Tour de Sragentina (cerita #2), Iseng ke Salatiga


20120324-25

Di hari sebelumnya, Sabtu 24 Maret 2012, dari Jogja, melewati kota Solo, kemudian belok arah ke utara melewati jalan raya Solo-Purwodadi, sampai ke Sumberlawang, total menempuh jarak 91 km. Riciannya yaitu Jogja-Klaten 23,6 km; Klaten-Solo 33,2 km; Solo-Sumberlawang 34,2 km.

Ketika melewati Gemolong, di dekat stasiunnya, aku melihat ada papan penunjuk arah, jika belok ke barat akan menuju Salatiga dan Rembang. Aku hanya penasaran saja dengan jalanan itu, juga karena aku belum pernah ke Salatiga (dengan sepeda) meskipun dulu waktu kecil pernah juga ke Salatiga, karena ada saudara di sana.

Hari Sabtu sore, aku sudah bilang ke Goes Moakh Danang, kalau aku keesokan harinya pulang ke Jogja akan lewat Salatiga. Dia yang punya peta mudik se-Jawa, jadi aku sempat pinjam dan melihat-lihat petanya. Aku juga bilang ke Mas Andi, yang dianggap sebagai ketua rombongan, untuk besoknya pulang ke Jogja lewat Salatiga, dan pisah dengan rombongan besar.

Awalnya hanya niatanku saja, tapi nyatanya Sabtu malam itu ada Mas Aryo yang bertanya padaku, dan tertarik untuk ikut lewat Salatiga. Ada juga Mas Bagus dan adiknya juga yang ingin ikut lewat Salatiga. Tak diduga tak dinyana, ternyata Kharisma juga ingin ikut. AKhirnya, yang pulang ke Jogja lewat Salatiga ada 5 orang.

Hari Minggu pagi, 25 Maret 2012, setelah jam subuh, hampir 17 orang yang ada di situ sudah bangun semua dan sudah sebagian berkemas-kemas barangnya. Tak beberapa lama, ibu mertua Mas Tebe menyediakan roti tawar dan minuman the atau kopi sebagai pengganjal perut di pagi itu. Ternyata ada juga mi rebus yang dimasakkan juga oleh ibu mertuanya Mas Tebe. Hanya beberapa orang saja yang tak kebagian mi rebus itu, karena kebanyakan lupa dengan jatah orang lain. Hahaa.

Pukul 06.00, sepeda-sepeda sudah dipersiapkan kembali menghadapi perjalanan hari itu. Barang-barang terkemas dalam tas pannier (tas boncengan) masing-masing, dan juga sudah terpasang di sepedanya. Sepeda ditata dengan rapi di depan rumah dan kemudian diadakan sesi foto bersama.

Di depan rumah mertuanya Mas Haryo Tebe.

Solo 31 km, Purwodadi 33 km.

Sekitar pukul 06.30, rombongan mulai berangkat. 2 orang yang memang berencana untuk touring ke Pati dan Semarang, Kartika Yoga dan Goes Moakh Danang, berangkat lebih dulu menuju arah Purwodadi. Aku dan 4 orang temanku yang berencana ke Salatiga masih ikut rombongan besar sampai Gemolong.

30 menit dari Sumberlawang, aku, Mas Aryo, Kharisma, Mas Bagus dan adiknya pisah dengan rombongan besar di Gemolong, menuju arah barat.Rombongan besar menuju arah Solo kota untuk ikut sebentar di event Car-Free Day (CFD) Solo. Check point pertama di jalur menuju Salatiga itu adalah sampai terlebih dulu di Karanggede untuk sarapan.

10 km awal dari Gemolong jalanan nyatanya lebih halus daripada jalan raya Solo-Purwodadi yang di pinggirnya penuh gelombang. Tapi setelah 10 km itu, ternyata jalannya menjadi lebih sempit dan banyak lubangnya. Jalanan yang parah karena banyak lubang ada di antara Andong sampai Klego, sejauh 4 km. Banyaknya lubang di jalanan diperparah dengan kontur jalan yang mulai menanjak. Harus lebih hati-hati untuk memilih kiri dan kanan, dan juga mengatur ritme kayuhan pedal.

Pukul 10.00, kami berlima sampai juga di Karanggede. Tujuan utama adalah sarapan terlebih dulu. Atas keinginan Mas Aryo, kami pun mampir di sebuah warung sate kambing, Warung Sate Pak Tino namanya. Letaknya di sebelah timur perempatan Karanggede, jika ke barat ke arah Salatiga, ke selatan ke arah Boyolali, ke utara ke arah Purwodadi.

Sampai juga di depan warung sate Pak Tino,timurperempatan Karanggede.

Menu sate kambingnya..

Sekitar satu jam kami menikmati enaknya sate dan tongseng kambing di warung itu. Setelah makanan cukup diposisikan di perut, kami pun meneruskan perjalanan ke arah Salatiga, dari perempatan Karanggede ke arah barat. Awalnya kami disuguhi pemandangan yang menarik, sawah menghijau di kanan kiri jalan, dan juga jalanan yang menurun. Ternyata hanya sekitar 1 km saja kenikmatan itu, dan setelahnya kami dihadapkan tanjakan yang tak henti-hentinya. Tanjakan pertama ada di perbatasan wilayah kabupaten Boyolali dengan kabupetan Semarang. Kami masuk wilayah kecamatan Suruh, kabupaten Semarang.

Masuk wilayah kecamatan Suruh, kabupaten Semarang.

Sempat kami mampir sebentar di warung dawet untuk melepas dahaga. Cuaca yang semakin mendung dan gelap terbukti dengan hujan yang turun saat kami melanjutkan melahap tanjakan menuju pasar Suruh. Setelah sempat berhenti sebentar untuk salat dzuhur dan memakai jas hujan, setelah itu kami mulai kehilanagn jejak Kharisma yang sudah ada di depan. Sekitar 2 km sebelum pasar Suruh, ada tanjakan yang cukup terjal dan panjang. Mas Aryo sempat KO di tanjakan itu dan kemudian menuntun sepedanya.

Setelah pasar Suruh, jalanan menuju Salatiga masih menanjak, tapi tidak separah sebelumnya, juga karena jalannya yang sudah lebih halus dan lebar. Saat itu sudah sekitar jam 14.00, ketika kami mulai memasuki wilayah kota Salatiga. Untungnya, saat itu hujan sudah mulai reda dan matahari kembali menampakkan wujudnya.

Akhirnya sampai juga..

Hampir pukul 14.30, kami sampai di pertigaan terminal bus Tingkir. Kami pun menuju arah utara untuk ke kota Salatiga. Dari Tingkir ke kota Salatiga ternyata jalannya menurun. Itu artinya bahwa kami harus bersusah payah melahap tanjakan itu saat balik nanti. 4 km dari terminal Tingkir, kami sampai di alun-alun kota Salatiga. Sampai di sana, sembari istirahat, kami berfoto-foto sebentar, dan kemudian mencari warung untuk kembali mengganjal perut yang sudah mulai berisik.

Pose sebentar di lapangan Pancasila,Salatiga.

Di dekat masjid agung Salatiga, kami jajan di sebuah warung. Aku memesan batagor, Mas ARyo memesan kupat tahu, Mas Bagus dan adiknya memesan gado-gado. Mas Bagus dan adiknya kemudian ke masjid untuk salat asar.

Pukul 16.00 kurang beberapa menit, kami pun melanjutkan kayuhan pedal kembali ke arah sebelumnya, terminal Tingkir, dan terus menuju ke selatan, ke Boyolali. Ternyata tidak seperti yang kubayangkan sebelumnya. Aku kira dari Salatiga sampai ke Solo lebih banyak jalanan yang turun. Dari Salatiga sampai ke perbatasan Salatiga-Boyolali ternya harus melalui tanjakan yang cukup panjang, sekitar 15 km, dengan dilewati bus dan truk antar kota yang mesinnya menderu-deru.

Keluar dari kota Salatiga harus melalui tanjakan ini dulu.

15 km tanjakan itu kami lewati sekitar 1 jam. Dan kemudian dari Ampel (perbatasan Semarang-Boyolali) menuju kota Boyolali jalannya menurun semua. Asyik juga melewati turunan dengan beban di boncengan belakang. Sempat beberapa kali aku bisa lewat kecepatan 60 km/jam!! Cukup cepat dengan menggunakan sepeda. Mas Aryo yang baru kali ini touring dengan membawa beban masih terlihat agak bingung melahap turunan dengan kecepatan yang mengasyikan.Hehee.

Menjelang maghrib, kami pun sampai kota Boyolali. Aku ingat kalau ada jalan tembus menuju Klaten melewati Jatinom. Jadi kemi sempat beberapa kali berhenti dan bertanya ke mana arah menuju Jatinom. Pas maghrib, kami berhenti sejenak, istirahat dan salat maghrib di entah dareha mana, tapi sudah jalan alternatif menuju Jatinom.

Selepas itu, perjalanan di dalam gelap dengan menggunakan bantaun hanya senter sepeda yang lampunya tak terlalu terang dan cukup kuat untuk menerangi jalanan di depan. Ada ja;an yang panjangnya sekitar 500 meter penuh lubang, jadi kami harus jalan pelan-pelan dan memilih-milih jalan.

Dari Boyolali menuju Jatinom, hampir semuan jalannya berupa turunan. Kami tak terlalu berani untuk berjalan dengan agak cepat karena kondisi sudah gelap. Sekitar pukul 18.30, kami sampai pasar Jatinom. Setelah sepakat, akhirnya kami memutuskan untuk berhenti dan istirahat setelah sampai Klaten kota. Dari Jatinom, kembali melewati jalanan yang gelap menuju Klaten, kebanyakan juga turunan landai.

Pukul 19.30 akhirnya kami sampai di alun-alun Klaten. Aku dan Mas Aryo berhenti di sebuah angkringan untuk membeli minuman, jahe panas dan coffemix panas. Mas Bagus dan adiknya bergantian ke masjid agung Klaten.

Jam sudah menunjukkan pukul 20.30, dan kemipun bergegas pulang menuju Jogja. Menjelang home sweet home. Aku yang ada di depan berjalan konstan dengan kecepatan sekitar 20-25 km/jam (karena ada speedometer di stang sepedaku). Rasanya tak lama ketika kami kemudian sampai di perbatasan Prambanan. Setelah masuk wilayah Jogja, rasanya sudah plong. Benar-benar lega. Akhirnya sampai rumah juga, meskipun bukan arti rumah yang sebenarnya. Kecepatan kayuhan pun meningkat. Mas Bagus berganti memimpin di depan. Ketika kulihat speedometer, ternyata kecepatannya jadi antara 25-30 km/jam lebih sedikit. Tapi ternyata kami bisa kompak dalam satu rombongan hingga akhirnya kami perpisah di perempatan Gramedia. Mas Bagus dan adiknya ke selatan, Mas Aryo lurus ke barat, dan aku belok ke utara. Saat itu sekitar pukul 22.00, 135 km hari itu…

4 thoughts on “Tour de Sragentina (cerita #2), Iseng ke Salatiga

  1. Foto yang bagus untuk salatiga, jadi rindu ingin ke salatiga lagi ( ku bahagia merasakannya, andaikan ku bisa di sini slamanya, tuk menikmatinya )

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s