Jogja – Gombong via Jalan Daendels (Indonesia Bersepeda 350.org) #1


20110921

Sudah sejak beberapa hari atau malah beberapa minggu sebelumnya aku sudah tahu tentang event Indonesia Bersepeda ini. Acara sepedaan yang dimulai dari Denpasar, Bali dan finish di kota Bandung. Aku pun sempat iseng bertanya kapan sampai di kota Jogja dan pengen gabung dan ikutan ke kota tujuan setelah dari Jogja.

Rabu 21 September, aku dan 3 orang yang lain, Kang Bayu, Kang Supri dan Mas Yoga, ikut gabung dengan para pesepeda Indonesia Bersepeda. Rombongan pesepeda Indonesia Bersepeda ada 8 orang, salah satunya berasal dari Jogja. Ada satu orang lagi yang ikut bersepeda, kurang tahu siapa, tapi katanya pembalap yang ikut menyeleksi orang-orang yang terpilih ikut dalam rombongan.

Pesepeda dari Jogja yang ikut gabung Indonesia Bersepeda 350.org. Aku, Mas Yoga, Oom Bayu dan Kang Supri.

Pagi hari di depan hotel di daerah Rejowinangun, Jogja.

Dari hotel tempat rombongan menginap, kami berangkat sekitar pukul 07.30. Dengan dikawal mobil polisi, kami melewati ring road timur dan menuju ke selatan. Lewat ring road selatan, kami berbelok ke selatan di Jalan Bantul. Mas Yoga hanya sampai Bantul kota dan tidak ikut meneruskan perjalanan. Setelah melewati Bantul kota kami berbelok ke barat menuju arah Srandakan-Brosot. Dari hotel sampai situ, kami masih bisa mengikuti ritme atau kecepatan dari rombongan pesepeda yang sebenarnya adalah memang atlet bersepeda, kebanyakan. Kecepatan rata-rata yaitu antara 30-35 km/jam. Aku pun tahu karena di sepedaku kupasang speedometer, jadi bisa tahu berapa kecepatannya dan berapa jarak yang sudah ditempuh.

Pesepeda berbaju merah dan ber-pannier adalah yang nyusul dari Semarang ke Jogja. Sedangkan di depannya adalah rombongan pesepeda Indonesia Bersepeda 350.org.

Sampai di Brosot, rombongan berbelok ke selatan untuk menuju Jalan Daendels, jalur lintas selatan. Mulai dari sini, jalanan menjadi lebih sepi daripada sebelumnya, sehingga bisa untuk berjalan lebih cepat. Dan benar saja. Rata-rata kecepatan pun naik jadi 35-40 km/jam. Sampai dekat pantai Trisik, aku masih bisa mengimbangi, tapi lama kelamaan ya capek juga. Hoshh hosshh..

Di dekat pantai Bugel, aku memutuskan untuk pelan-pelan saja. Kang Bayu masih santai saja ikut rombongan besar, sedangkan KangSupri tertinggal di belakang. Pelan-pelan saja tapi jalan terus, sampai juga di pantai Glagah, dan ternyata rombongan menunggu di sana. Aku pun mengambil snack yang sudah disiapkan oleh kru rombongan, demikian halnya Kang Bayu. Sembari menunggu Kang Supri bisa istirahat sebentar. Dengan kecepatan antara 30-40 km/jam, Jogja-pantai Glagah, Kulon Progo ditempuh dalam waktu sekitar 1,5 jam saja. Ekspress!!

Istirahat sudah cukup sekitar 30-40 menit, rombongan pun melanjutkan kayuhan ke arah barat. Dari dekat pantai Glagah ke barat jalanan begitu halusnya, tanpa adanya lubang-lubang atau benjolan yang terasa. Namun lama kelamaan, ketika sudah memasuki wilayah antara Purworejo dan Kebumen, jalanan yang ada menjadi parah, penuh lubang di sana-sini dan aspal yang kasar. Rombongan Indonesia Bersepeda yang sepedanya dari sponsor dan dengan fork suspensi bisa santai saja melewati jalan yang bergelombang itu. Kecepatannya pun tetap, mungkin antara 25-35 km/jam. Sedangkan aku dan Kang Bayu yang dengan sepeda sendiri dan fork rigid, benar-benar kepayahan, sehingga hanya jalan pelan-pelan saja, pokoknya sampai ke tujuannya.

Sekitar 40 km menjelang finish Gombong, rombongan makan siang di sebuah warung sate ambal, dan ternyata porsi untuk pesepeda amatir dari Jogja pun sudah disediakan. Aku dan Kang Bayu sampai lebih dulu, sedangkan Kang Supri sampai sekitar 10-15 menit kemudian. Kami makan siang dengan menu utama yaitu sate ambal, sate yang khas dari daerah Kebumen. Dan memang benar, karena Ambal adalah salah satu kecamatan yang ada di Kebumen.

Hampir 1 jam lebih sedikit kami makan sekaligus beristirahat di warung sate itu. Sekitar jam 12.30, kami bertiga, aku, Kang Supri dan Kang Bayu sepakat untuk meneruskan perjalanan lebih dulu. Mengapa begitu?! Karena tentu saja rombongan besar pasti akan segera menyusul dan mendahului kami yang hanya pehobi touring. Sekitar 15-20 km dari warung sate, rombongan besar sudah terlihat di belakang kami. Karena jalanan masih berupa jalan kecil yang tidak terlalu lebar dan kadang ada lubang di jalan, kecepatan pun jadi lebih lambat, sekitar 25 km/jam. Begitu sampai di jalan raya lintas selatan jawa (Kebumen-Gombong), rombongan besar langsung memacu kecepatan, sednagkan kami bertiga tetap santai-santai saja.

Warga setempat yang mengangkut barang bawaannya di boncengan sepedanya. Mungkin bobotnya lebih berat daripada barang bawaan yang bisa dibawa di pannier orang yang sedang touring jarak jauh.

Ketika sudah memasuki wilayah Gombong, kami hampir kebablasan. Untung saja aku melihat salah satu dari pesepeda rombongan besar, lalu kupanggil Kang Bayu dan Kang Supri, dan kami pun sampai juga di tujuan akhir hari itu, Gombong, di Hotel Grafika. Perjalanan berangkat dari hotel di Jogja sampai Gombong sejauh 135,6 km.

Di depan Hotel Grafika, Gombong.

3 thoughts on “Jogja – Gombong via Jalan Daendels (Indonesia Bersepeda 350.org) #1

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s