Pikatan Water Park, Temanggung


20110730

Hari Jumat, 29 Juli 2011, aku ke Pakem. Rutinitas setiap hari Rabu atau Jumat, nongkrong di Warung Ijo Pakem, kumpul dengan mas-mas dan bapak-bapak. Hari itu, disepakati bahwa esok Sabtu akan sepedaan terakhir sebelum mulai puasa, ke Pikatan, Temanggung selatan.

Hari Sabtu pagi jam 05.30 menjadi waktu berkumpulnya para pesepeda, mas-mas dan bapak-bapak yang biasa berkumpul di Warung Ijo, untuk bersiap berangkat ke Temanggung. Perempatan Monjali, tepatnya di selatan jalan, di depan sebuah bengkel mobil di sebelah barat perempatan, menjadi titik kumpul.

Sekitar 30 menit menunggu, sudah ada sekitar 20an orang yang berkumpul. Pukul 06.10, perjalanan ke Temanggung pun dimulai.

Jalur utama Jogja-Magelang menjadi rute yang dilewati rombongan. Dengan kecepatan antara 16-25 km/jam, perjalanan ke kota Magelang ditempuh dalam waktu sekitar 1 jam 40 menit. Itu pun sudah ditambah ‘bonus’ turunan menjelang jembatan Pabelan, jembatan Blondo (setelah pertigaan Palbapang dari arah Jogja) dan turunan setelah jembatan Blondo. Memasuki Mertoyudan hingga masuk ke kota Magelang, jalanan relatif menanjak tapi landai.

Sudah disepakati sebelumnya, bahwa di masjid agung Magelang menjadi tempat istirahat sambil menunggu rombongan yang mungkin tertinggal di belakang. Istirahat sejenak dengan duduk-duduk di teras masjid, kemudian dilanjutkan dengan sarapan di dekat tandon air besar di alun-alun Magelang. Ada 2 menu tersedia pagi itu, soto ayam atau gudeg. Aku kurang tahu berapa harga satu porsi gudeg, karena aku sarapan soto ayam, dengan harga yang terjangkau, Rp. 5000,-.

Dari alun-alun kota Magelang, perjalanan dilanjutkan menuju Bandongan, kecamatan yang terletak di sebelah barat laut kota Magelang, berjarak sekitar 8 km dari kota Magelang. Keluar dari kota Magelang, sebuah turunan yang cukup tajam menyambut, sampai melewati sebuah jembatan di atas sebuah sungai kecil yang melintasi kota Magelang, entah apa nama sungai itu. Di mana ada turunan, pasti aakan ada tanjakan, demikian pula sebaliknya. Selepas melewati jembatan, tanjakan yang lumayan panjang menghadang di depan mata. Mungkin kira-kira 2 km panjang jalan menanjak itu. Pelan namun pasti, tanjakan itu pun dapat terlewati.

Jalanan dari kota Magelang sampai Bandongan dominan dengan tanjakan. Jalan selebar sekitar 4-6 meter, namun dengan aspal yang cukup halus. Sepanjang perjalanan, di kanan kiri jalan dapat dijumpai areal persawahan, rumah-rumah penduduk, dan juga kebun penduduk yang masih tampak seperti hutan, karena saking lebatnya tumbuhan yang ada.

Setelah jauh melewati pasar Bandongan, para pesepeda pun sampai di sebuah pertigaan desa, jika ke kiri menuju Windusari, ke kanan ke arah Payaman (Pemandian Kali Bening). Windusari pun menjadi tujuan berikutnya untuk dapat sampai ke Pikatan.

Jarak antara Bandongan sampai Windusari sekitar 13-15 km. Mulai dari setelah pertigaan desa menuju Windusari itulah banyak pemandangan indah terhampar. Karena terletak di ketinggian, pemandangan hamparan sawah dan desa-desa yang terletak lebih rendah terlihat indah. Di sebelah kiri jalan terdiri dari perbukitan kecil yang merupakan kaki gunung Sumbing, sedangkan di kanan jalan berupa persawahan dan teraseringnya jauh menghampar. Mungkin pula kota Magelang tampak dari tempat itu. Jalanan aspal desa didominasi oleh tanjakan, meskipun sebenarnya jalannya memang naik-turun seperti roller coaster. Kami sempat berhenti di tengah perjalanan untuk memotret pemandangan dengan latar belakang gunung Sumbing yang terlihat dengan jelas karena cuaca saat itu sedang cerah.

Menjelang sampai Windusari, dengan latar belakang Gunung Sumbing.

Sekitar 5-7 km sebelum sampai Pikatan, jalanan menurun pun menjadi santapan empuk. Pesepeda yang menaiki sepeda balap pun meluncur lebih cepat karena ban yang digunakan lebih kecil. Sedangkan bagi yang ingin menikmati pemandangan yang ada, bisa sedikit berpelan-pelan sambil mengistirahatkan kaki yang sudah cukup lama mengayuh pedal.

Pikatan adalah sebuah obyek wisata air yang letaknya 3 km di sebelah selatan alun-alun kota Temanggung. Mengenai sejarahnya, aku kurang tahu. Mungkin dulunya adalah sebuah umbul atau sumber air alami. Kemudian dalam perkembangannya, dikelola oleh pemerintah setempat dan dimanfaatkan sebagai obyek wisata air. Pikatan kemudian dikenal dengan Pikatan Water Park, mengikuti obyek wisata air lain yang hampir mirip dengan water boom di ibukota atau beberapa tempat di Yogyakarta.

Gerbang masuk ke Pikatan Water Park.

Sekitar satu jam rombongan beristirahat di kompleks wisata Pikatan. Sekedar menikmati kopi atau the panas dan menyantap pecel. Setelah cukup waktu beristirahat, rombongan pun pulang ke Jogja. Dari Pikatan, rombongan menuju ke timur ke jalan raya Secang-Temanggung. Rute perjalanan pulang sudah jelas, yaitu melewati jalan raya Temanggung-Secang dan kemudian menuju ke Magelang dan Jogja. Karena dari Secang sampai ke Palbapang (Muntilan) dan Muntilan kota sampai ke Jogja didominasi oleh jalanan yang menurun, maka rombongan pun dapat melaju cepat namun santai.

Pukul 3 sore aku sudah sampai rumah. Total perjalanan hari itu, berangkat dari rumah dan sampai ke rumah lagi adalah 134,4 km. Apabila hanya perjalanan satu arah, mungkin ini sudah bisa sampai Semarang atau Sragen-Ngawi.

6 thoughts on “Pikatan Water Park, Temanggung

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s