Minggu, 01 April 2012


Aku sengaja bangun sekitar pukul 04.00, sebelum waktu subuh, mumpung siaran sepakbola di televisi, Barcelona vs Athletic Bilbao. Sembari menonton bola di teve, juga menyeruput kopi yang masih hangat.

Pukul 05.00 matahari belum juga menampakkan wujudnya, pagi masih berselimutkan mendung tebal. Tak beberapa lama, rintik hujan pun terdengar berjatuhan di atap rumah yang bukan tersusun atas genteng. Ah, batal juga sepedaan pagi ini, pikirku.

Siaran bola di teve sudah selesai setelah pukul 05.00, berganti dengan alunan lagu-lagu slowrock Indonesia lawas dari telepon genggam ibuku, semacam Voodoo – Selamanya, Power Metal – Bidadari, atau almarhum Andy Liani – Antara Kita.

Ketika jam dinding sudah menunjukkan hampir pukul 6 pagi, kucoba keluar rumah. Oh, ternyata gerimis deras sudah berganti dengan gerimis ringan tipis yang turun jarang-jarang. Kulepas kunci yang terikat di sepeda, dan setelah memakai bike pants, kugenjot pedal dengan tujuan Pakem.

Melewati jalanan aspal yang masih basah oleh hujan, sejenak aku berhenti menikmati dinginnya hawa pagi itu. Hamparan sawah belum terlihat cerah karena mendung masih juga menggelayut. Sedikit ke arah barat, menjauhi Pasar Sidorejo, di atas jembatan kali Kuning, tidak tampak bapak-bapak yang biasanya menambang pasir di tepi sungai.

Sepanjang jalan menuju Pakem, dari Sidorejo, ke arah Babadan, kemudian ke utara ke arah pom bensin Sukoharjo, lalu tembus ke Jalan Kaliurang km 12, jalanan masih basah oleh hujan yang turun di pagi harinya. Sampai di Jalan Kaliurang, semakin banyak pesepeda yang juga naik ke arah Pakem atau malah langsung ke Kaliurang, namun ada juga yang sudah turun.

Sekitar pukul 7, aku sampai di Warung Ijo Pakem. Tidak seperti biasanya, Pakem kali ini lebih sepi. Meskipun ada banyak sepeda, namun sepeda-sepeda itu tak memacetkan jalan di depan Warung Ijo. Pesepeda juga tak banyak duduk-duduk sampai ke barat, agak jauh dari Warung Ijo. Satu hal yang pasti, hujan pagi ini sedikit membikin malas untuk keluar, lebih enak melanjutkan mimpi di atas tempat tidur.

Aku hanya mengambil segelas teh, tanpa mengambil jajan pasar yang beraneka rupa. Aku duduk di dekat sepedaku, dan kemudian seorang teman datang menghampiri dan duduk pula di sebelahku. Kami ngobrol beberapa saat, sampai jam tangannya menunjuk angka 07.40. Dengan pikiran yang masih mengira-ngira apakah di Jl. Kaliurang km bawah hujan atau tidak, kami berdua pun turun dari Pakem.

Temanku turun melewati jalan Kaliurang, sedang aku memilih lewat timur. Melewati terminal Pakem, aku pun lewat jalan yang menuju pasar Jangkang, dekat kecamatan Ngemplak. Dengan kayuhan yang asyik karena jalan yang berupa turunan, tak sampai 20 menit aku sampai Pasar Jangkang. Langsung melanjutkan ke selatan, sesaat terpikir olehku, asyik juga sekali-kali lewat Monmen Plataran.

Monumen Plataran, begitu orang desa sekitar menyebutnya. Aslinya, kompleks itu bernama Monumen Perjuangan Taruna. Aku kurang tahu bagaimana sejarah yang terdapat di tempat itu. Aku hanya berhenti sejenak, menikmati suasana. Sudah lama aku tidak mampir di tempat tersebut.

Sampai sekitar pukul 9 pagi, matahari masih belum menampakkan wujudnya secara utuh, masih tertutup oleh awan mendung yang tidak terlalu tebal. Setelah beberapa saat santai di Monumen Plataran, aku pun pulang.

Di dekat balai desa Selomartani, aku melihat ada pal penunjuk jarak di pinggir jalan yang tampak tidak terawat. Ternyata Jogja masih 18 km dari tempat itu…

2 thoughts on “Minggu, 01 April 2012

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s