih tandus, pun jembatannya terlihat terkoyak di beberapa bagian. Namun untuk mengatasi bahaya lahar dingin, di bawah jembatan sudah dibangun beberapa dan kecil.

Jalanan kampung dan sekelilingnya yang hijau.
Just Like in Different World

Jembatan Kali Kuning di dekat lapangan Plunyon.
Jembatan Plunyon, Kali Kuning

Setelah lewat 2 tahun pasca erupsi, material pasir sudah banyak berkurang. Penambangan pasir yang didominasi oleh truk pun sudah banyak berkurang. Kehidupan alami tetumbuhan pun dimulai lagi, dengan kondisi substrat yang lebih subur tentunya. Harapan untuk masa depan, semoga alam akan terus lestari, sehingga bisa dinikmati sampai nanti, tanpa kita harus mengganggu kelalamian tersebut…

One thought on ““Kui kali ku, Ning..”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s