Pantai Menyer, just like a private beach


Mungkin hanya masyarakat sekitar saja yang pernah mendengar nama pantai Menyer, atau segelintir pecinta alam yang pernah benar-benar menyusuri pantai-pantai di wilayah Purwodadi, Tepus.

Yap, betul sekali. Pantai Menyer memang seperti kebanyakan pantai-pantai di Gunungkidul pada umumnya. Berpasir putih dan sedikit nyemplung ke bagian airnya, sudah terasa batu-batuan karang di kaki. Lokasinya memang agak sulit dijangkau. Meskipun bagi orang desa sekitar dianggap dekat dari pantai Timang, namun bagi yang jarang trekking ataupun kurang suka berpetualang mungkin dianggap jauh. Sekitar 30 menit dengan berjalan kaki dari pantai Timang.

Dengan menyusuri jalan setapak di sebelah timur pantai Timang, melewati 2 bukit yang cukup menantang fisik, maka kita akan bisa melihat pasir putih pantai Menyer dari ketinggian. Dari ketinggian?! Memang dari ketinggian, karena pantai Menyer terkungkung oleh tebing batu kapur yang cukup tinggi.

Untuk bisa turun ke pantai, kita harus mencapai sisi timur tebing. Untuk mencapai bagian timur tebing pun cukup susah, kita harus memutar lewat sebelah utara bukit, atau memacu adrenalin menyusuri lereng yang cukup miring, dengan jurang, yang di bawahnya adalah pantai Menyer itu sendiri.

Setelah sampai di sisi timur tebing, dengan ketinggian sekitar 25-30 meter dari pantai, tantangan muncul lagi. Untuk bisa sampai ke bawah, kita terlebih dahulu harus memanjat tebing ke bawah (climb down; istilah dalam kegiatan panjat tebing). Bagi yang belum pernah melakukan kegiatan panjat tebing mungkin akan mengalami kesulitan. Namun bagi yang sudah pernah atau malah pemanjat tebing, sisi tebing itu mudah untuk dituruni karena banyak terdapat lubang dan batuannya enak untuk dipegang dan digenggam.

Sekitar 10 meter menuruni tebing (tanpa alat bantuan), kita akan menyusuri jalan setapak yang cukup sempit, rapat dengan tebingnya, dan sedikit licin saat musim hujan. Lalu kita juga akan melewati lorong kecil di dalam batuan tebing (semacam gua kecil) dan kemudian jalan setapak lagi hingga sampai ke pantai.

Sangat beruntung jika kita bisa sampai di pantai pada saat surut. Selain bisa menikmati pantai pasir putih sepanjang sekitar 200 meter membentang dari timur ke barat, kita juga bisa menikmati biota laut yang masih alami dan berwarna-warni di batuan karang pantai itu. Namun kita harus tetap berhati-hati jika kemudian ada ombak yang tiba-tiba besar, juga karena batuan karangnya lumayan tajam jika kita tidak berhati-hati.

Pantai Menyer memang serasa pantai pribadi. Akses jalan yang cukup sulit serta dikungkung oleh tebing yang tinggi menjadikan pantai Menyer menjadi seperti milik sendiri. Jarang ada orang di luar warga setempat yang pernah sampai ke pantai ini. Bahkan, warga desa setempat pun ada yang belum pernah sampai ke pantai ini. Mungkin rasanya asyik jika bisa berkemah semalam saja di pantai ini, berlindung di balik batu karang besar yang ada sedikit di bawah tebing, sehingga kita tidak akan terkena ombak saat pasang dan kehujanan dari atas, jika memang hujan.

Karena jarang dijamah oleh manusia, lingkungannya pun masih alami. Beberapa jenis keong laut ada di batuan karang pantai ini. Warga sekitar menyebutnya dengan ‘ungsal’ dan ‘tumpengan’. Jika pas sedang musimnya, maka kita bisa memanen banyak keong laut, kemudian dibawa kembali ke desa dan minta dimasakkan kepada penduduk sekitar.

Bagi mereka yang benar-benar suka tantangan dan petualangan, pantai ini memang harus dikunjungi…

Pemandangan pantai Menyer dari atas bukit sebelah barat. Air masih pasang karena hari masih pagi. Biasanya air surut sekitar pukul 14.00-16.00, atau malah pada malam hari sampai dini hari. Waktu yang tepat untuk mencari keong laut.

Di atas miringnya lereng di atas tebing pantai Menyer. Harus ekstra hati-hati, apalagi saat musim hujan. Licin.

Pemandangan tebing di sebelah barat pantai. Di bawahnya, ombak besar sudah menanti.

Semacam stalagtit yang terbentuk di tebing pantai Menyer. Saat musim hujan, air masih menetes dari ujungnya.

Pantai Menyer di pagi hari. Memang tak sepenuhnya pasir putih, masih ada bongkahan batu karang yang cukup besar untuk berlindung dari deburan dan percikan ombak yang kadang besar.

Pantai Menyer dengan pasir putihnya, memanjang dari timur ke barat. Pemandangan dari dalam lorong gua kecil di jalan setapak di bawah lereng tebing.

2 thoughts on “Pantai Menyer, just like a private beach

  1. Pingback: Eksotisme Pasir Putih Gunungkidul | Denmas Brindhil – Situsé

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s