Ternyata Kopeng Sudah Masuk Wilayah Semarang


20120226

Awal tahun 2010, kalau tidak salah bulan Februari, aku pernah diajak ke Ngablak, kabupaten Magelang yang mepet kaki gunung Merbabu, dekat gunung Telomoyo. Saat itu berangkatnya lewat dekat termional bus Magelang kemudian naik ke arah Tegalrejo dan Pakis.

Pakis juga merupakan salah satu kecamatan di kaki gunung Merbabu. Bagi yang akan mendaki Merbabu, jika naik kendaraan umum dari Magelang biasanya turun di tempat ini, lalu kemudian jalan kaki atau menyewa pick-up untuk melanjutkan ke basecamp pendakian Merbabu yang masih sekitar 3 km dari jalan raya.

Dari Pakis, jika kita berbelok ke timur nanti akan sampai ke Gardu Pandang Ketep, dan jika terus mengikuti jalan raya ke arah barat nanti akan sampai ke Ngablak dan Kopeng.

Minggu, 26 Februari 2012, rombongan Pakem berangkat ke Kopeng, kali ini rencananya naik lewat Grabag (Secang ke utara sedikit) dan nanti pulangnya lewat Pakis kemudian Magelang kota. Total personel yang ikut berangkat ada 22 orang. Seperti biasa, jam 05.30 kami janjian kumpul, dan jam 06.00 lewat sedikit sudah memulai mengayuh pedal.

Meskipun dianggap pelan, tapi ternyata kecepatan rata-rata selama di Jalan Magelang antara 20-25 km/jam. Sampai di Palbapang dan kemduain ke arah Magelang kota, kami terbagi menjadi beberapa rombongan, dan kecepatan pun sedikit bertambah karena jalan yang lebar dan aspal yang mulus. Begitu juga ketika sampai Magelang kota, ada yang memilih jalan dengan melawan arus kendaraan bermotor, ada juga yang tertib mengikuti aturan lalu lintas dengan lewat jalan memutar/searah. Aku bareng Pak Eko dan 2 temannya, tak dirasa, saat lewat jalan searah itu, kecepatan sepeda bisa sampai 35 km/jam. Benar-benar agak ngebut waktu itu!

Lepas dari wilayah kota Magelang, kami sarapan di sebuah warung nasi rames di pinggir jalan raya. Nama warung itu hampir sama dengan di Pakem, tempat biasanya pesepeda kumpul di Minggu Pagi, namanya Warung Ijo 2. Entah apa maksudnya angka ‘2’ itu, entah cabang dari Warung Ijo yang ada di Pakem atau yang lain aku tidak tahu.

Pukul 10.00 perjalanan kembali dilanjutkan. 4 orang dari kami kembali ke Jogja karena ada acara lain, sehingga yang melanjutkan ke Kopeng ada 18 orang. Pertigaan Secang sedikit naik, melewati tanjakan yang cukup lumayan pelan-pelan, kemudian belok ke kanan ke arah Grabag. Jalannya menjadi lebih sempit tapi aspalnya tetap halus, tanjakannya tetap ada namun landai. 7,7 km kemudian, kami sampai di Pasar Grabag. Sembari menunggu rombongan yang masih ada di belakang, rombongan yang di depan istirahat sejenak.

Dari Grabag, perjalanan berlanjut ke air terjun Sekar Langit, yang berjarak 5,2 km dari Grabag. Jalannya mulai menyempit dan tanjakannya pun lebih terjal. Pelan-pelan pedal dikayuh, asal bisa sampi tempat yang dituju. Sekitar 30 menit kemudian, kami sampai di kompleks air terjun Sekar Langit. Awalnya hanya untuk istirahat sebentar, tapi kemudian hujan dan memaksa kami untuk berteduh dan menunggu sedikit reda.

Satu jam lebih hujan tak reda-reda. Sesaat ada sedikit gerimis, kami pun bergegas melanjutkan perjalanan. Tak sampai 1 km dari Sekar Langit, hujan ternyata turun lagi, dan memaksa kami untuk memakai jas hujan sembari terus mengayuh sepeda.

Jalanan berkelok dan menanjak, ditambah hujan yang kadang reda dan kadang deras, namun sebenarnya menyimpan keindahan di kanan-kiri jalan, tetumbuhan hijau dan pemandangan pegunungan kaki Merbabu. Ah, seandainya saat itu cuaca cerah..

Penunjuk waktu di speedometer sepedaku menunjukkan pukul 14.00. Tak terasa sudah 8 jam semenjak start, dan tak terasa juga ternyata sudah sangat dekat dengan Kopeng. Sekitar waktu itu, kami sudah sampai wilayah Kopeng, meskipun tidak berada di tempat wisatanya. Sampai di sebuah warung, warung Sederhana namanya, kami melepas lelah dan juga mengisi kembali perut yang sudah beberapa lama kosong, habis di tanjakan. Beberapa dari kami juga iseng pergi ke objek wisatanya Kopeng, termasuk aku.

Ketika kuperhatikan, motor dan mobil yang lalu lalang di sekitar Kopeng ber-platnomor H. Kalau tidak salah, H adalah plat nomor wilayah Semarang. Dan memang tidak salah. Sampai ke Salatiga, plat nomornya pun masih H. Ooohh, itu artinya Kopeng sudah masuk wilayah Salatiga.

Tak jauh dari Kopeng, ke arah Magelang, ada pasar Ngablak. Jaraknya sekitar 2 km dari Kopeng. Tapi ternyata Ngablak sudah masuk wilayah kabupaten Magelang.

Dari pasar Ngablak, masih berlanjut ke arah Magelang, jalanan berkelok sedikit naik dan lebih banyak turun, sampai juga ke Pakis. Di Pakis, kita bisa memilih untuk belok ke arah Ketep atau lurus dan langsung turun ke Magelang. Pak Rudi Mino dan Mas Is, berdua mereka belok ke arah Ketep, sedangkan yang lain turun ke arah Magelang.

Entah persisnya di mana, tapi bisa dapet rekor kecepatan baru berdasar speedometer yang ada di sepedaku, 71,2 km/jam!!! Itu pun hanya sesaat, karena jalan yang licin karena basah setelah hujan dan ada kendaraan lain juga.

Sekitar 20 km kami turun dari Pakis sampai ke Magelang kota, tepatnya di sebelah utara Terminal Bus Magelang. Badan menggigil karena sepanjang itu hujan dan gerimis saling bergantian. Hujan sudah reda saat sampai kota Magelang.

16 orang sudah berkumpul jadi satu rombongan lagi di pertokoan yang belum jadi di utara Terminal Bus Magelang. Ada sedikit kejadian tak terduga saat Mbah Dar jatuh dari sepedanya karena lubang di pinggir jalan yang tergenang air hujan. Sedikit sempoyongan dan lecet, akhirnya beliau pun sanggup kembali di atas sadel dan melanjutkan perjalanan pulang.

Tetap bersama dalam satu rombongan besar, kami masuk Jogja sekitar pukul 18.30. Pak Pep berpisah di Tempel, sedangkan Pak Giman, Pak Topo Wagimin, Mas Pardi dan seorang lagi (aku kurang tahu namanya) belok ke timur ke arah jalan Monjali di Denggung. Sisanya, terus ke selatan hingga saling berpisah di perempatan Jombor.

Hujan rintik-rintik pun kembali turun…

Tak pernah bosan lewat jembatan ini.

Pak Pepi, Pak Lucito, Mas Seno & Mbah Dar.

Di Sekar Langit.

800 meter sebelum gerbang wisata Kopeng, turunan!!

Mas Is & Pak Bambang Celeban.

Malas masuk kawasan wisata Kopeng, karena harus bayar. Jadi ya, di bawah papan petunjuk arah saja.

What a beautiful view!! Pemandangan Gunung Merbabu, menjelang turun ke Pakis.

2 thoughts on “Ternyata Kopeng Sudah Masuk Wilayah Semarang

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s