Pantai Timang, untuk Kesekian Kalinya


20120714-15

Kali itu, bersama teman-teman Federal Jogja (FedJo), aku kembali ke pantai Timang, pantai yang bagiku penuh dengan cerita. Apalagi kali ini juga ke sana, pasti ceritaku akan bertambah. Bagi kebanyakan teman-teman, mungkin ini adalah yang pertama kalinya.

Karena keinginan Mas Andi Mardianto yang penasaran dengan pantai Timang, dan karena perkenalannya denganku sedikit terlambat, maka baru kali ini bisa terlaksana sepedaan bareng-bareng ke pantai itu.

Pagi yang mendung tebal, seakan-akan menjelang turun hujan, mengawali hari Sabtu tanggal 14 Juli 2012, di mana kami akan berkumpul di sebelah Balai Kota Yogyakarta. Menunggu memang hal yang membosankan. Hal itulah yang terjadi di pagi itu. Awalnya, kami sepakat untuk berkumpul maksimal pukul 6 pagi, dan kemudian pukul 06.30 sudah bisa memulai kayuhan pedal. Namun setiap orang memang punya sifatnya sendiri-sendiri. Ada salah seorang teman yang datang menjelang pukul 7, dan setelah itu baru kami bisa berangkat bersama.

Entah atas informasi siapa, kegiatan kami di pagi itu ternyata diliput oleh stasiun televisi lokal Jogja, yaitu Jogja TV. Meskipun hanya dengan handycam, tapi lumayan juga, acara FedJo kali ini nantinya bisa masuk televisi.

Kami berangkat melewati Berbah. Jalanan yang datar dan kebanyakan sawah terhampar di kanan dan kiri jalan yang kami lewati. Hingga akhirnya melewati jembatan sungai Opak dan lewat dekat Candi Abang. Terus menuju ke timur, akhirnya sampai juga di jalan raya Prambanan-Piyungan, dan kami pun menuju ke selatan, ke jalan Wonosari, sebelum nantinya terengah-engah melewati tanjakan menuju Bukit Patuk, pintu gerbang memasuki wilayah Gunungkidul.

Sekitar pukul 8, kami mulai merayap naik menuju bukit Patuk. Jalan sepanjang empat kilometer serasa sangat jauh karena tanjakannya. Namun tak sampai satu jam, satu per satu anggota rombongan sampai juga di Patuk. Setelah istirahat sebentar untuk menghela napas, kami melanjutkan perjalanan ke arah Wonosari.

Perjalanan ke Wonosari, seperti kebanyakan jalan di Gunungkidul, berliku-liku dan variatif dengan tanjakan dan turunan. Menuju Wonosari, jalanan lebih banyak turun daripada menanjak. Beberapa kali kami berhenti untuk saling menunggu anggota rombongan yang masih ketinggalan di belakang. Sekitar pukul 10, kami pun sampai di Wonosari, dan acara berikutnya adalah mencari warung makan untuk sarapan. Hehee…

Di sebelah utara terminal Wonosari, entah di pasar apa itu namanya, kami berhenti di sebuah warung di pojok pasar itu. Satu-per satu dari kami bergantian memesan makanan yang kami inginkan.

Perut pun telah terisi, kami kemudian melanjutkan perjalanan menuju tempat KKN-ku dulu, Purwodadi, Tepus. Melewati jalan Baron, kami kemudian berbelok ke arah timur di pertigaan Mulo. Tak lama kemudian, kami sampai di salah satu tempat di mana masyarakat sekitar biasa memadatinya di sore hari, apalagi di malam Minggu, yakni lembah karst Mulo. Sebuah lembah yang dulunya adalah sebuah sungai kecil yang alirannya masuk ke sebuah gua bawah tanah di dasar lembah itu. Karena sedang musim kemarau, tak terlihat adanya aliran air di dasar lembah. Di bagian yang datar di dasar lembah digunakan para petani untuk menanam komoditas pertanian mereka, yaitu singkong, yang sekarang sedang musimnya. Beberapa saat kami menikmati pemandangan yang ada, sembari menunggu Oom Bayu yang bannya bocor karena terkena potongan kawat. Dibantu Pak Supri dan Mas Tebe, tak lama kemudian mereka bertiga tampak, dan kami pun kemudian melanjutkan perjalanan.

Lembah Karst Mulo
Mulo Karst Valley

Dari Mulo, tempat KKN-ku masih berjarak sekitar 22 km lagi. Jalanan sepanjang 22 km itu kebanyakan hanya selebar 5 meter dan penuh tantangan, tanjakan dan turunan. Banyaknya tanjakan-turunan itu sedikit terbayar dengan indahnya pemandangan alam, bukit-bukit karst yang menjulang, dengan areal ladang di bawahnya, serta cuaca yang saat itu memang mendukung karena selalu teduh selama perjalanan.

Sekitar pukul 14.00, akhirnya kami sampai juga di desa Purwodadi, Tepus. Setelah istirahat sebantar di toko besi Pak Totok di samping lapangan, kami pun menuju tempat Pak Aris, kepala dusun Luweng Ombo, tempat di mana kami akan menginap nanti malam.

Grojogan Njogan yang Mengering

Sampai di rumah Pak Aris, kami pun beristirahat. Ada pula yang kemudian salat duhur dan asar sekalian. Bu Aris kemudian menyajikan minuman the panas dan gaplek goreng yang dibumbu seperti bakwan. Gaplek memang sedang musimnya saat ini, antara bulan Juni sampai dengan September, ketika matahari sedang bersinar terik-teriknya. Gaplek goreng yang seperti bakwan baru aku cicipi kali ini. Dulu sewaktu KKN selama dua bulan aku belum pernah mencobanya. Kebanyakan teman-teman berujar enaknya makanan itu, pun karena jarang juga dijumpai di kota.

Setelah waktu asar, sekitar pukul 15.30, aku pun menawarkan pada teman-teman, apakah ingin ke pantai atau tidak. Karena masih sore, maka kami kemudian ke pantai Siung dan Njogan. Jalanan menurun sepanjang 4 km ke arah pantai Siung dilewati hanya 10 menit, dan sampai juga di pantai Siung.

Sepeda kubawa ke pasir putih pantai Siung, demikian pula dengan teman-teman yang lain. Ada yang berfoto-foto agak menjorok ke tengah, karena sedang surut, ada pula yang hanya duduk-duduk di pasir putih sambil melihat kana kiri pemandangan.

Pantai Siung sore itu.
My Bicycle at Siung

Hanya sekitar satu jam saja kami menikmati pemandangan di pantai Siung. Selanjutnya teman-teman kuajak ke pantai Njogan, yang letaknya tak jauh dari pantai Siung.

Setelah melewati tanjakan yang lumayan curam untuk keluar dari pantai Siung, kami menuju jalan cor-blok di dekat gua Mendolo, gua yang biasanya digunakan penduduk sekitar untuk mengambil air di saat musim kemarau. Pun disedot pula oleh truk-truk tangki air bersih untuk menyuplai penduduk yang letaknya agak jauh dari sumber air tersebut.

Lima ratus meter dari jalan raya, sampai juga di pantai Njogan. Sayang, karena sedang musim kemarau, pantai Njogan kehilangan grojogannya (air terjun). Air terjun yang berupa air tawar, yang jatuh meluncur bebas ke pantai Njogan, yang lebih berbatu daripada banyak pasirnya. Karena air terjunnya kering, akhirnya beberapa dari kami ada yang turun ke pantai untuk menikmati sore itu dengan berendam di sela-sela batu karang yang tak terlalu tajam. Pun di situ masih banyak terdapat biota lain, semisal ganggang atau algae. Kerang-kerang yang ada masih banyak yang hidup, jika dibandingkan dengan di pantai Siung. Menjelang matahari tenggelam, kami pun bergegas pulang ke rumah Pak Aris.

Menjelang senja di Pantai Njogan.
View of The Beach

Di bawah air terjun Njogan yang mengering.
Me & The Flag

Air terjun Njogan yang mengering, dari kejauhan.
Dried Waterfall

Sisi timur pantai.
Part of Njogan

Timang di Pagi Hari

Keesokan paginya, sekitar jam 6 pagi, kami pun berangkat berjalan kaki ke pantai Timang. Dengan ditemani Ali, anak tetangga, kami pun melewati jalan setapak di selatan dusun sampai ke hutan arboretum, atau warga sekitar menyebutnya dengan hutan Jurug. Dari Jurug, masih melewati jalan berbatu, namun kali ini lebih lebar. Kendaraan roda empat pun bisa melewatinya. Tak jauh dari Jurug, ternyata jalannya sudah di-cor-blok, sehingga motor ataupun mobil bisa lebih mudah melewatinya. Jalan cor-blok itu terus sampai mendekati pantai.

Jalan cor-blok menjelang sampai pantai Timang.
Cor-Blok

Di pertengahan Mei, aku juga sempat ke Timang, kali itu bersama teman-teman KKN dulu. Saat itu, jalan cor-bloknya belum dibangun, namun banyak material, semacam batu-batu, pasir dan sak-sak semen, yang sudah dipersiapkan di sekitar jalan setapak tersebut.

Pantai Timang pagi itu berombak tak terlalu besar. Masih terlihat batas di mana ombak menyapu pasir pantai di malam hari sebelumnya. Aku memang tak berniat untuk keceh atau bermain air. Banyak dari kami bermain pasir ataupun berendam di pantai. Ada pula yang iseng-iseng dibenamkan dalam pasir pantai. Oom Bayu lebih memilih mencari baru-batu pantai yang baginya cocok untuk digunakan sebagai alat pijat. Mas Tebe mencari batu-batuan kecil untuk hiasan. Mas Andi dan aku berlagak menjadi coastguard, duduk-duduk di tempat yang agak tinggi di kejauhan.

Pose bersama di dekat gondola.
At Timang Beach

Pasir putih pantai Timang.
Line

Cocok buat berjemur.
White Sand in Timang

Pulau Panjang di seberang pantai Timang.
Pulau Panjang

Gondola untuk menyeberang ke Pulau Panjang.
Gondola

Pemandangan lain dari pantai Timang.
Sea in The Morning

Another Part

Puas bermain di pantai Timang, baik di dekat gondola ataupun di pasir putihnya, kami kembali ke tempat Pak Aris sekitar jam 9 pagi. Jalan kaki kembali ke dusun memang lebih berat dan lebih lama karena jalannya yang nanjak. Sampai di tempat Pak Aris, ada yang bersih-bersih, ada yang merapikan barang bawaannya, dan tak lama kemudian Bu Aris membawakan kami makan pagi itu. Nyamm nyaammm…..

Kami berpamitan dengan Pak Aris sekitar pukul 10 pagi menjelang siang, hari itu bertepatan dengan peringatan 1000 hari meninggalnya bapak dari Bu Aris. Satu per satu dari kami berpamitan, dan kembali mengayuh pedal sepeda kembali ke Jogja…

5 thoughts on “Pantai Timang, untuk Kesekian Kalinya

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s