Jepara Bumi Kartini


20120615-18

Ini bukan tentang Bike 2 Work, juga bukan tentang grup MTB Federal yang ada di Facebook, mungkin juga bukan tentang detil perjalanan bersepeda kali ini. Pada intinya nanti akan lebih bercerita tentang tempat tujuan bersepeda kali ini, yaitu Jepara, kota yang terletak mendekati ujung utara pulau Jawa.

Berangkat, Federal dan Ungaran

Berawal dari Bagus Abdurrahman Wahid, yang mengajakku dan Pak Supri ikut acara Bike 2 Work di Jepara, akhirnya berangkat juga. Padahal, tak sampai seminggu sebelumnya aku baru saja pulang dari Sidoarjo.

Hari Jumat pagi kami berangkat dari Jogja dengan tujuan hari itu adalah Ungaran atau Semarang. Karena melalui jejaring sosial Facebook, kami bisa punya kenalan dari kota lain. Tentunya yang dituju ada kaitannya pula dengan sepeda, yakni anggota grup MTB Federal yang ada di Ungaran. Karena bagus sudah punya kontak dengan Pak George Hardjanto (MTB Federal Semarang), maka kami pun memutuskan untuk singgah di tempat beliau.

Perjalanan Jogja-Ungaran berjalan lancar. Kami beristirahat agak lama di sebelum Ambarawa, karena tepat dengan salat Jumat. Sekitar pukul 14.00 kami pun sampai di Ungaran.

Setelah menghubungi Pak George, sekitar jam 15.00 kami sampai juga di rumah beliau. Tak lama, datang pula teman-teman lain Pak George, yakni Mas Dayat dan seorang temannya lagi. Dilanjutkan dengan Mas Hendhy, Mas Taufiq Hermansyah dan Mas Wawan yang menyempatkan diri datang ke tempat Pak George, sekedar untuk bisa bertemu sesama Federalis (sebutan bagi pesepeda yang punya Federal) yang baru datang dari Jogja. Asyik dengan berbincang-bincang sampai lepas magrib, dan dilanjutkan dengan makan malam di kota Ungaran, akhirnya kami bertiga menginap di rumah Mas Hendhy malam itu.

Di depan rumah Pak George Hardjanto.
In Front of Mr. George's House

Beban, Turunan, Velg dan akhirnya Jepara

Keesokan paginya, setelah berpamitan dengan Mas Hendhy yang telah berbaik hati memberi tempat kami berteduh semalam, dengan diantar Pak George dan Mas Dayat, kami bertiga menuju Semarang, dan kemudian ke Jepara.

Di turunan Kodim menjelang Banyumanik, hal yang tak terduga pun terjadi. Velg roda belakang sepeda Pak Supri sobek dan harus diperbaiki. Untungnya saat itu Pak George menghubungi rekan Federalis Semarang yang lain, Mas Hengky, yang kemudian mengantar Pak Supri mengambil velg cadangannya agar bisa dipakai Pak Supri. Untungnya ada wheelset dan velg yang nganggur juga. Kembali ke bengkel di Banyumanik, akhirnya sepeda Pak Supri selesai diperbaiki menjelang tengah hari.

Velg belakang sepeda Pak Supri.
Torn Rims

Dari tempat itu, entah menuju arah mana, Pak George menjadi penunjuk arah. Akhirnya sampai juga di jalan raya Semarang-Demak. Pak George kemudian kembali ke arah Ungaran, dan kami pun melanjutkan ke arah Jepara.

Untuk menuju Jepara, kami pun melewati kota Demak. Dari kota Demak, masih menuju arah timur, sampai di pertigaan Trengguli, kami belok ke arah utara. Mulai dari situ, angin pantai mulai terasa menghambat laju perjalanan kami. Biar pelan asal sampai tempat tujuan. Ya, memang demikian. Pelan-pelan, selepas jam 16.00, akhirnya kami masuk juga wilayah Jepara. Dan menjelang pukul 16.30, kami sampai juga di Pantai Kartini, Jepara, tempat kami menginap nanti malam.

Kota Jepara dan Pantai Kartini, menjelang Karimunjawa

Gapura “Jepara Bumi Kartini” menyambut kami ketika memasuki wilayah kota Jepara. Dari gapura tersebut, pusat kota Jepara masih sekitar 7 km dengan kontur jalan yang sedikit naik-turun, namun suasana yang lebih ramai menjadikan jarak tersebut tak terlalu terasa.

Jepara Bumi Kartini
Jepara Bumi Kartini

Ketika itu tepat dengan malam minggu. Alun-alun Jepara sangat ramai. Banyak orang-orang, terutama anak-anak muda bersepeda keliling kota di malam itu. Apalagi di dekat alun-alun ada pertunjukan wayang kulit, mungkin menjadikan malam itu lebih ramai daripada biasanya.

Di Pendopo Kabupaten Jepara
In Pendopo Kabupaten Jepara

Di sekitar alun-alun banyak orang menjajakan beragam menu dan jenis makanan. Namun satu yang khas Jepara, yang notabene kota di pinggir laut, adalah olahan kerang rebus. Karena dekat dengan laut, ternyata harga kerang rebus cukup murah. Satu porsi, terdiri dari kerang darah yang berukuran kecil dan susah dibuka, kerang hijau yang paling besar dan kerang yang berwarna krem, seharga Rp. 5000,00. Coba kalau di Jogja, lima ribu rupiah mungkin baru nasinya saja. Menu kerang rebus itu sekedar untuk camilan saja, mirip-mirip dengan kacang rebus saja. Enak dinikmati sembari ngobrol kesana kemari.

Penjual kerang rebus di Alun-alun Jepara.
Shells Seller

Dan masih berkaitan dengan kerang rebus itu, kami menikmati malam itu di dekat patung Kura-Kura Ocean Park (KOP) di kompleks Pantai Kartini. Saking asyiknya obrolan kami, tak terasa waktu sudah mendekati tengah malam. Dan kami pun kembali ke penginapan.

Kepala kura-kura raksasa
Kura-Kura Ocean Park

Pantai Kartini, diberi nama seperti itu mungkin untuk lebih mudah mengingat Ibu Kartini, yang erat kaitannya dengan kota Jepara. Di kompleks Pantai Kartini terdapat sarana prasarana yang mendukung pariwisata. Selain KOP, juga banyak terdapat penginapan, termasuk tempat kami menginap saat itu, Hotel Samudra. Banyak pula persewaan sepeda, bagi mereka yang ingin menikmati sekitar pantai Kartini dengan sepeda. Hal yang pasti ada adalah penjaja makanan, baik yang membuka warung ataupun penjaja makanan keliling.

Pantai Kartini terletak satu kompleks dengan dermaga untuk menyeberang ke Kepulauan Karimunjawa, objek wisata lain yang masih termasuk wilayah Jepara. Namun saat itu, kami hanya berkeliling kota Jepara dan tidak ke Karimunjawa. Suatu saat nanti, pasti bisa juga ke Karimunjawa.

Dari lantai 2 hotel tempat menginap.
From Above The Hotel

Pantai Teluk Awur

Minggu pagi yang lumayan cerah. Melongok keluar hotel, ternyata banyak pula penduduk sekitar yang mengisi Minggu pagi mereka dengan bersepeda. Di kompleks Pantai Kartini banyak berseliweran orang-orang yang bersepeda.

Acara pagi itu adalah berkeliling objek wisata di Jepara dengan sepeda. Dari Pendopo Kabupaten di dekat alun-alun, kami menuju Pantai Teluk Awur, yang letaknya di sebelah selatan pusat kota Jepara.

Me, bicycle, beach

At One of Jepara's Beach

Pantai Teluk Awur terletak tak jauh dari jalan raya yang cukup mulus, masuk sedikit menjorok ke arah barat sekitar 1 km. Ombak di pnggir pantainya begitu tenang. Namun hanya di beberapa bagian saja yang berupa pasir putih landai hingga masuk ke bagian perairannya. Sebagian besar sudah ditalud dengan beton, dan di atasnya berdiri warung-warung makan yang menjajakan menu sea food.

Satu hal yang tampak sedikit janggal terlihat di langit Jepara pagi itu.
Cross Clouds

Pantai Bandengan

Pantai Bandengan terletak di sebelah barat laut pusat kota. Setelah melewati tanjakan yang lumayan, kemudian ada papan penunjuk arah ke pantai menuju arah barat. Ternyata, lokasi pantai masih sekitar 3-4 km dari tepi jalan raya itu. Setelah tadi dihadapkan pada tanjakan, jalanan ke arah pantai ini jelas didominasi oleh turunan. Meskipun sedikit bergelombang, namun jalanannya lumayan halus untuk sepeda.

Setelah kira-kira 3-4 km dari jalan raya, sampai juga di Pantai Bandengan. Pantai berpasir putih, sama halnya dengan pantai Teluk Awur, namun di pantai ini suasananya lebih ramai. Garis pantai yang memanjang, dengan ombak yang tenang dan dasara perairan yang landai, menjadikan pantai ini cocok untuk bermain air atau berendam. Sedikit ke utara, perahu-perahu nelayan ‘diparkir’ di tepi pantainya.

Di pantai Bandengan banyak terdapat warung-warung makan dan penjaja makanan keliling lainnya. Hampir mirip dengan yang ada di pantai Kartini, namun lebih alami. Di beberapa warung masih menggunakan bahan bangunan berupa bambu. Pun ada pula pepohonan yang lumayan rimbun, sehingga suasana di sekitar warung itu menjadi lebih teduh.

My Bicycle on The Beach

Bandengan Beach

Jepara & Sepakbola

Tiap kota di Indonesia hampir pasti punya klub sepakbola. Begitu juga dengan di Jepara, dengan klub Persijap. Stadion di Jepara pun ada dua, hampir mirip dengan yang ada di kota Jogja, Kridosono dan Mandala Krida. Di Jepara, ada stadion Kamal Junaedi yang kapasitas atau ukurannya lebih kecil, ketika itu sedang dipersiapkan untuk konser Slank malamnya. Sedangkan stadion yang lebih besar adalah stadion Gelora Bumi Kartini, dengan tribun di keempat sisi stadion, dan di beberapa sisi sudah ada atapnya. Dari kejauhan terlihat mirip dengan stadion Maguwoharjo di Yogyakarta.

Stadion Kamal Junaidi.
Kamal Junaidi Stadium

Stadion gelora Bumi Kartini.
Gelora Bumi Kartini

Nelayan

Setelah berkeliling kota Jepara dan beberapa tempat wisata di sekitar kota, akhirnya kami pun kembali menuju hotel di Pantai Kartini. Dalam perjalanan dari pantai Bandengan menuju ke hotel, kami melewati jembatan yang letaknya agak tinggi jika dibandingkan dengan jalanan sekitarnya. Di atas jembatan itu pemandangan muara sungai dan kampung nelayan terlihat menarik. Tentu saja beberapa jepretan kamera mengambil gambar suasana di tempat itu. Di sebelah barat di kejauhan, tampak sebuah pulau, namun aku tak tahu pasti pulau apa itu.

Boat Along The River

Fisherman's Village

Pulang

Sebenarnya msaih banyak objek wisata lain di sekitar Jepara. Hal yang mungkin belum tercakup di cerita ini adalah kerajinan ukirnya. Cerita kali ini hanya seputar objek wisata alam dan beberapa hal lain yang berkaitan dengan Jepara.

Berfoto sesaat di depan hotel.
In Front of The Hotel

Hari Minggu 17 Juni, selepas tengah hari, kami pun pulang kembali ke tempat asal masih-masing. Dari hotel, kami bersepeda beriringan, ada yang kembali ke Semarang, Solo, Pemalang, dan tentu saja aku, Bagus dan Pak Supri kembali ke kota tercinta Yogyakarta.

One thought on “Jepara Bumi Kartini

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s