Sura di Gunung Kemukus


20111127

Tahun baru Hijriyah biasa disebut dengan 1 Muharram atau 1 Sura oleh orang Jawa. Banyak hal yang dilakukan untuk memperingatinya. Di masjid-masjid sering diadakan pengajian, di sekitar kraton ada orang-orang yang tapa bisu dengan berkeliling beteng kraton, dan masih banyak yang lainnya.

Dari obrolan Rabu atau Jumat pagi di Pakem, ada rencana untuk bersepeda sekaligus iseng-iseng memperingati 1 Sura. Pada akhirnya, tujuannya adalah ke Kemukus, Sragen.

Ini rincian jaraknya..
Jarak tempuh total dari Jogja sampai Jogja lagi : 182,9 km
Rumah Sagan – Pertigaan Ringroad Maguwo : 7,1 km
Pertigaan Ringroad Maguwo – Klaten (alun-alun) : 22,5 km
Klaten – Kartasura : 25,4 km
Kartasura – pertigaan Pasar Kalioso : 24 km
Pertigaan Pasar Kalioso – Gunung Kemukus : 15,5 km
Gunung Kemukus – Klaten (lewat beda jalan) : 58,6 km
Klaten – pertigaan Ringroad Maguwo : 22,6 km
Pertigaan Ringroad Maguwo – rumah Sagan : 7,2

Kalau diperhatikan, ada jarak yang sedikit berbeda, meskipun tempat dari dan ke-nya sama. Ya mungkin saja, karena selama perjalanan ada beberapa kali aku sedikit berkeliling, misal pas nyari warung atau nyari tempat yang agak tersembunyi buat pipis.

Kembali lagi ke cerita awal. Seperti biasa, pagi hari sekitar jam 05.30 kami kumpul di pertigaan Ringroad Maguwo. Sekitar jam 6 pagi kami sudah mulai start ke timur menelusuri jalan raya Jogja-Solo. Ada 15 orang berpartisipasi dalam acara sepedaan ini, aku, Mas Seno, Mbah Dar dan temannya, Pak Yanto, Mas Is, Mas Budi, Pak Eko, Pak Ir, Pak Samiyo, Pak Rudi, Pak Supri, Pak Giman, Pak Pep dan Mas Idjo. Tapi kemudian Mas Is dan Pak Yanto Cuma sampai timur Prambanan dan kembali ke Jogja karena ada acara.

Sekitar jam 08.30-09.00 kami sudah sampai di Kartasura sdan sarapan soto, menu yang biasanya kami pilih untuk sarapan. Sebenarnya malah tak sengaja, Mas Seno melihat ada warung soto yang tampak ramai. Ya langsung saja, kami ke warung itu.

Sebenarnya, dari Kartasura, kami bisa saja langsung saja ke arah Gemolong, dengan berbelok ke arah timur dari kompleks AAU Adi Sumarmo. Tapi kata Pak Giman, beliau sekalian ingin mampir di tempat saudaranya di Nogosari, Boyolali. Jadi dari bandara, kami lewat sebelah baratnya dan terus menuju ke utara hingga sampai Nogosari.

Dari Kartasura sampai ke Nogosari, kami melewati beberapa wilayah kabupaten. Kartasura kalau tidak salah masuk wilayah Sukoharjo. Kamudian setelah melewati bandara, kami sedikit melewati wilayah Karanganyar. Lalu di Nogosari, wilayah itu sudah masuk kabupaten Boyolali.

Di rumah saudaranya Pak Giman, ternyata sedang panen rambutan. Dan tentu saja, pesta rambutan!!! Pengennya hanya sebentar saja, dan kemudian meneruskan perjalanan, eh malah sudah dimasakkna oleh budhenya Pak Giman. Ya sudah, demi melegakan hati yang sudah membuat masakan dan sekaligus makan siang gratis (meskipun sebenarnya belum lapar), kami makan siang lebih dulu.

Selepas duhur, akhirnya kami melanjutkan ke Kemukus, yang masuk wilayah Sragen.

Kemukus terletak sekitar 10 km di utara Gemolong, Sragen barat. Dari jalan raya Solo-Purwodadi, obyek wisata itu berjarak 1,5 km masuk ke barat. Setelah melewati semacam danau atau waduk yang katanya adalah aliran dari waduk Kedung Ombo, kami pun sampai di depan pintu gerbangnya.

‘Obyek Wisata Gunung Kemukus, Makam Pangeran Samudro’, begitu tulisan yang tertulis di samping pintu gerbang, dan aku pun berfoto di depannya. Ya memang, Gunung Kemukus adalah obyek wisata spiritual, atau kadang orang juga menyebut sering digunakan untuk ritual. Ritual semacam apa yang dilakukan di sana, aku kurang begitu paham.

Pemandangan yang berada di sekitar Gunung Kemukus lumayan menyegarkan. Dari kejauhan, kita bisa melihat danau kecil yang sebelumnya kita lewati saat akan menuju obyek wisata tersebut. Kalau pas musim kemarau, dengan debit air yang mengecil, kita bisa langsung berkendara melewati jembatan beton yang menghubungkan sisi timur dan barat danau itu. Namun ketika musim penghujan, katanya air di danau itu membeludak dan menyebabkan jembatannya tenggelam. Untuk dapat menyeberanginya, kita bisa menggunakan perahu motor dengan tarif sewa penyeberangan tertentu.

Hanya sekitar 1,5 jam kami ber-13 menikmati panasnya cuaca dan pemandangan ditemani segelas the panas dan beberapa ikat rambutan yang kami petik ketika mampir di rumah saudaranya Pak Giman. Sekitar jam 14.30 kami pun kembali ke Jogja, dengan sedikit kayuhan yang lemas karena lama terpapar panasnya matahari.

Cerita perjalanan berikutnya pun menanti…..

Di seberang pasar Kartasura, pas lagi istirahat sembari nunggu beberapa orang yang ketinggalan.

Suasana warung soto di utara pertigaan Kartasura, jalan menuju bandara.

Di perbatasan Sukoharjo-Karanganyar, sebelum bandara.

Di perbatasan Karanganyar-Boyolali, setelah lewat bandara Adi Sumarmo.

Pak Pep (deoan) dan Pak Rudi (belakang) ketika ‘menikmati’ tanjakan Nogosari.

Pesta rambutan di tempat saudaranya Pak Giman.

Duo sepeda jadul, punyaku (merah) dan punya Mas Seno (Master/biru).

Menunggu makan siang.

Menjelang masuk Gemolong, Sragen, di jalan raya Solo-Purwodadi.

Di tengah jembatan beton, menyeberang danau kecil menuju Gunung Kemukus.

Akhirnya sampai juga!

Mau ke Solo atau ke Purwodadi?! Pertigaan Pasar Kalioso.

Ketika perjalanan pulang, iseng-iseng dengan kamera pinjaman, Slow Speed Photography.

2 thoughts on “Sura di Gunung Kemukus

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s