Wediombo-Siung Daytrip, March 5th 2011


Ide ini muncul ketika teringat akan adanya hari raya umat Hindu, yaitu Nyepi, yang jatuh pada tanggal 5 Maret 2011. Kebetulan hari itu adalah hari Sabtu. Sebenarnya hari Sabtu adalah hari libur, karena tidak ada kuliah ataupun garapan lain. Namun karena bertepatan dengan hari raya, maka ada ide untuk mengisinya dengan hal yang tidak biasa dilakukan setiap hari.
Beberapa hari sebelumnya, sudah lupa hari apa, saya sempat smsan dengan Pak Pri (Supriyadi Plat Ab) tentang rencana untuk hari Sabtu tanggal 5 Maret itu. Ada dua pilihan, yaitu Jogja-Wonosari-Sukoharjo-Klaten-Jogja atau menikmati keindahan pantai di Gunungkidul. Setelah dipikir-pikir, akhirnya yang dipilih adalah yang ke pantai.
Jam dinding di rumah Sagan menunjukkan pukul 05.30. Saya pun sebelumnya sudah sarapan segelas kopi susu dan beberapa cuil roti bakar. Sepeda A-Pro, sepeda yang saya naiki setiap hari, saya keluarkan dari rumah. Setelah berpamitan dengan Paklik, saya pun mulai mengayuh sepeda ke perempatan Blok O, selatan Janti, tempat di mana saya dan Pak Pri janjian untuk ketemuan.
Tak sampai 20 menit, saya pun sudah sampai di perempatan Blok O. Pak Pri ternyata sudah sampai terlebih dulu. Langsung saja tanpa menunggu berlama-lama, kami mengayuh sepeda ke arah selatan menuju jalan Wonosari, jalan utama menuju Gunungkidul.
Eeeeee, ternyata ada Mbah Dar sedang menunggu di sudut perempatan. Setelah berbasa-basi beberapa saat, ternyata rombongan bapak-bapak yang biasa ketemu di Pakem ada rencana untuk touring ke Wonogiri. Akhirnya, saya dan Pak Pri memutuskan untuk berangkat bersama-sama dengan rombongan bapak-bapak itu.
Sekitar setengah jam menunggu, rombongan bapak-bapak sudah komplet dan siap untuk melaju. Beberapa orang yang saya kenal yaitu Pak Rudi, Pak Topo, Mbah Dar dan Pak Roto. Total orang ada 9 orang, termasuk saya dan Pak Pri.
Karena bareng rombongan bapak-bapak, genjotan pun menjadi cepat. Tanjakan naik ke Patuk dilewati begitu saja, meskipun mampir sebentar di warung dekat perempatan Patuk itu. Tidak sampai satu jam, kami pun sudah sampai daerah Sambipitu. Karena yang punya hajat untuk ke Wonogiri adalah Pak Roto, maka kami semua pun ditraktir oleh Pak Roto sarapan di warung makan Padang di Sambipitu. Setelah sarapan, perjalanan pun dilanjutkan menuju Wonosari.

Nasi padang di Sambipitu & teh panas.


Dari Sambipitu, tanjakan akan dilewati adalah hutan Bunder. Dan ketika melewati tanjakan itu, sepertinya sama saja rasanya ketika menanjak di Patuk : sepeda digenjot terus, tanpa ada satu orang pun yang turun dari sepeda dan menuntun sepedanya. Sampai di pertigaan Gading, jalanan 7 km menurun landai menuju kota Wonosari.
Saya kira sesampainya di Wonosari, kami akan beristirahat sebentar saja. Namun ternyata tidak. Rombongan terus mengayuh sepeda munuju Semanu. Saya dan Pak Pri pun ikut ke Semanu, karena tujuan kita yang pertama adalah pantai Wediombo. Wonosari-Semanu berjarak sekitar 10 km, dan jarak tersebut ditempuh kurang dari 30 menit.
Sampai di Semanu, rombongan bapak-bapak berjalan terus ke arah timur untuk menuju Wonogiri. Pak Pri dan saya memisahkan diri, belok ke arah selatan untuk menuju Wediombo. Sebentar mampir di salah satu kios di Pasar Semanu untuk membeli bekal minum dan sedikit makanan, kami berdua melanjutkan perjalanan ke arah selatan. Jarak antara Semanu sampai ke Wediombo yaitu sekitar 30 km. Sebelumnya, dulu pernah mencoba melewati jalan itu, tapi ketika itu naik motor, sehingga rasanya biasa saja dan cepat, sekitar 35-45 menit.

Kelihatan apik.


Di persimpangan jalan. Sedikit lagi Wediombo.


Hal yang berbeda dan sangat terasa beban di kaki dirasakan ketika melewati jalanan itu menaiki sepeda. Jalanan naik dan turun sama banyaknya. Entah berapa lama waktu yang dibutuhkan untuk sampai ke Wediombo. Ketika sampai di Wediombo, jam tangan sudah menunjukkan sekitar pukul 12 siang.
Pantai Wediombo adalah salah satu pantai di Gunungkidul yang memiliki pasir putih dan panjang garis pantai yang panjang. Di pantai ini, ketika cuaca cerah, kita dapat menikmati indahnya matahari tenggelam (sunset). Menurut peta, pantai ini berjarak sekitar 77 km dari kota Yogyakarta.
Karena hari itu merupakan hari Sabtu dan bertepatan dengan libur hari raya, pengunjung pantai Wediombo pun lumayan banyak. Kebanyakan dari pengunjung adalah rombongan anak-anak muda dan remaja, namun ada pula yang datang bersama keluarganya. Setelah beberapa jepretan kamera digital milik Pak Pri dan kamere telepon genggam saya, kami berdua pun beristirhata di salah satu warung. Tidak memesan makanan, kami hanya memesan coffeemix panas. Bekal yang sebelumnya sudah dibeli pun dimakan sebagai pengganjal perut dan tambahan tenaga di lanjutan perjalanan.

Wediombo.


Sekitar pukul setengah dua siang, kami melanjutkan perjalanan ke pantai Siung, sebelah barat dari pantai Wediombo. Di tengah jalan antara desa Jepitu-Wediombo, terdapat semacam pemandian yang terdiri dari beberapa bak besar berukuran luas 4×5 meter. Kami pun sempat mengambil beberapa foto di tempat itu.
Saya berniat untuk mengukur jarak antara pertigaan desa Jepitu sampai ke pertigaan desa Purwodadi, kecamatan Tepus, desa sebelum turun ke arah pantai Siung. Pada awalnya, saya kira jarak antara kedua desa jauh, ternyata hanya sekitar 4-5 km dan itu pun dapat kami tempuh dengan sepeda kurang dari 30 menit.

Jogja masih jauh.


Semacam pemandian.


Pantai Siung berjarak 4 km dari pertigaan desa Purwodadi, Tepus. Naik motor ataupun sepeda sama saja, karena jalannya menurun, sekitar 10-15 menit. Jika dibandingkan dengan pantai Wediombo, pantai Siung lebih sempit. Keduanya sama-sama berpasir putih, dengan hamparan natu karang yang tidak melukai kaki dan landai hingga sekitar 40 meter ke arah laut dari garis pasir pantai. Pantai Siung, selain dikenal sebagai salah satu kawasan wisata pantai di Gunungkidul, juga dikenal dengan kegiatan panjat tebingnya. Di perbukitan kapur di sebelah barat pantai, terdapat banyak jalur pemanjatan tebing yang biasanya digunakan oleh para pecinta alam sebagai tempat berlatih ataupun mengadakan kompetisi panjat tebing. Salah satu kegiatan besar yang pernah diadakan di kawasan pantai ini adalah lomba panjat tebing internasional pada tahun 2007.
Seperti halnya ketika di pantai Wediombo, kami sempatkan waktu untuk menata diri dan sepeda untuk diabadikan dalam beberapa buah foto. Baik Pak Pri dan saya sama-sama sibuk sendiri untuk memotret dan dipotret. Kadang saya menerapkan prinsip : “Orangnya tidak terlalu penting, yang lebih penting adalah sepedanya”. Jadi, sebuah foto sepeda dengan latar belakang objek yang dikunjungi pun sudah cukup sebagai kenang-kenangan.

Pitku di pantai Siung.


Karena sebelumnya belum makan siang, maka kami pun membeli mi ayam di salah satu warung di tempat itu. Satu porsi mi ayam dan segelas the hangat bagi masing-masing kami cukuplah sebagai bekal perut dan tenaga untuk pulang ke Jogja.
Pukul 4 sore, kami berdua pun melanjutkan perjalanan pulang ke Jogja. Di gubug di lahan milik Pak Marijan, saya sempat mampir sebentar bertemu Bogel (PPA Gunungkidul). Selain Bogel, saya pun ketemu teman sealiran di kampus, Ngatmo, yang bersama Bogel sedang ada kegiatan di tempat itu.
Ketika beranjak pulang dari pantai Siung, cuaca masih cerah. Maka kami putuskan untuk tidak menginap dan langsung pulang ke Jogja. Sebelumnya, kami sudah membuat kesepakatan, jika pulang dari Siung sudah gerimis atau malah hujan, maka kami akan menginap. Tidak perlu ada rasa khawatir untuk menginap di mana, karena saya sebelumnya KKN di dusun Luweng Ombo, salah satu dusun yang dekat dengan pantai Siung.

Ini di pantai Siung sebelah mana hayoo?!


Jarak yang sama, sekitar 30 km, kami tempuh dari pantai Siung menuju kota Wonosari. Pukul 18.00, kami pun sampai di kota Wonosari. Sekalian beristirahat sebentar, kami mampir di angkringan di dekat SPBU Siyono.
Sedang asyik menikmati sego kucing dan wedang jahe, tiba-tiba air dari langit turun. Gerimis, kemudian hujanlah ketika itu. Tetap saja, karena sudah terlanjur sampai di Wonosari, kami pun melanjutkan perjalanan pulang.
Sepanjang perjalanan dari Wonosari sampai ke kota Jogja, cuaca tidak pernah berubah, antara gerimis dan hujan. Karena mungkin sudah lelah dengan perjalanan berangkatnya, disertai dengan huja yang turun, perjalanan Wonosari-Yogyakarta ditempuh dalam waktu sekitar 4 jam. Dari Wonosari kami berangkat pulang sekitar maghrib, dan tiba di rumah masing-masing sekitar pukul 22.30.

Ooohh lelahnya hari itu..
Salam petualangan..

3 thoughts on “Wediombo-Siung Daytrip, March 5th 2011

    • Lha wong Sadranan kiy mung 5 km seka Baron kok. Kudune mangkat 3 jam, mulih Jogja 3,5-4 jam kelakon kui.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s