Tanjakan Jurangjero, sekitar 1 km yang menyegarkan.


20110719
Sebenarnya, keliling kali ini dimulai pada hari Senin siang, 18 Juli 2011, saat secara tidak sengaja aku mengirim pesan pendek pada Pak Supri, iseng menanyakan hari Selasa besok ada rencana pengin gowes ke mana. Akhirnya dengan singkat disepakati untuk gowes ke Gunungkidul yang kemudian mencari tembusannya ke daerah Klaten.

Total perjalanan untuk hari ini adalah 123,7 km (menurut speedometer yang menempel di stang sepedaku), dengan rincian :
Rumah Sagan – Blok O selatan Janti : 6,7 km
Blok O selatan Janti – Nglipar : 33 km
Nglipar – Ngawen : 13,6 km
Ngawen – Klaten : 40,9 km
Klaten – Rumah Sagan : 29,5 km

Selasa pagi, 19 Juli, aku dan Pak Pri janjian untuk ketemu di perempatan Blok O, selatan fly-over Janti. Ternyata ada tambahan personil seorang lagi, yakni Kharisma. Dari janjian yang katanya pukul 6 pagi, akhirnya kami memulai perjalanan sekitar pukul 06.30.

Rute awal menuju Wonosari tentu saja sudah jelas dan pasti, lewat jalan Wonosari, yang kemudian menghadapi tanjakan pertama, Bukit Patuk. Kami sempat beristirahat sebentar sebelum tikungan tajam di bawah Bukit Patuk, karena Kharisma yang belum terbiasa ‘ditohok’ langsung dengan tanjakan. Dari Bukit Patuk, perjalanan pun dilanjutkan ke arah Sambipitu.

Sampai di pertigaan Sambipitu, kami mengambil arah kiri, ke timur, menuju Nglipar. Jalanan pada awalnya berupa turunan. Banyak turunan, hingga akhirnya ada pula jalanan yang mulai menanjak. Tanjakan yang paling panjang ada di sekitar 3-4 km sebelum sampai ke kota kecamatan Nglipar. Di sebelah timur kantor kecamatan Nglipar, kami sarapan soto di Warung Soto & Bakso Bu Wir. Aku cukup semangkok soto dan segelas es teh.

Sekitar pukul 09.30, setelah sarapan, kami teruskan perjalanan menuju Ngawen. Di pal batu di pinggir jalan menunjukkan jarak antara Nglipar-Ngawen 16 km. Tapi ternyata lebih dekat dari yang tertulis di pal batu itu, sekitar 13,6 km. Jalanan antara Nglipar sampai Ngawen dapat dikatakan halus, kalau tidak salah sudah aspalan hot mix. Tanjakan dan turunan yang ada menurutku cukup imbang. Sekitar 1 jam mengayuh pedal, tak terasa, akhirnya sampai juga di Ngawen, Kemudian kami pun sedikit berlama-lama di pertigaan depan kantor kecamatan Ngawen. Karena Pak Pri tidak lupa untuk membawa kamera digitalnya, maka kami pun berpotret ria sedikit agak lama di halaman kantor kecamatan itu, sembari ngeyup karena cuaca yang memang sedang terik-teriknya.

Di depan kantor kecamatan Ngawen, Gunungkidul.

Di pertigaan itu, jika ke barat maka akan kembali ke Nglipar, ke timur menuju arah Semin dan Sukoharjo, sedangkan ke utara menuju ke Cawas dan Klaten. Karena memang tujuannya mencari tembusan ke arah Klaten, maka kami pun menuju ke utara.

Dari pertigaan di depan kecamatan itu, sedikit di utaranya sudah memasuki desa Jurangjero. Di utara desa Jurangjero berbatasan dengan desa Tancep. Di Jurangjero sebelah utara yang hampir berbatasan dengan desa Tancep, ada tanjakan yang cukup ‘menyegarkan’, dengan panjang tanjakan sekitar 1 km. Tanjakan Jurangjero tidak sepanjang tanjakan Patuk atau tidak separah jalanan menuju Candi Ijo, Prambanan. Akhir tanjakan Jurangjero adalah puncak bukit yang merupakan batas wilayah daerah Gunungkidul dengan Klaten. Daerah puncak bukit itu termasuk desa Tancep, yang sudah bukan Jurangjero lagi.

Puncak tanjakan Jurangjero. Lurus ke depan sudah masuk Klaten.

Hal yang menyegarkan adalah kita dapat menikmati pemandangan kawasan pertanian di Klaten yang sedang menghijau dan mendinginkan diri dengan mengguyur tubuh dengan air dari sumur yang ada di pinggir jalan di dekat puncak bukit tersebut. Anehnya, meskipun letaknya termasuk di puncak bukit, air sumurnya tidak terlalu dalam, hanya sekitar 5-7 meter dari bibir sumur. Alhasil, menimba pun tak terlalu susah.

Sekitar hampir 1 jam kami beristirahat sambil memotret apa yang bisa dipotret di tempat itu. Kami pun sempat bercengkrama dan guyon dengan bapak-bapak yang sedang menambang batu untuk dijadikan pondasi bangunan rumah baru, sebagian ada pula yang dijual. Pak Pri pun sibuk dengan kameranya.

Ketika sayup-sayup adzan dzuhur terdengar, kami melanjutkan perjalanan. Jalanan menurun memasuki daerah Bayat, Klaten tampak mulus pada awalnya. Ternyata, jalan yang diaspal hanya sekitar 20-30 meter dari puncak bukit di mana kami beristirahat tadi. Sedangkan jalanan menurun sisanya adalah berupa semen cor, sehingga lebih kasar dan lebih bergelombang. Selain itu, jalannya memang benar-benar curam. Beberapa kali aku lebih memilih untuk turun dari sepeda, karena rem sepedaku yang tidak cukup mumpuni.

Dengan latar belakang areal persawahan yang sudah masuk daerah Klaten.

Dari kaki bukit, kami pun menuju utara, menuju Cawas. Di desa Karangasem, kami mampir di angkringan sebentar, sekedar sedikit mengganjal perut dan melepas dahaga. Kharisma yang memang kelaparan makan nasi kucing, sedangkan aku dan Pak Pri tidak makan. Pak Pri entah mengambil berapa gorengan, sedangkan aku cukup segelas es coffeemix.

Dari angkringan itu masih terus menuju utara hingga memasuki kota kecamatan Cawas. Ketika sampai di kota kecamatan Cawas, ternyata kami sempat sedikit berputar-putar. Kami memutari Cawas, ketika kemudian kami kembali ke jalan yang menuju Bayat. Merunut jalanan menuju Bayat, entah berapa jauhnya. Rasanya hanya sebentar saja, kami pun sudah sampai di kota kecamatan Bayat. Ketika sampai di pertigaan menuju Makam Ki Ageng Giring kalau tak salah, kami sempat berhenti. Menurutku, seharusnya lurus, maka tidak beberapa lama akan langsung sampai jalan raya Jogja-Solo di sebelah barat kota Klaten. Tapi Kharisma memilih untuk lewat jalan di dekat makam. Entah tembusnya sampai daerah mana. Setelah diikuti, kami sampai di kecamatan Trucuk, 4 km sebelah timur kota Klaten. Ya sudahlah. Karena memang ingin mencari jalan yang lebih jauh dan memutar, untuk memuaskan dengkul.

Tujuan berikutnya adalah ke kota Klaten. Di alun-alun Klaten, kami pun menikmati segarnya es dawet. Masing-masing dari kami minum 2 gelas. Segarr dan kenyang (atau kembung?)

Selepas kota Klaten, akhirnya menuju Jogja juga. Sampai di Jogja, persisnya di rumah Sagan sekitar pukul 18.15. Total 123,7 km.

2 thoughts on “Tanjakan Jurangjero, sekitar 1 km yang menyegarkan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s