Sejenak di Museum Trinil


20140118-19

Sebenernya, cerita yang ini adalah trip pertama di tahun 2014 ini, bukan yang ke Klayar. Mbolang ke pantai Klayar itu adalah trip kedua. Lantas yang trip ketiga kapan? Baiklah, mungkin menanti mood untuk mengarang cerita berikutnya. Hehehe…

Pertengahan Januari kemarin beberapa kawan ada yang berangkat ke Bromo, dengan sepeda tentunya. Aku Cuma ingin ikut mbolangnya saja barang sehari semalam. Jadi di hari itu, ikutlah aku berangkat bersama dari Jogja dengan mereka.

Bicycle & Minaret
Menara Masjid Agung Ngawi di malam hari.

Mereka yang berangkat ke Bromo ada empat orang, yaitu Mas Aryo, Rozi, Fauzan Sandy dan Bimo.

— cerita dipotong, langsung menuju ke pokok pembicaraan —

Trinil
Parkiran dan tulisan di halaman Museum Trinil.

Kembali ke judul dari artikel kali ini, Museum Trinil. Tulisan ‘Museum Trinil, 3 km’ terlihat di papan penunjuk jalan, di tepi jalan raya Sragen-Ngawi. Sabtu malam sebelum sampai kota Ngawi, sekilas aku melihat tulisan itu. Aku pun hanya berbicara pada diriku sendiri, “Ah, besok pagi saat perjalanan balik, mampir sebentar.”

Setelah benar-benar ‘nggembel’ di Ngawi malam itu, pagi harinya teman-teman melanjutkan perjalanan ke timur, ke Mojokerto (pemberhentian berikutnya di hari itu). Sedangkan aku kembali ke Jogja saja.

Pagi menjelang siang itu angin berhembus cukup kencang, mengarah ke timur. Buatku yang kembali ke arah barat, angin dari arah depan memperlambat perjalananku pulang. Dan tentu saja hal itu berpengaruh juga pada fisik. Melawan angin membuat badan lebih cepat lelah.

Menjelang sepuluh kilometer dari kota Ngawi, kujumpai lagi papan penunjuk arah menuju Museum Trinil. Langsung saja aku berbelok di tikungan itu menuju Museum Trinil. Tiga kilometer bisa dibilang jauh, bisa dibilang dekat. Asyiknya, jalan menuju museum itu sudah aspal, meskipun di beberapa tempat ada yang bolong-bolong, sedangkan sebagian yang lain begitu mulus.

Karena memang belum pernah ke sana, tiga kilometer tak begitu terasa. Akhirnya sampai juga di Museum Trinil. Aku tak terlalu memerhatikan ada tempat membeli tiket masuk. Aku langsung saja menuju ke parkirannya.

Ternyata eh ternyata, saat itu museum sedang direnovasi. Benda-benda yang seharusnya dipajang di museum saat itu diletakkan di beberapa rumah penduduk sekitar museum. Sedangkan beberapa ruangan di museum ada yang belum selesai dicat dan di beberapa tempat masih terdapat tumpukan semen beberapa sak.

Beruntungnya aku saat itu, karena saat parkir sepeda di depan tulisan Museum Trinil, tiba-tiba seorang bapak yang hanya berpakaian kaos dalam dan bercelana panjang datang menghampiri. Ternya si bapak adalah salah satu pegawai museum. Dengan baik hatinya bapak itu memmersilakan aku masuk ke museum begitu saja. Tak lama setelah sedikit obrolan, bapak itu kembali disibukkan dengan benda-benda koleksi museum yang belum selesai dipindah-pindahkan. Sayang, aku lupa siapa nama bapak itu.

Yayayaya…..

Sealin di Trinil, museum yang berisi benda-benda koleksi manusia purba atau prasejarah juga ada di Sangiran (Jawa Tengah) dan Trowulan (Mojokerto, Jawa Timur). Meskipun Museum Trinil lebih dekat dengan Sangiran yang ada di Sragen, namun pengelolaan dan pengembangan museum Trinil masih di bawah kendali dinas purbakala Jawa Timur, yang tentu saja pusatnya ada di Surabaya. Hal ini sedikit menjadi curhatan si bapak pegawai museum tadi, karena menurutnya Museum Trinil seperti kurang diperhatikan, jika dibandingkan dengan yang ada di Trowulan. Padahal, menurutnya, kebudayaan atau peninggalan yang ada di Trinil usianya jauh lebih tua daripada yang ada di Trowulan. Pun yang menjadi curhatan si bapak lainnya adalah kurangnya promosi oleh pemerintah daerah Ngawi sendiri. Padahal sebenarnya hal tersebut bisa menjadi potensi wisata yang bisa menambah pendapatan daerah jika bisa dikelola dan dikembangkan dengan lebih baik lagi.

Sejenak singgah di Museum Trinil, meskipun tak terlalu blusukan di dalamnya, sedikit menambah semangat, entah semangat apa itu. Semangat untuk segera pulang ke Jogja tentu. Namun ada pula semangat untuk suatu saat nanti, akan singgah lagi di tempat itu. Semoga…..

Gusti Yang Maha Lucu


20140216

Tuhan memang segalanya. Ya, Tuhan memang Maha Segalanya. Tak cuma Maha Pengasih dan Maha Penyayang saja, seperti terucap pada lafal ‘basmalah’. Apa Dia juga Maha Yang jelek-jelek juga ya?

Suatu ketika, saat pulang dari ‘mbolang’ di Sragen. Saat itu perjalanan pulang ke Jogja, menjelang sampai Solo. Eeehh, tiba-tiba saja hujan turun dengan derasnya. Karena saking tiba-tibanya, aku langsung saja mencari tempat berteduh di pinggir jalan. Dan kemudian kubatin saja di dalam hati : “Gus, coba deh hujannya nanti saja, setelah sampai Solo, atau malah setelah sampai Prambanan. Biar rasanya lega dulu.” Kok ya Tuhan itu Maha Mendengar. Tak sampai 15 menit dari awal aku mulai berteduh, hujan pun lambat laun menjadi gerimis kecil-kecil. Dan aku pun kembali melaju.

Kejadian berikutnya, selisih dua minggu dari mbolang ke Sragen, sewaktu pulang dari Pantai Klayar, Pacitan. Saat itu sekitar setelah maghrib, dan sudah sampai Bayat, Klaten. Rasanya sudah lega sudah sampai situ, karena setelahnya rasanya sudah dekat rumah saja kalau sudah sampai daerah Wedi atau malah Prambanan. Saat lagi asyik-asyiknya mengayuh pedal, pelan-pelan karena memang sudah capek, eh tiba-tiba langsung bresss, hujan deras. Ya sama seperti sebelumnya, langsung saja aku mencari tempat berteduh. Aku pikir, “Ah, ini Gusti memang Maha Bercanda ini. Udah tahu umatnya kurang sedikit lagi sampai Prambanan, malah di-hujan-I, deras pula.” Meskipun aku hanya berkata dalam hati, lagi-lagi Tuhan alias Gusti Maha Segalanya. Hujan yang mak bres itu hanya sesaat saja. Setelah itu langsung reda, meskipun air agak deras mengalir di tepi jalan (saking derasnya hujan itu tadi). Yayayaya…..

Ya, memang ada suatu ketika, saat permintaan spontan langsung dipenuhi, dan ada pula sesuatu yang diharap-harapkan sejak lama tak juga terjadi sewaktu tiba saatnya. Ya, menurutku Gusti itu memang Maha Lucu.

Tapi, apakah Tuhan itu juga Maha Pemarah?

Di malam Valentine, gunung Kelud meletus hebat. Letusan itu membuat banyak daerah di Jawa terkena hujan abu. Apakah Tuhan marah? Apakah itu sebagai pengingat karena banyak umatnya banyak yang lupa? Silakan pertanyaan itu dijawab secara pribadi. Kalau saya yang jawab, meletusnya Kelud itu seperti saat kita kentut yang lebih keras daripada biasanya, mungkin juga sebagian dari kotoran juga ikut keluar. Bayangkan seperti ini. Sebenarnya perut kita agak puyeng, rasanya sedikit mual, dan rasanya kepengen kentut saja. Namun kentut yang seharusnya keluar itu ditahan. Apakah itu sehat? Apakah seharusnya seperti itu? Tentu sebaiknya ya dikeluarkan saja kentutnya, karena memang perut menghendakinya seperti itu. Orang yang nggak bisa kentut malah ada yang harus sampai masuk rumah sakit lho! Pun demikian dengan Kelud yang meletus. Karena memang Bumi menginginkannya seperti itu, agar perut Bumi yang sedikit puyeng menjadi lebih lega setelah kentut. Bagaimana sikap kita saat secara tak sengaja membaui ada yang kentut? Salah satu cara yang bisa dilakukan adalah pergi menghindar sejenak. Baru saat bau kentut sudah hilang, kita bisa kembali lagi. Demikian halnya dengan warga sekitar Kelud yang terkena ‘kentut’nya Kelud. Menghindarlah (baca : mengungsi) sesaat. Nanti setelah kondisi sudah tidak bau kentut lagi, silakan kembali.

Prambanan After Kelud's Ash
Penampakan salah satu bangunan candi di kompleks Candi Prambanan. Halaman luas yang biasanya penuh kerumunan manusia yang hilir mudik, saat itu berganti tertutup oleh abu vulkanik dari Gunung Kelud.

Happy 'Grey' Valentine
Abu-abu karena tertutup oleh abu vulkanik.

Bencana. Itu adalah istilah yang dibikin oleh manusia. Ya. Antroposentris. Karena segala keuntungan dan kerugian diperhitungkan atas dasar manusia. ‘Kentut’ gunung Kelud tadi adalah salah satu cara alam untuk menyeimbangkan dirinya. Menyeimbangkan apa? Menyeimbangkan agar perutnya tak lagi mual dan kembung. Mari kita samakan, antara kotoran yang diproduksi mamalia (termasuk di dalamnya manusia) dengan material vulkanik yang dikeluarkan Kelud. Bau memang bau, mengotori lingkungan sekitar ya memang. Namun coba kita pahami lebih jauh dari itu. Antara kotoran mamalia dan material vulkanik sama-sama bisa dimanfaatkan sebagai pupuk, yang bisa menyuburkan tanah. Untuk siapa kesuburan tanah itu? Pada akhirnya kembali untuk manusia. Ladang dan sawah menjadi subur, dan seterusnya. Meletusnya gunung itu juga sebagai bentuk pemulihan bagi Bumi. Tempat yang pada awalnya (sebelum letusan) ditinggali manusia dalam bentuk desa (dan macam lainnya), kemudian kembali menjadi alami seperti layaknya jaman dahulu. Ya, manusia memang meng-okupansi tempat yang bukan seharusnya untuk manusia. Dengan hal itu, bisa dianggap sebagai peringatan buat manusia agar tak seenaknya dalam ‘mengolah’ alam yang disediakan oleh Gusti ini.

Nah, apakah itu tadi Gusti Maha Pemarah? Tentu tidak. Gusti itu Maha Lucu, dengan segala yang telah Dia ciptakan dan perbuat. Dan yang tidak boleh dilupa, Gusti itu Maha Ngentut juga. Penasaran? Silakan temui dan tanya langusng ke Gusti…

Klayar, yang Tertunda


20140131-0201

Munculnya niat ke pantai Klayar sebenarnya sudah ada sejak Idul Kurban 2013 yang lalu, dan saat itu sebenarnya juga sudah mencoba bersepeda menuju ke tempat tersebut. Namun, yang namanya halangan (entah apapun itu bentuknya) bisa mengubah niat dan batal mencapai tempat tujuan.

Hari Jumat, tanggal 31 Januari 2014 bertepatan dengan Hari Raya Imlek atau tahun baru bagi kaum Tioghoa. Angka di kalender berwarnya merah, yang tentu saja artinya hari libur. Sepertinya secara spontan saja, akhirnya aku memutuskan untuk pergi menuju pantai Klayar di tanggal tersebut.

Pakaian ganti secukupnya, alat atau kunci yang berkaitan dengan onderdil sepeda, pun bekal camilan sudah masuk ke dalam tas punggung yang dimodifikasi sehingga bisa digantung di rak belakang. Pagi itu dimulai sekitar pukul 06.30, meninggalkan rumah dan mengayuh pedal.

Rute antara kota Jogja sampai ke Wonosari mungkin sudah pernah aku ceritakan, mungkin lho, entah di cerita dengan judul apa di blog ini. Jadi, kali ini aku lewati saja bagian itu.

Dari Jogja menuju kota Wonosari, kemudian terus mengarah ke timur menuju Semanu, Bedoyo, kemudian Pracimantoro. Pracimantoro sudah termasuk wilayah kabupaten Wonogiri, Jawa Tengah. Lalu masih menuju ke timur, ke Giribelah, berjarak sekitar delapan kilometer dari Pracimantoro.

Perempatan Giribelah bisa disebut persimpangan yang cukup ramai, karena persimpangan itu merupakan jalan utama menuju ke Pacitan, dengan jarak yang paling dekat. Jika menuju ke timur, maka kemudian akan menuju jalan utama Solo – (Wonogiri) – Pacitan. Aku sebelumnya sudah pernah melewati jalan itu. Maka kali ini aku mencoba ke arah selatan, jalan yang menurut peta lebih dekat untuk bisa sampai ke pantai Klayar.

Kata seorang ibu penjual angkringan yang aku singgahi saat di Giribelah, dari Giribelah, pusat keramaian berikutnya adalah Paranggupito, sebuah kecamatan di Wonogiri, dari Giribelah sekitar sepuluh kilometer. Di kilometer pertama dari Giribelah adalah sebuah tanjakan panjang. Tak perlu cepat-cepat, yang penting konstan dan kontinyu dalam kayuhan. Jalanan aspal halus hanya sekitar lima kilometer saja. Selanjutnya bisa kusebut sebagai ‘aspal swadaya desa’. Di beberapa bagian ada yang berlubang. Bagi motor atau mobil mungkin hal tersebut bisa diatasi, namun bagi sepeda dengan fork rigid dan penuh muatan pannier? Ya kita harus lebih berhati-hati saja lagi.

In The Middle of Nowhere
Jalan sempit di tengah ‘hutan’, yang konstan dengan tanjakan dan turunan, di antara Paranggupito dan Kalak.

Bisa kubilang, jalanan aspal desa yang berlubang antara 3 km sebelum Paranggupito hingga 5 km setelahnya (jika kita menuju ke arah Kalak/pantai Klayar). Sekitar 5 km setelah Paranggupito, maka kita mulai masuk wilayah provinsi Jawa Timur. Batas antara Jawa Tengah dan Jawa Timur tak semegah di jalan raya antara Giribelah – Donorojo, yang gerbangnya besar dan kemudian dilanjutkan dengan aspal yang sangat halus. Perbatasan yang kulewati hanyalah sepasang gapura sederhana, seperti layaknya gapura antardesa.

Setelah perbatasan tersebut, jalan aspal desa sudah lebih halus dari sebelumnya. Meskipun masih dengan lebar jalan yang hampir sama, namun lebih sedikit ditemui lubang-lubang di jalan. Pun setelah masuk Jawa Timur, jalanan rata-rata mulai menurun, tak banyak tanjakan. Apalagi sekitar satu kilometer sebelum sampai Pasar Kalak, di kiri-kanan jalan sudah ada ‘peradaban’ alias perkampungan penduduk, di sebelah selatan sudah tampak birunya Lautan Hindia.

5 km to Klayar

Pasar Kalak adalah sebuah pasar desa yang letaknya di sebuah pertigaan, jika ke barat menuju Paranggupito (di mana aku lewat), jika ke timur menuju Punung atau kota Pacitan, dan jika ke selatan menuju arah pantai. Setelah istirahat sebentar, aku pun meluncur ke selatan menuju pantai. Pantai Klayar, aku datang.

Seperti kebanyakan pantai di Gunungkidul, jalanan menuju pantai adalah turunan. Ada beberapa tanjakan, namun tak sebanding dengan turunannya. Pikirku, “Ah, payah ini besok kalau pulang. Isinya tanjakan semua.” Biarlah, yang penting sudah bisa merasakan Pantai Klayar.

Persis lima kilometer, sampai juga di tepi pantai Klayar. Saat itu masih sore, sekitar pukul 4 sore. Masih banyak mobil dan motor pengunjung pantai terparkir rapi, pun dengan warung-warung yang ada, penuh dengan pengunjung. Lha aku mau parkir sepedaku di mana ini?

Pasar Akik
Pasar Akik di Pantai Klayar, buka dari sekitar jam 9 pagi sampai jam 5 sore.

Setelah beberapa jepretan, kutuntun sepedaku lebih jauh lagi ke arah timur, menyusuri pasir putih pantai itu. Sekitar 200 meter dari tempat aku mengambil beberapa jepretan tadi, sampai juga di sebuah warung makan yanghampir tutup, dan kemudian aku minta ijin untuk numpang menginap di terasnya untuk malam itu.

On The Beach

Dan memang namanya kebetulan, ketika kemudian ngobrol-ngobrol dengan seorang warga setempat, Pak Sandimun namanya, yang kemduian menawariku untuk numpang di penginapannya yang sedang dibangun. Ya sudahlah.

My Lodge

Keesokan paginya, aku terbangun karena alarm yang tetap berbunyi di telepon genggamku. Sepertinya semalam lupa agar tidak kusetel saja. Tapi, karena sudah terbangun, ya kemudian dilanjutkan saja agar tidak tanggung-tanggung.

Cuaca di pantai Klayar pagi itu agak sedikit mendung. Tapi tak seperti semalam yang sempat beberapa kali hujan secara tiba-tiba, deras pula. Ombak di pantai pun sudah jauh surut jika dibandingkan malam hari sebelumnya.

Matahari yang tertutup awan menjadikan suasana pagi itu terasa lebih dingin, tidak seperti saat cuaca cerah sepenuhnya. Namun karena faktor mendung itulah, ada beberapa gambar yang menurutku menjadi lebih menarik.

My Favourite Capture

IMG_0036 db

Another Side of Klayar

Satu bagian pantai yang paling menarik sering disebut dengan ‘seruling samudera’, kalau diubah ke bahasa Inggris jadi ‘ocean’s flute’, sedikit terdengar lebih keren. Sebenarnya, apa itu seruling samudera? Sebagian penjelasannya ada di sebuah papan yang ada di pantai itu.

Situs Pantai Klayar

Penjelasan secara gampangnya mungkin seperti ini. Di bagian pantai yang berupa batuan karang, saat ada ombak besar menghempas ke bagian bawah batuan, maka akan menyembur air hempasan tersebut melewati celah kecil yang ada di batuan karang itu. Semburan air itu tampak seperti air mancur. Seringnya, air yang ‘muncrat’ dari celah batu karang itu tak begitu tinggi, namun kadang juga bisa lebih tinggi dari sekitar sepuluh meter dan terdengar juga suara khas. Mungkin dari suara khas yang tersengar itulah kemudian dinamakan dengan seruling samudera. Namun sayangnya, saat itu tak terjadi semburan yang begitu tinggi dan tak terdengar suara semburannya, atau mungkin saja suaranya kalah keras dibandingkan suara deboran ombak yang selalu menghantam tepi batuan karang.

Ocean Flute
The Ocean’s Flute.

Sebelum jam 6 pagi, suasana di sekitar titik itu masih sepi. Hanya sekitar lima orang saja yang berfoto dengan latar belakang air semburan itu. Namun hanya selisih sekitar 30 menit, lebih banyak rombongan yang mendatangi tempat itu.

Ocean Flute and The Tourists

Sebelumnya, aku pernah melihat foto pantai Klayar dilihat dari tempat yang lebih tinggi. Lalu aku pun bertanya kepada seorang nelayan yang kebetulan saat itu sedang menunggui warungnya. Dari penjelasan nelayan itu, ditunjukkanlah jalan setapak yang tak begitu jauh memutar, hingga pada akhirnya sampai juga di atas bukit di sebelah utara titik tempat air menyembur itu. Yayayaya, memang itulah tempatnya. Dari tempat itu bisa dilihat ‘seruling samudera’, hamparan pasir putih Klayar dari kejauhan, dan pantai di sebelah timur pantai Klayar.

East of Klayar
Bagian sebelah timur dari Pantai Klayar.

Klayar seen from The East Hill
Pantai Klayar dilihat dari atas bukit di sebelah timur.

Setelah beberapa saat memuaskan hasrat menikmati pemandangan dari ketinggian, aku pun kembali turun dan menuju ‘penginapan’ lagi.

Before The Waves
Sebelum ombak menerjang pasir putih pantai.

Sebelum pukul 8 pagi, segala sesuatunya sudah siap. Namun sebelum pulang, sejenak waktu kuhabiskan mengobrol dengan Pak Sandimun. Dari obrolan itu, jadi tahu kalau salah seorang menantu Pak Sandimun adalah orang Jogja, dan tinggal di daerah Kotagede. Yayaya, mungkin itulah salah satu hal yang membuat Pak Sandimun kemudian menawarkan untuk menginap di tempatnya yang belum jadi, karena tahu aku juga dari Jogja.

Pak Sandimun
Pak Sandimun.

Yayayaya…..

Sekitar jam 9 pagi aku pun pulang. Tanjakan hampir sejauh 5 km sudah menanti. Dan memang kenyataannya, sepanjang 5 km menuju Kalak, aku memang lebih banyak nuntun sepeda daripada menaikinya. Nggak kuat…..

Awal perjalanan pulang hari itu dipenuhi tanjakan dan turunan yang terlalu keren. Baru setelah sampai Giribelah (lagi), rasanya sudah sedikit lebih lega. Hari itu, aku mengambil jalur pulang yang berbeda. Saat berangkat sehari sebelumnya, aku lewat Wonosari dan kemudian tembus ke Pracimantoro. Hari itu, dari Pracimantoro menuju Wonogiri. Meskipun jaraknya lebih jauuuh, namun tanjakan dan turunan jauh banyak berkurang.

Near Gajahmungkur
Pemandangan di perjalanan pulang. Sebagian kecil dari Waduk Gajahmungkur dan bukit yang pada akhirnya masuk wilayang Gunungkidul.

Sore itu, 1 Februari menjelang malam Minggu, sekitar menjelang maghrib, aku sampai juga di daerah Cawas. Wouwouwouwo, rasanya lega, meskipun untuk sampai Jogja masih jauh. Namun dari situ sudah bisa dipastikan titik-titik istirahat selanjutnya (Bayat, Wedi, Srowot, Prambanan), hingga akhirnya Jogja. Sampai…..

Ngobaran & Nguyahan yang Bertetangga


20140126

Memang benar bahwa kedua pantai itu letaknya saling berdampingan alias jejeran dalam bahasa Jawa-nya. Namun dari kejauhan, plang nama yang sering terlihat adalah pantai Ngrenehan dan Ngobaran. Pantai Ngrenehan sendiri letaknya sekitar satu kilometer di sebelah timur Ngobaran. Baru di persimpangan terakhir sebelum sampai pantai, ada tulisan pantai Ngobaran dan Nguyahan.

Pantai Ngobaran terletak di deretan pantai selatan kabupaten Gunungkidul. Seperti pada umumnya pantai di Gunungkidul, Ngobaran juga mempunyai pasir putih. Apalagi di pantai Nguyahan, pasir putih terbentang lebih luas.

Ngobaran Beach
Pantai Ngobaran dan pura-nya, dilihat dari atas bukit di sebelah barat pantai.

Suasanan di pantai Ngobaran bisa dibilang ada miripnya dengan di Bali. Di dekat tempat parkir dan warung terdapat semacam pura dan pelatarannya untuk ibadah para pemeluk agama Hindu. Selain itu juga terdapat beberapa arca dari dewa-dewa dan beberapa tokoh pewayangan. Dari pelataran tersebut, pengunjung bisa menuruni jalan setapak menuju bagian bawah pelataran dan batuan tebing yang menjulang. Beberapa batu karang yang cukup besar bisa menjadi penghalang dari ombak yang sesekali mencapai bagian bawah dari tebing.

Another Side of The Beach
Di bawah tebing yang membatasi Ngobaran dan Nguyahan.

Cliffs
Batuan karst, karang tepi pantai, menjadi ciri khas pantai-pantai di Gunungkidul yang memiliki tebing curam dan terjal.

Pantai Ngobaran dan Nguyahan dipisahkan oleh tebing yang lumayan tinggi. Dari atas tebing tersebut bisa dilihat pemandangan lepas pantai laut selatan Jawa. Tentu saja pantai ngobaran dan Nguyahan juga bisa kelihatan dengan jelas. Puncak tebing tersebut bukan puncak yang lancip dan sempit, tetapi datar dan lumayan luas. Sebuah tenda mungkin bisa didirikan di sana. Juga ada semacam bangunan yang dikelilingi oleh tembok yang lumayan tinggi, kalau tak salah itu juga salah satu bagian dari pura yang ada di bawahnya.

Valley & The Cultivated Land
Lembah di sebelah utara pantai Nguyahan yang dimanfaatkan masyarakat sekitar sebagai ladang.

Pantai Nguyahan memiliki luasan pasir putih yang lebih luas, sehingga lebih cocok jika digunakan untuk bermain air atau keceh. Pun dari kejauhan terlihat lebih landai. Jalan setapak antara Ngobaran dan Nguyahan banyak terdapat warung-warung yang menyajikan menu khas laut.

Nguyahan Beach
Pantai Nguyahan dan warung-warung di sekitarnya.

Ngobaran dan Nguyahan bisa menjadi pilihan alternatif untuk dituju saat liburan, karena kebanyakan orang-orang saat ini lebih familiar dengan Baron atau pun Indrayanti, yang tentu saja akan sangat ramai dan penuh sesak saat libur tiba. Salah satu hal yang masih kurang adalah jalan menuju pantai-pantai tersebut tak terlalu besar, sehingga mungkin agak susah jika kendaraan besar ingin lewat jalan tersebut.

Sekali-kali keluar malam Tahun Baruan boleh, kan…


20140107

Tahun baru memang hanya terjadi setahun sekali. Maka tak ada salahnya jika sekali-sekali keluar melihat pemandangan ramainya kota Jogja. Aku menyebutnya ‘sekali-sekali’, karena tidak setiap tahun saat pergantian tahun keluar dari rumah dan melewatkan malam di suatu tempat.

Jika dibandingkan dengan beberapa tahun sebelumnya, menurutku tahun ini adalah liburan Natal dan Tahun Baru yang paling ramai di Jogja. Sudah sejak sekitar seminggu sebelum Natal, jalanan di kota Jogja sudah diramaikan oleh kendaraan ber-platnomor luar kota Jogja, alias bukan ‘AB’. Kalau tidak salah, di sebuah koran lokal menuliskan bahwa di akhir tahun ini Jogja menjadi kota tujuan utama para turis lokal untuk menikmati pergantian tahun, mengalahkan Bali dan Bandung. Sekitar empat juta orang (katanya) datang ke Jogja.

Kawasan kota Jogja sudah tentu jadi begitu ramai. Apalagi bertepatan juga dengan adanya Pasar Malam dalam rangka perayaan Sekaten. Malioboro dan Alun-alun Utara Kraton Yogyakarta penuh sesak oleh kendaraan dan orang-orang.

Kebetulan pula ada dua saudara sepupu yang sedang liburan dan tinggal beberapa hari di rumah. Dan mereka ingin merasakan suasana tahun baru di Jogja. Bagiku, masuk ke wilayah kota sudah tidak menjadi pilihan, ya karena saking ramainya itu tadi. Jadi, kuputuskan untuk mencoba dan mencari suasana lain di Bukit Bintang, sedikit sebelum mencapai puncak Bukit Patuk, Gunungkidul.

New Years Eve at Bukit Bintang
Suasana keramaian salah satu warung di Bukit Bintang, dengan latar belakang pemandangan Jogja di malam hari.

Dari rumah Kalasan sampai Bukit Bintang jaraknya sekitar 15 km. Setelah sampai di Bukit Bintang, ternyata sama saja, sama-sama ramainya. Jalan aspal 3 lajur (2 naik dan 1 turun) penuh sesak oleh kendaraan, hampir-hampir tak bergerak karena saking macetnya. Bau menyengat kampas rem begitu mengganggu. Di kanan-kiri jalan sudah penuh sesak oleh orang-orang yang ingin melewatkan suasana pergantian tahun di tempat itu.

Akhirnya, setelah beberapa saat menikmati kemacetan yang hampir tak bergerak, kami dapat juga tempat untuk parkir sepeda motor. Halaman rumah orang yang mulanya biasa-biasa saja disulap menjadi tempat parkir yang diterangi lampu sorot.

Couple
Sepasang muda mudi menunggu waktu pergantian tahun.

Sedikit berjalan kaki dari tempat memarkir motor, kami berempat, aku, adikku dan dua orang sepupuku masuk dan duduk di salah satu warung yang ada di situ. Meskipun dari luar sudah terlihat penuh sesak, masih ada sedikit tempat yang cukup untuk kami berempat. Tapi suasana tahun baru memang berbeda. Jika dibandingkan dengan hari biasanya, parah-parahnya pas malam Minggu, suasana malam itu begitu penuh sesak. Bahkan ada pula yang masih kebingungan mencari tempat yang masih lumayan lapang. Selain beda suasana, ada satu hal lain yang mencolok. Ada biaya duduk untuk pengunjung warung yang datang setelah jam 9 malam! Ya, biaya duduk. Untuk sekedar duduk saja harus membayar Rp. 25000. Itu belum ditambah jika masih ingin memesan makanan atau minuman. Ealah….. Sesuatu yang sangat spesial di malam tahun baru.

Extraordinary Seats
‘Extra seats’.

Dua jam menunggu mendekati tengah malam tak begitu terasa lama karena banyak orang berseliweran di luar warung. Di dalam warung pun ada beberapa orang yang tidur lebih dulu sebelum tiba tengah malam.

Mendekati jam 12 malam, orang-orang sudah semakin berkumpul untuk menikmati pemandangan kota Jogja (meskipun hanya terlihat kelap-kelip lampu). Di beberapa tempat terlihat sudah ada yang menyalakan kembang api. Kebanyakan hanya berupa kembang api yang dinyalakan kecil-kecilan. Namun ada juga yang terus menerus hingga sekitar 15 menit dan terlihat lebih bervariasi dalam jenis kembang apinya.

View of Jogja from Up The Hill
Beberapa saat setelah tepat tengah malam. Kembang api di kejauhan yang tampat begitu kecil, dan kegembiraan pasangan yang melewatkan pergatian tahun bersama.

Awalnya, kupikir akan terlihat semarak dan menjadi sedikit lebih terang saat orang-orang bersamaan menyalakan kembang apinya. Ternyata kembang api dari jauh kelihatan hanya seperti cipratan kecil di sudut frame. Ternyata tak seberapa.

Crowded Road
Suasana di luar warung, yang dipenuhi kendaraan baik roda 4 maupun roda 2.

Tapi tak apa-apa. Tahun baru hanya terjadi setahun sekali. Tak ada salahnya sekali-kali menikmati pemandangan malam hari dan menikmati kemacetan di tempat yang biasanya lancar-lancar saja, ditemani bau menyengat kampas rem. Hahaha.

Merapi, yang jadi petunjuk arah buat orang Jogja


20131227

Dari judul post ini, buat orang Jogja, Merapi bisa jadi petunjuk arah. Ya, memang benar. Merapi menjadi petunjuk arah utara. Di Jogja, semakin ke utara, semakin bertambah pula ketinggian tempatnya. Maka orang sering bilang kalau dari kota mau pergi ke Jalan Kaliurang km. 10 yang belum terlalu tinggi letaknya, ‘munggah’ alias ke atas. Ya, karena memang lebih tinggi daripada ketinggian di kota Jogja. Dan akan lebih terasa saat dicoba dengan bersepeda, karena jalanannya yang nanjak.

Sebenernya ini cuma sekedar iseng posting, buat nambah-nambah postingan di WordPress. Iseng-iseng juga membuka beberapa upload-an foto yang agak lama di Flickr, ada beberapa foto Merapi. Objeknya sama, Merapi, namun yang berbeda adalah tempat dan kesannya.

Sun on The Path
Potret ini diambil dari jalur pendakian Merapi via New Selo, lereng utara Merapi. Para pendaki tampak mengular di sepanjang jalur pendakian.

Such Kind of Lake and The Volcano
Dengan memakai kamera telepon genggam yang hanya 2 MP. Sebenernya pengen lebih di-zoom sedikit. Namun apa daya, perangkat kurang bisa memadai.

Merapi from Distance
Gambar ini dijepret dari Jembatan Baru sebelah barat Fakultas Teknik UGM, saat pulang dari Mlati, dan iseng-iseng susur Selokan Mataram.

Just Another View of Mount Merapi
Setelah semalam sebelumnya hujan yang terus-terusan, pagi hari setelahnya Merapi menampakkan wujudnya, juga Merbabu yang selalu setia berada di sisi barat lautnya. Sawah dan ladang di sekitaran Mlati, Sleman, yang tampak hijau sebagai latar depannya.

Meskipun objeknya selalu sama, rasanya tak pernah bosan mengagumi sebuah ciptaan Gusti itu…..

…yang katanya Tanjakan Cinomati


Suatu ketika saat sepedaan bareng, seorang teman bertanya padaku, “Di mana sih tempat yang katanya tanjakan Cinomati itu? Kok banyak orang yang bilang kalo tanjakannya maut…” begitu pertanyaannya kalau tak salah ingat.

Kembali ke hampir empat tahun yang lalu, sekitaran bulan-bulan awal tahun 2010. Saat itulah aku pertama kali tahu yang namanya tanjakan Cinomati. Ya, memang tanjakan, kalau kita melewatinya dari bawah ke atas. Hehehee. Waktu itu bareng dengan rombongan sepeda Pelem Kecut yang salah seorang warganya punya acara di daerah Dlingo.

At The Corner of The Street
Di sudut tikungan jalan setelah sekitar 100 meter tanjakan yang curam.

Tanjakan Cinomati letaknya di sebelah timur Pleret. Dari pasar Pleret terus menuju ke selatan mengikuti jalan aspal yang ada. Kemudian jalan aspal utama belok arah sedikit ke timur, hingga bertemu pertigaan kecil yang menunjukkan arah, jika ke utara ke arah Piyungan, ke selatan ke Imogiri. Ambil arah ke utara, hingga bertemu pertigaan lagi yang jika berbelok ke timur langsung dihadapkan dengan tanjakan. Nah, di situlah tanjakan-tanjakan yang patut dicinta dimulai.

The Down (from above)
Jika dilihat dari atas, 100 meter yang curam hanyalah sebuah turunan.

Sebenarnya jaraknya tak jauh. Dari pertigaan tersebut sampai perempatan Terong atau biasa orang menyebutnya ‘pertigaan ringin’, karena memang ada pohon beringinnya, hanya sekitar 3 km. Namun 3 km tersebut bisa dibilang 3 km yang luar biasa. Luar biasa untuk dengkul yang tak terbiasa. Yayayaya. Motor atau mobil pun harus masuk gigi 1 untuk bisa melewati tanjakan itu.

Bisa dibilang teramat curam, namun banyak orang yang melewati jalan itu. Karena memang jalan tersebut adalah jalan yang menghubungkan Dlingo dengan Pleret atau Dlingo dengan Imogiri.

Jika masih penasaran dengan tanjakan atau turunan ‘luar biasa’ yang ada di Jogja, Cinomati ini bisa jadi salah satu tempat yang patut dijajal untuk meng-upgrade kekuatan dengkul dan kemahiran shifting gigi.

Lots of Curves
Bersiap-siaplah menghadapi banyak tikungan.

Jangan khawatir dengan rasa capek yang tentu saja bakal didapat karena medan yang curam. Pemandangan lanskap wilayah Bantul siap menerpa mata pesepeda yang sudah kriyip-kriyip dan bertetes peluh. Apalagi jika cuaca mendukung, tak terlalu panas dan saat tak berkabut.

View from The Corner
Pemandangan wilayah Bantul dari salah satu tikungan yang ada di sepanjang jalan 3 km tersebut.

Oyez!! Reminiscences of mine..

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 1,105 other followers

%d bloggers like this: