Selo Daytrip


20120519-20

Awal tahun 2010, tepatnya tanggal 3 Januari 2010, itu pertama kalinya aku sepedaan jauh, dan pertama kalinya ikut langsung disuguhi menu tanjakan yang luar biasa hebat, Selo, yang letaknya di antara gunung Merapi dan Merbabu. Waktu itu, aku belum terlalu paham tentang sepeda dan seluk beluknya, asal ikut saja. Saat itu juga dalam rombongan besar, sekitar 30an orang ikut, dan ada mobil pick-up di belakang, yang siap menampung peserta yang tidak kuat. Kali ini, melewati rute yang sama, aku sendirian saja menuju Selo. Tanpa memakai bike pants (celana berpadding) dan sepatu, hanya memakai celana pendek biasa dan sandal gunung. Ditambah pula beban sekitar 5 kg yang kugantung di rak belakang.

Pukul 6 pagi kurang beberapa menit aku berangkat dari rumah di Purwomartani menuju Manisrenggo. Dengan jarak 11,6 km, aku sampai Manisrenggo sekitar pukul 06.30 lebih sedikit. Sambil mengingat-ingat jalan yang dulu memang pernah dilewati, aku menuju Pasar Kembang. Manisrenggo ke Pasar Kembang berjarak tak terlalu jauh. Jalanan yang sedikit menanjak, dengan hamparan sawah di kanan dan kiri jalan, namun ramai oleh truk-truk yang lalu lalang mengangkut pasir dari sungai di sekitar Merapi.

Sampai di Pasar Kembang, aku masih ingat untuk mengambil arah timur laut. Mulanya jalannya sempit, seperti jalan aspal di dalam kampung. Namun kemudian jalannya menjadi lebih lebar daripada yang di dekat pasar. Sayangnya, karena sering dilewati truk yang membawa beban pasir, jalannya menjadi banyak yang berlubang, sehingga aku pun harus berhati-hati dan memilih-milih jalan agar tak terperosok ke lubang.

Jalanan yang banyak lubang masih terus berlanjut sampai ke Musuk, setelah 27,6 km dari Manisrenggo. Di perempatan dekat kecamatan Musuk, aku istirahat beberapa lama, sembari mengatur napas dan menikmati hari yang masih pagi. Di perempatan itu ada papan penunjuk arah, ke utara menuju Cepogo-Selo, ke selatan menuju Boyolali. Ya, memang benar. Musuk adalah salah satu kecamatan di wilayah Boyolali. Aku pun menuju Cepogo.

Di perempatan dekat kantor kecamatan Musuk. Ke kanan ke Boyolali, ke kiri ke Cepogo & Selo.

Tanjakan tak pernah usai.

Kakek dan cucu-cucunya.

Jalanan yang lumayan halus, rindang di kiri kanan, udara yang sejuk, namun penuh tanjakan menuju Cepogo.

Mengikuti jalan yang ada, akhirnya ketemu juga dengan jalan raya Boyolali-Cepogo, tepatnya kilometer 8 dari Boyolali, dan Cepogo kurang 3 km lagi. Meskipun jalannya lebih halus dan lebih lebar, tetapi tanjakannya sedikit lebih curam daripada sebelumnya. Pelan tapi pasti akhirnya aku pun sampai juga di Cepogo, 6,8 km dari perempatan Musuk, saat itu pukul 09.50.

Cepogo 0 km.

Karena memang sudah lumayan haus, tapi belum terlalu lapar, aku pun mampir di sebuah warung makan dan memesan es campur. Es-nya bisa melegakan haus, dan bauh-buahnya cukup sebagai pangganjal perut. Sekitar 30 menit aku istirahat sembari ‘sarapan’, dan kemudian aku pun kembali meneruskan kayuhan menuju Selo.

Es campur di seberang Pasar Cepogo. Untung tak sampai membuatku pilek.

Setelah Cepogo, kontur jalan menjadi lebih curam dan penuh kelokan. Di kanan-kiri jalan mulai jarang terdapat rumah-rumah dan didominasi ladang atau tetumbuhan liar yang cukup lebat. Di beberapa bagian, kita bisa melihat jalanan yang letaknya di atas, yang nantinya akan dilewati. Atau ketika sudah di atas, kita bisa melihat jalan yang tadi baru saja kita lewati. Ketika melihat ke bawah, pemandangan indah pun terhampar. Lansekap yang didominasi warna kehijauan, area yang digunakan untuk ladang dan sawah. Sedangkan jika melihat ke atas, gunung Merapi dan Merbabu menampakkan keindahannya. Untung bagiku saat itu, cuaca cukup cerah, sehingga bisa menikmati pemandangan alam yang ada.

Bersanding dengan sepeda onthel, 32 km dari Cepogo.

Best capture of the daytrip. Down to Cepogo, up to Selo & Ketep, Mt Merapi as the background, with halfside pannier, loaded with 2 cameras, 1 towel, 1 shirt and no toolkit at all.

Tepat jam 12.00 aku sampai juga di Selo, setelah 9,2 km dari Cepogo. Mampir sebentar di depan papan nama Kecamatan Selo untuk memotret sepedaku. Kemudian aku ke warung makan yang dulu pun aku juga singgah di warung itu, sarapan sekaligus makan siang, nasi rames dengan lauk telur dadar.

Sampai juga di Selo. Pose sebentar di depan kantor kecamatan.

Belum sempat aku menikmati makan siangku, datang serombongan orang yang naik motor. Beraneka rupa motornya, tak hanya dari satu pabrikan saja. Tapi ternyata memang benar sebuah klub motor, tertulis di jaket mereka ‘Imoba’. Dari personilnya tidak ada yang pemuda atau seumuran aku sampai umur 30 awal, semuanya bapak-bapak berumur lebih dari 40 tahun, dan ada juga beberapa ibu di antaranya. Ternyata beliau-beliau dari BATAN Bandung. Aku sempat ngobrol beberapa saat, salah satunya dengan Pak Haji Wawan namanya. Meskipun dipanggil Pak Haji oleh teman-temannya, beliau terlihat paling santai dan sedikit nyentrik, tapi tetap asyik diajak ngobrol. Ketika tiba saat salat zuhur, bukan beliau yang pertama kali mengajak temannya salat. Belaiu malah yang terakhir. Ketika kutanya kenapa kok menunggu temannya yang lain selesai salat dulu, baru kemudian beliau, belaiu menjawab, “Santai saja Mas, toh masih masuk waktunya salat. Ini minum juga belum habis, di tangan rokok juga masih menyala. Dihabisin dulu biar nggak mubazir”. Satu pernyataan beliau yang mungkin cocok denganku, katanya kalau memang punya jiwa petualang, kalau ada niat, pasti bisa terlaksana. Dan seorang yang suka petualangan belum terlalu memikirkan cewek. Itu kata belaiu.

Jam dinding di warung menunjuk pukul 1 siang. Aku kemudian pamitan sama rombongan dari Bandung itu dan turun ke Ketep duluan. Dari Selo ke Ketep berjarak 16,8 km. Jarak itu tidak terlalu akurat, karena 2-3 kali speedometer sedikit ngadat, sehingga harus disetel lagi. Jarak sepanjang itu didominasi turunan. Ada beberapa tanjakan sekitar 4-5 km menjelang sampai Ketep.

Di Ketep aku sempatkan untuk sampai di parkirannya. Setelah istirahat sejenak dan menikmati ramainya suasana waktu itu, banyak mobil dari luar kota yang sampai juga di Ketep, aku pun turun ke tempat Budhe Tutik di daerah Dukun.

Ketep, walaupun hanya sebentar di parkirannya.

Dari Ketep kemudian turun melewati Sawangan dan berbelok menuju Dukun melewati jembatan Tlatar yang baru. Ya, jembatan baru, karena sewaktu banjir lahar dingin Merapi jembatannya ambruk diterjang derasnya arus. Saat ini, jembatan Tlatar baru bisa dilewati oleh pejalan kaki dan kendaraan roda 2, baik sepeda atau motor. Jembatan yang lama berupa jembatan gantung, namun jalannya diaspal. Jembatan yang baru ini juga jembatan gantung, tapi menggunakan baja ringan sebagai bahannya, juga jalannya. Kali Pabelan tampak jelas dari atas jembatan. Masih banyak juga penambang pasir di tempat itu, meskipun tak sebanyak yang ada di Kali Gendol, Cangkringan.

Jembatan Tlatar yang baru selesai dibangun, hanya bisa dilewati kendaraan roda 2.

Kali Pabelan, dari atas jembatan Tlatar.

Pukul 14.50 aku sampai di rumah Budhe Tutik, setelah 8,9 km dari Ketep. Istirahat semalam, baru keesokan hari melanjutkan perjalanan kembali ke Jogja.

7 thoughts on “Selo Daytrip

  1. Pingback: Selo, Menjelang 17an | Denmas Brindhil - Situsé

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s