Tanpa Rencana, sampai Sidoarjo #2


20120604-09

Di Sidoarjo

Meskipun tempat kerjanya ada di Surabaya, pamanku dan keluarganya tinggal di Sidoarjo. Tepatnya di daerah Magersari, sebuah kampung di belakang kompleks kabupaten dan alun-alun Sidoarjo. Jalan raya Surabaya-Sidoarjo hanya berjarak sekitar 1 km keluar dari kampung. Melewati jalan-jalan di dalam perumahan dan kampung, juga tak berjarak jauh, sudah sampai di kompleks Gedung Olah Raga (GOR) dan stadion Gelora Delta Sidoarjo. Di seberangnya, sudah berdiri Mal Sidoarjo. Entah seberapa besarnya dan hampir mirip dengan bangunan mal mana di Jogja, karena aku tak main ke tempat itu.

Hari Rabu, 6 Juni 2012, aku bangun seperti biasanya, sekitar pukul 05.30. Itu pun karena hampir semuanya, adik sepupuku, Nia, dan bulikku, Harmi, sudah bangun dan bersiap berangkat sekitar jam 6 pagi. Setelah membereskan ‘tempat tidur’, masih dilanjutkan dengan sedikit bermalas-malasan di depan televisi, nonton acara televisi pagi itu yang tak juah dari seputar gosip-gosip artis ibukota. Adik sepupuku yang lebih kecil, Hana, sudah libur karena sudah lulus SMP dan sedang mencari sekolah yang baru, jadi dia tak berangkat ke sekolahnya. Pun demikian dengan Mbak Ema, dia masuk siang menjelang sore karena pekerjaannya yang seorang tentor.

Mbak Ema kemudian memasak nasi dan sayur sop setelah semuanya berangkat. Bareng Mbak Ema, aku pun sarapan. Sambil ngobrol-ngobrol dan Mbak Ema perginya masih nanti siangnya, aku pun segera mandi dan akan sepedaan berkeliling kota Sidoarjo dan entah ke mana nantinya.

Hampir pukul 10, pagi menjelang siang, sudah kubawa keluar sepedaku dan mulailah aku lagi-lagi mengayuh pedal. Iseng-iseng muter kota Sidoarjo yang tak terlalu luas, itu pun aku masih sedikit dibingungkan dengan adanya jalan searah, yang mengharuskan ikut arus dan memutar lagi untuk kembali ke tempat sebelumnya.

Stadion Gelora Delta Sidoarjo
Gelora Delta Sidoarjo

Menjelang tengah hari, sepertinya kok asyik kalau sepedaan ke tanggul lumpur Lapindo. Ya kemudian aku pun ke sana. Dan ternyata memang tak terlalu jauh dari kota Sidoarjo. Sekitar 8 km di selatan kota, sampai juga di tanggul lumpur itu. Tingginya mungkin sekitar 5 meter dan bahkan lebih. Di beberapa bagian ada jalan setapak, jadi sepedaku pun bisa naik ke atas tanggul.

Lapindo Mud

Bergeser sedikit ke selatan, ada juga yang lumpurnya sudah kering dan malah jadi seperti lautan pasir. Hampir mirip dengan yang ada di lereng selatan Merapi sewaktu setelah erupsi 2010. Di kejauhan masih tampak asap putih mengepul, tanda bahwa di tempat itu masih terus pula mengeluarkan lumpur panas.

Di atas lumpur yang mengering, dengan latarbelakang GunungArjuno.
On the dried mud

Mungkin hampir 2 jam aku ada di tanggul dan sekitarnya, dan kemudian aku pun pulang.

Saat sore hari di rumah Paman.
At Home

Ke Rumah Pakdhe

Malam harinya, masih di hari Rabu itu, Paman mengajakku ke tempat Pakdhe Pardi di dekat Bundaran Waru. Seingatku ya hanya itu saja, sedikit di sebelah utara Bundaran Waru, masuk perumahan dan entah seterusnya. Jika disuruh merunut sendiri, aku tak tahu.

Dari rumah Paman di Sidoarjo, rumah pakdhe berjarak sekitar 11 km. Sampai di sana, ada pakdhe, budhe yang sedang akan mulai makan malam. Selain itu ada juga Mbak Tami, Mbak Nina, anak-anaknya, sekalian dengan suaminya juga. Setelah makan beberapa lahapan, kembali meneruskan obrolan di ruang tamu. Saking asyiknya ngobrol, waktu pun berlalu dengan cepat, dan jam dinding sudah menunjukkan menjelang pukul 21.30. Aku, Paman dan Hana pun berpamitan pulang.

Pakdhe Pardi dan aku.
Me and My Uncle

Kamis

Hari Kamis, Paman menyengaja untuk tak masuk ke kantornya. Sepertinya begitu. Menjelang siang, Paman mengajakku untuk main ke Surabaya, sekaligus juga mencari rumah saudara sepupuku, Dik Didit di daerah Waru, juga di Sidoarjo yang berbatasan dengan kota Surabaya.

Bareng Dik Didit dan ponakanku, Nindy.
With My Cousin

Gambaran kasarnya sudah tahu, yaitu di sebelah utara jalan menuju bandara Juanda, jalan Tropodo. Tapi karena masih belum tahu alamat lengkapnya, maka kami berdua sempat beberapa kali memutar dan melewati jalan yang sama, sampai akhirnya setelah telpon, ketemu juga dengan Dik Didit yang sedang di bengkel menyervis motornya, dan kami pun ke rumah Dik Didit.

“Pokoknya sudah bisa ketemu dengan saudara yang ada di Sidoarjo dan Surabaya”, hanya itu niatanku dolan ke Sidoarjo ini. Dan memang demikian, bisa ketemu dengan Paman, Pakdhe, Dik Didit, juga teman-teman lain yang kenal dari sepeda.

Hampir 2 jam aku main ke tempat Dik Didit. Kebetulan dia sedang ijin dari kerjanya, dan pas pula aku hari itu main ke tempatnya. Kemudian Paman mengajakku menuju kota Surabaya, yang mungkin baru pertama kali itu muter-muter di sana. Mulai dari Jembatan Merah, Suramadu, Kota Lama, sekitaran ITS dan Unair, dan lain sebagainya. Sampai sekitar hampir asar kami berkeliling, dan akhirnya pulang lagi ke rumah Paman.

Jembatan Merah
Jembatan Merah

Kota Lama
Old Town Surabaya

Suramadu
Suramadu Bridge

Sedikit rasa mengantuk saat sampai di rumah Paman, namun hilang saat mandi di sore itu. Airnya kurang begitu segar untuk mandi karena rasanya kurang dingin. Maklum, Sidoarjo letaknya dekat dengan pantai dan di dataran rendah.

Malam harinya, Paman dan Mbak Harmi, begitu aku memanggil bulikku, mengajak ke kompleks stadion Gelora Delta, untuk jajan di warung bakmi. Meskipun di Sidoarjo, ternyata nama warungnya tetap ‘Mie Djogja’. Seperti biasa, aku memilih bakmi goreng campur. Dan ternyata tak jauh beda rasanya dengan yang ada atau asli di Jogja.

Mie Djogja
Mie Djogja

Bakmi Goreng Campur
Bakmi Goreng Campur

Suasana malam hari di kompleks stadion.
Night View

Malam pun sudah larut saat aku kembali menata barang bawaan dan kumasukkan ke dalam tasku…

Pulang ke Jogja

Setelah malamnya sudah kusiapkan barang=barang bawaanku, Jumat pagi, 8 Juni, aku pun pamitan untuk pulang ke Jogja. Paman dan Dik Hana mengantarku sampai entah pasar mana, tapi letaknya tak jauh dari kota Sidoarjo, di jalan raya menuju Krian. Target hari itu, aku harus sampai ke Ngawi sebelum bermalam lagi di tempat yang sama di sana nantinya.

Aku & Pamanku, di depan rumah.
Me & My Uncle

Karena melewati jalan yang sama dengan sewaktu berangkat, maka cerita dan kondisinya pun tak jauh beda dengan sewaktu berangkat. Hampir keluar dari by-pass Mojokerto-Krian, aku mampir sebentar di sebuah warung kopi, tentu saja untuk minum kopi alias ngopi. Mungkin sudah menjadi rutinitas, menurutkua agar jantung sudah siap untuk dipompa dan bekerja lumayan keras menyuplai darah ke seluruh tubuh yang akan cukup lama bergerak hari itu. Tak lupa pamitan pula dengan Om Hendrik Boboho, meskipun hanya lewat sms.

On the Roadside

On The 'I Don't Know The Name' Bridge

Di jalan Mojokerto-Jombang, di daerah Trowulan kalau tak salah, kusempatkan belok sebentar ke Objek Wisata Gapura Wringin Lawang. Itu karena letaknya tak jauh dari jalan raya, hanya sekitar 100 meter saja.

Gapura Wringin Lawang
Gapura Wringin Lawang

Sama dengan waktu berangkat, Mojokerto-Jombang adalah ‘etape’ terpanas. Meskipun itu masih pagi hari, antara jam 09.30 sampai menjelang jam 11 siang, matahari sudah bersinar dengan teriknya. Itu membuatku harus memelankan kayuhan agar tak cepat capek. Aku sampai di Jombang sekita jam 11 siang dan kemudian sarapan di sebuah warung pecel di pinggir jalan di kota itu. Semabri ngobrol dengan penualnya, kunikmati pecel di siang itu. Aku menganaggapnya sarapan karena aku memang belum makan sejak paginya. Hehee.

Jombang, Kertosono dan Nganjuk. Jalur yang membuatku bosan, karena suasana kiri-kanan jalan yang itu-itu saja. Menjelang masuk kota Nganjuk, aku mampir lagi di warung es sari tebu yang ketika berangkat aku juga mampir di tempat itu. Ternyata penjualnya masih ingat dan dengan kemurahan hatinya, menyuruhku membayar separuh harga dari apa yang aku beli. Katanya, perjalananku sampai Jogja masih jauh.

Dari atas jembatan Kertosono
View From Kertosono Bridge

On the Kertosono Bridge

Ngajuk-Caruban hampir 30 km, itu pun harus rolling pula di Saradan. Tapi memang itu jalan yang harus dilewati. Sampai di Caruban sekitar jam 4 sore. Lagi-lagi mampir sebuah warung untuk jajan minuman hangat. Menjelang magrib, kulanjutkan kayuhan pedalku menuju Ngawi.

Entah di mana ini.
Cart & Cows

Lewat magrib, matahari sudah menghilang dan gelap sudah saat itu. Hanya mengandalkan lampu dari kendaraan yang lewat dan lampu penerangan di pinggir jalan, akhirnya aku sampai juga di Ngawi di saat isya, sekitar jam 7 malam. Aku langsung menuju warung yang ketika berangkat aku juga mampir. Kejadian di Nganjuk pun kembali terulang. Sang penjual memeriku diskon saat aku membayar makanannya. Alasannya, hampir sama : Jarak ke Jogja masih jauh.

Malam itu, kembali seperti saat berangkat : bermalam di SPBU yang sama. Terima kasih, Pak Petugas SPBU..

Jogjaaa…

Pagi hari di kompleks Monumen Gubernur Soerjo
Monumen Gubernur Soerjo

Taman Wisata Monumen Gubernur Soerjo

Me & My Bicycle in Monumen Gubernur Soerjo Complex

Ya. Hari Sabtu, 9 Juni aku pun sampai kota tercinta Yogyakarta. Terima kasih pula untuk Pak Supriyadi Plat Ab, yang telah menjemputku di alun-alun Klaten. Saat itu masih menjelang sore, sekitar jam 2 siang. Setelah sebentar ‘ngangkring’ di sekitaran alun-alun, kami berdua pun pulang ke Jogja. Aku sampai di rumah sekitar pukul 17.00, dan kemudian beres-beres barang bawaan dan dilanjutkan dengan istirahat..

Maturnuwun GUSTI…

7 thoughts on “Tanpa Rencana, sampai Sidoarjo #2

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s